
...Jangan lupa ramaikan part ini ya. ...
...Happy reading...
****
Cut di bawa ke ruangan khusus terapi ECT yang akan dilakukan oleh Dio dan dokter yang lainnya.
Sultan menatap anaknya dari balik jendela besar. Ia memeluk Mashita dan Ika dengan erat saat melihat dengan jelas ketika Dio dan dokter di dalam sana sudah mulai mekakukan terapi pada Cut oleh alat listrik yang membuat tubuh anaknya bergetar dan pasti akan mempengatuhi kinerja otak anaknya.
"Kek, kenapa tubuh bunda bergetar?" tanya Mashita dengan takut.
"Gak apa-apa, Sayang. Sebentar lagi bunda akan sembuh. Iya kan, Nek?" tanya Sultan berusaha tersenyum di depan Mashita padahal hatinya merasa kalut karena setelah ini pasti Cut akan melupakan sebagaian ingatannya di masa lalu.
"Iya benar. Bunda akan sembuh setelah ini, Sayang!" ujar Ika dengan menyeka air matanya dengan kasar. Padahal Ika ingin sekali menjerit sekarang. Kenapa anaknya bernasib seperti ini?
"Mashita harus janji setelah bunda sembuh, Shita harus panggil om Dio dengan sebutan ayah karena om Dio sudah baik kepada bunda," ucap Sultan dengan lembut. Padahal kenyataannya agar Cut tidak bertanya siapa Mashita nanti yang pasti akan membuat Mashita bersedih karena bundanya akan melupakan Mashita.
"Gimana dengan ayah Ihsan, Kek?" tanya Mashita dengan sorot mata yang sangat sayu.
Sultan dan Ika saling memandang satu dengan yang lainnya, keduanya juga tak tahu harus menjawab bagaimana kepada Mashita. Cucunya itu harus mengalami cobaan yang cukup berat di dalam hidupnya.
"Ayah Ihsan pasti bahagia karena Mashita punya ayah lagi yang bisa jagain Mashita di sini. Kalau ayah Ihsan akan jagain Mashita dari surga," jelas Ika dengan menahan isakannya.
"Oo gitu ya, Nek?! Shita akan panggil om Dio dengan sebutan ayah supaya bunda cepat sembuh," ucap Mashita dengan polosmya yang membuat kakek dan neneknya hanya bisa tersenyum miris.
Ika mengelus rambut Mashita dengan lembut. "Anak pintar!" ucap Ika dengan tersenyum tipis.
*****
Cut menatap sekelilingnya dengan perasaan yang amat bingung. Kenapa dirinya bisa di rumah sakit?
"Bang Dio!" panggil Cut dengan pelan.
Dio menatap Cut dengan tersenyum. Ia sudah selesai melakukan terapi pada Cut dan pasti wanita di depannya ini sedang merasa kebingungan.
"Iya, gimana keadaan kamu sekarang?" tanya Dio dengan lembut.
"Keadaan? Emang aku kenapa?" tanya Cut kebingungan.
"Kamu kecelakaan dan itu buat Abang serta yang lainnya cemas," jelas Dio dengan tersenyum walau kedepannya ia terus berbohong kepada Cut.
"K-kecelakaan?" tanya Cut dengan terbata ia berusaha mengingat semuanya tetapi Cut sama sekali tak mengingat kejadian itu.
"Aku gak ingat sama sekali!" ucap Cut dengan menggelengkan kepalanya frustasi.
"Gak usah dipaksa!" ucap Dio mengelus tangan Cut.
Cut menatap tangan Dio. Ia merasa ada yang aneh saat Dio menggenggam tangannya, dengan cepat Cut menarik tangannya. Entah mengapa Cut merasa bersalah pada seseorang saat Dio menyentuh tangannya tetapi Cut tak tahu seseorang itu siapa.
Dio menatap sendu ke arah Cut tetapi itu tidak berlangsung dengan lama karena Dio seketika tersenyum manis saat melihat Mashita masuk ke ruangan rawat Cut bersama dengan Sultan dan Ika.
"Bunda!" panggil Mashita dengan bahagia tetapi respon Cut tetap sama ia kebingunan dengan anak kecil di depannya yang memanggilnya dengan sebutan 'bunda'.
"B-bunda? Kamu siapa?" tanya Cut menatap Mashita dengan dalam.
Dio menatap Mashita. Ia yang tanggap langsung menggendong Mashita.
"Bunda lupa mashita?" gumam Mashita dengan lirih.
"L-lupa? Ma, Pa jelaskan ke Cut ini semua gimana? Cut sama sekali gak ngerti kenapa bisa di rumah sakit dan anak kecil ini..."
"Iya Mashita itu anak kamu dengan Dio. Mashita selalu menunggu kamu sadar, Sayang!" ucap Ika pada akhirnya.
"Maafkan Mama yang harus berbohong, Sayang! Ini semua Mama lakukam demi kesehatan kamu," gumam Ika di dalam hati.
"A-anak aku sama bang Dio? K-kita sudah menikah Bang?" tanya Cut merasa bersalah. "Aku sama sekali gak ingat tentang pernikahan kita. Maafkan aku!" ucap Cut yang merasa bersalah padahal menikah dengan Dio adalah cita-citanya sejak awal. Kenapa dia bisa melupakan hari bahagia itu? Apakah kecelakaannya cukup parah hingga ia lupa ingatan?
Cut berusaha mengingat semuanya tetapi tidak bisa! "Bang aku gak bisa ingat hiks... "
"Ssstt.... Jangan dipaksa ya! Yang terpenting kamu selamat! Seharusnya Abang yang meminta maaf karena kita bertengkar kamu jadi seperti ini," ucap Dio dengan tersenyum.
"Maafkan aku, Cut! Ini semua demi kebaikanmu!" gumam Dio di dalam hati.
"Dio!" tegur Sultan dengan pelan. Dio menyakinkan kedua orang tua Cut dengan anggukan kepalanya agar mereka percaya dengannya. Dio tulus membantu Cut saat ini.
"Kamu istirahat saja biar Papa, Mama, Dio, dan Mashita keluar," ucap Sultan pada akhirnya karena tidak tega terus berbohong di depan Cut.
"Cut mau sama Bang Dio dan Mashita, Pa!" ucap Cut dengan sendu. Ia ingin dekat dengan suami dan anaknya saat ini.
"Ya sudah Papa sama mama keluar ya!" ucap Ika dengan lembut.
Sultan mendekat ke arah Dio. "Jangan macam-macam dengan anak saya!" bisik Sultan dengan tajam.
"Iya, Om!" jawab Dio dengan tegas.
Sepeninggal Sultan dan Ika. Mashita masih memeluk Dio dengan erat.
"Shita kenapa, Sayang?" tanya Dio dengan lembut.
Mashita menatap Dio dengan dalam. "Shita kangen bunda, Yah! Tapi Shita gak berani minta gendong, " ucap Mashita dengan lirih yang membuat hati Cut berdenyut sakit.
"S-shita sini sama b-bunda!" ucap Cut dengan terbata.
"Beneran?" tanya Mashita dengan berbinar.
Cut menangguk. Mashita langsung meminta di gendong bundanya membuat Dio merasa sedih karena Cut melupakan Mashita.
"Abang keluar ya!" ucap Dio dengan pelan.
"Jangan!" ucap Cut dengan cepat. Ia tidak ingin ditinggal sedikit pun, ada perasaan takut dihatinya saat Dio ingin keluar.
"T-tapi..."
"Abang jangan pergi!" ucap Cut dengan mata berkaca-kaca.
"Baiklah!" ucap Dio dengan pasrah. Akhirnya ketiganya bercanda bersama walau Cut masih bingung dengan Mashita yang ternyata adalah anaknya.
****
Dio menatap Cut yang tertidur dengan memeluknya dengan erat. Harusnya Dio bahagia dengan Cut yang seperti ini? Tetapi nyatanya hatinya merasa hampa karena ia sadar ia hanya menjadi suami bohongan Cut agar Cut tidak banyak bertanya tentang Mashita sebagai anaknya.
Dengan perlahan Dio menarik tangannya tetapi Cut langsung terbangun. "Abang mau kemana?" tanya Cut dengan cemas.
"Abang mau...."
"Gak boleh pergi!" ucap Cut dengan cepat. Ia sangat takut ditinggalkan terlihat sekali dari wajahnya yang panik.
"Abang gak akan pergi!" ucap Dio tersenyum. Ia memeluk Cut dengan erat dengan perasaan bersalah.
"Tidur lagi ya!"