Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~ 24 (Pernikahan Cut & Ihsan)



...Hei-hei aku update pagi nih. Ayo ramein biar aku update lagi nanti. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya....


...Happy reading...


****


Hari sudah berganti hari dan hari ini adalah hari bahagia Cut maupun Ihsan karena pagi ini keduanya akan melangsungkan pernikahan. Dengan gaun pernikahan berwarna putih dengan hijab yang senada membalut tubuh ramping Cut membuat gadis itu terlihat sangat cantik apalagi Cut terus menampilkan senyuman bahagianya.


Semua keluarga Cut yang berada di Jakarta maupun di Aceh sudah berada di Medan sejak dua hari yang lalu. Mereka ingin menyaksikan kebahagiaan anak dari Sultan yang tidak pernah terlihat pacaran yang mengejutkan lagi Cut langsung menikah dengan dosennya sendiri tanpa melewati proses pacaran terlebih dahulu.


"Cantik sekali anak Mama," ucap Ika dengan terharu. Anak kecil yang dulu menangis memeluknya kini sudah menjadi gadis yang akan menikah beberapa menit lagi. Gadis yang ia sayangi seperti anak kandungnya sendiri sama seperti Reisya dan Meisya. Ya adik bungsu Cut memiliki nama tengah yang sama dengan Cut karena Meisya sangat mirip dengan Cut. Sultan yang saat itu sangat merindukan anaknya akhirnya memberikan nama anak bungsunya seperti nama anak pertamanya hanya saja sedikit ada perbedaan. Cut Meisya Rahardian dan Cut Meisyana Rahardian.


"Mama," gumam Cut dengan berkaca-kaca.


"Iya, Sayang. Mama di sini! Mama bahagia bisa melihat kamu menikah dengan lelaki yang tepat seperti Ihsan," ucap Ika dengan terharu. "Jangan nangis nanti make up-nya luntur," lanjut Ika dengan sedikit bercanda agar suasana yang tadinya melow bisa kembali terasa menyenangkan walau hati Ika merasa sulit melepaskan anak gadisnya tersebut.


"Kok masih di sini kesayangan Papa. Ihsan sudah menunggu di sana," ucap Sultan memasuki kamar hotel anaknya. "Cantik sekali kamu, Sayang. Mirip seperti mama kamu," puji Sultan memeluk anak pertamanya dari mendiang istri pertamanya.


Di dalam lubuk hati Cut juga merindukan mama kandungnya tetapi ia menutupi itu semua dengan senyuman manisnya agar semua orang tidak merasa sedih. Lagi pula Ika adalah mama terbaik pengganti mama kandungnya dan Cut sangat menyayangi Ika terlebih Sultan sangat mencintai Ika.


"Cuma Cut nih yang diajak pelukan!" rajuk Ika bercanda.


Sultan terkekeh ia membawa Ika ke dalam pelukannya dan mencium kening keduanya dengan penuh sayang.


"Papa, Mama, Kakak!" teriak ke-empat anaknya dengan serempak. Sultan dan Ika melihat ke arah Rifki, Rizki, Reisya, dan Meisya. Ke-empatnya ikut berhambur memeluk Cut.


"Sudah-sudah kasihan Kakak kalian nih," ucap Ika dengan lembut akhirnya mereka melepaskan pelukan mereka.


"Kak Cut cantik banget," puji Reisya dan Meisya.


"Iya dong. Siapa dulu mamanya," ucap Ika dengan terkekeh. Cut hanya tersenyum menanggapi ucapan kedua adiknya.


"Ayo kita temui Ihsan yang sudah menunggu sejak tadi," ucap Sultan dengan tegas.


Cut kembali dilanda rasa gugup saat Reisya dan Meisya menggenggam kedua tangannya untuk berjalan menemui Ihsan. Sedangkan Sultan dan Ika berjalan di belakang anak-anaknya. Keduanya saling menatap dengan dalam dan tersenyum lembut pada akhirnya.


"Kita sudah tua ya Ma. Rasanya baru kemarin aku menyaksikan kamu melahirkan," ucap Sultan dengan lirih.


Ika bergelayut manja di lengan suaminya. "Iya Pa. Kita sudah tua sebentar lagi kita juga akan memiliki cucu dari Cut dan Ihsan," jawab Ika dengan tersenyum.


"Senyum sayang sebentar lagi kamu akan menyaksikan anak kita menikah," ucap Sultan dengan lembut dan Ika mengangguk walau di hati keduanya merasa belum rela melepas Cut kepada Ihsan.


****


Ihsan memandang Cut dengan dalam saat gadis itu mendekat ke arahnya. Kegugupannya semakin bertambah saat Sultan sudah duduk di hadapannya.


"Sudah bisa kita mulai?" tanya penghulu kepada kddua mempelai.


Ihsan mengangguk dengan mantap sedangkan Cut hanya tersenyum dengan gugup, ia tidak berani menatap ke arah Ihsan sedikit pun. Cut terus menunduk hingga Ihsan menjabat tangan Sultan dengan tegas.


"Saya nikahkan engkau (ananda) Muhammad Ihsan Al-Ghazali bin Anton Al-Ghazali dengan anak saya yang bernama Cut Meisya Rahardian binti Sultan Rahardian dengan mas kawin mas murni seratus gram dan uang tunai sebesar seratus juta dua ratus dua pulih ribu rupiah dibayar tunai," ucap Sultan dengan tegas.


"Saya terima nikah dan kawinnya Cut Meisya Rahardian binti Sultan Rahardian dengan mas kawin tersebut tunaiii," jawab Ihsan dengan satu tarikan napas.


"Sah?"


"Sah."


"Sahhh..."


"Alhamdulillah."


Ihsan dan Cut bernapas dengan lega. Keduanya mengkat kedua tangannya dan mengusapkannya ke wajah sambil mengucapkan alhamdulillah.


Ihsan dan Cut bertukar cincin dengan perasaan bahagia setelahnya Cut mencium tangan Ihsan dengan lembut dibalas dengam Ihsan yang mencium kening Cut yang beberapa detik lalu sudah menjadi istri sahnya di mata hukum dan agama.


"Mama terharu, Sayang. Akhirnya kakak kamu sudah menikahi," balas Ika dengan lirih.


Kembali kepada Ihsan dan Cut. Ihsan menggenggam tangan Cut dengan erat, detak jantungnya kembali menggila kala tangan lembut milik Cut sudah ia bisa genggam dengan erat. Keduanya dibantu oleh Reisya dan Meisya untuk naik ke atas pelaminan dengan perlahan.


"Hati-hati, Sayang," ucap Ihsan dengan lembut.


"Iya, Bang," jawab Cut dengan tersenyum.


"Kakak, Abang jangan bermesraan di depan Reisya dan Meisya. Bikin iri saja," ucap Reisya protes dengan kemesraan kedua kakaknya.


"Masih kecil gak boleh iri. Nanti juga kalian akan merasakannya. Ya kan, Sayang?" ucap Ihsan dengan terkekeh.


"Betul. Gak boleh iri-irian," ucap Cut dengan tersenyum.


"Iya deh yang sudah sah. Berasa dunia milik berdua," jawab Reisya mengalah.


Ihsan dan Cut hanya bisa terkekeh. Setelah obrolan mereka Ihsan juga membantu istrinya untuk membenarkan gaun Cut yang panjang tersebut hingga Cut duduk nyaman di singgahsananya dalam sehari ini. Pesta pernikahan yang terkesan mewah dengan dihadiri semua kerabat Sultan dan juga Anton memenuhi gedung tempat dilaksanakan pernikahan Ihsan dan juga Cut.


Dari kejauhan Ulan sejak tadi merekam video pernikahan kedua keponakannya. Senyum jahil tampang tersungging jelas di kedua bibirnya.


"Bunda kok main ponsel terus sih?" tanya Alan menghampiri sang istri.


"Aku lagi merekam hari bahagia keponakan kita, Mas. Sayang kalau gak diabadikan," ucap Ulan dengan asal.


Alan mengerutkan keningnya. "Kamu ini aneh, Sayang. Kan sudah ada kameramen yang akan mengabadikan moment bahagia hari ini," ucap Alan dengan bingung.


"Hus..Mas lebih baik diam! Aku mau mengirimkannya kepada keponakan Mas yang tidak peka dengan perasaan keponakanku. Gadis cantik seperti Cut ditolak nyesel tuh tuh anak pasti," ucap Ulan dengan ketus.


"Maksud kamu Dio?" tanya Alan menatap istrinya.


"Iyalah siapa lagi keponakan Mas yang gak peka itu. Awas saja, aku akan membuat Dio menyesal telah menolak Cut," jawab Ulan dengan ketus.


Alan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menatap kelakuan istrinya. Padahal dulu Ulan yang sering mendekatkan keduanya tetapi istrinya sekarang tampak sangat kesal dengan Dio.


"Selesai! Tinggal aku kirim kepada Dio. Huh dasar keponakan durjana untung saja Cut sudah mendapatkan lelaki yang sempurna dan sangat tampan lagi," gumam Ulan yang masih bisa didengar oleh Alan.


"Sudah tua jangan genit-genit sama suami keponakan sendiri," ucap Alan dengan ketus.


"Aku masih cantik Mas. Wajar kalau semua lelaki masih menatapku dengan kagum," ucap Ulan semakin memanas-manasi suaminya.


"Yakkk..Awas saja setelah pesta ini selesai aku akan membuatmu mendes*h sampai pagi kalau perlu Elang dan Jihan mempunyai adik lagi," ucap Alan dengan kesal.


"Hehehe suamiku yang tampan jangan marah-marah lagi ya. Tadi aku hanya bercanda," ucap Ulan bergelayut manja di lengan suaminya. Alan hanya mendengkus menanggapi ucapan sang istri, makin tua makin jahil saja dan sayangnya Alan semakin mencintai istrinya ini.


"Kalian ini sudah tua ribut saja!" ucap Saera dengan menggelengkan kepalanya. "Ayo kita ke pelaminan sesi potret keluarga akan segera dilakukan," lanjut Saera.


"Hehehe iya Bunda Sayang," jawab Ulan dengan terkekeh.


Akhirnya Ulan, Alan dan semua keluarga naik ke pelaminan untuk melukan sesi pemotretan bersama dengan kedua mempelai.


"Centang biru. Akhirnya video pernikahan Cut dan Ihsan sudah ditonton dengan Dio. Bude pastikan kamu menyesal telah melepaskan Cut, Dio. Maaf kali ini bude gak berpihak sama kamu. Bude gak suka lelaki gak tegas yang hanya bisa menyakiti wanita sebaik keponakan Bude itu," gumam Ulan di dalam hatinya setelah melihat ponselnya kembali.


Ulan menatap Dirga yang berada di dekatnya. "Dirga, kamu harus belajar dari pengalaman kak Dio ya. Jangan jadi lelaki bodoh," bisik Ulan kepada Dirga.


Dirga yang sifatnya lebih dingin dari Leon hanya menatap Ulan dengan sekilas. "Dirga pintar!" jawab Dirga dengan muka datar.


"Ooo astaga. Kenapa aku disekilingi lelaki tampan keturunan beruang kutub semua?"


Dirga hanya menatap tantenya dengan sekilas lalu ia berpindah di sebelah Leon.


"Kenapa?" tanya Leon kepada anaknya.


"Tante Ulan gila, Yah!" jawab Dirga seenaknya.