Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~36 (Penantian Panjang)



...Double up seperti biasa ya. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya....


...Happy reading...


****


Ihsan menggenggam tangan istrinya dengan erat. Tangan Cut masih terasa dingin yang membuat Ihsan masih merasa hatinya berdenyut sakit jika melihat kondisi istrinya sekarang yang harus dilarikan ke rumah sakit karena tiba-tiba saja tubuh Cut terasa sangat panas.


Cup...


Ihsan mengecup punggung tangan Cut dengan lembut, istrinya itu masih setia memejamkan matanya tetapi panas tubuhnya mulai menurun yang membuat Ihsan sedikit lega.


"Gimana keadaan Cut, Ihsan?" tanya Ulan yang baru saja datang bersama dengan Saera dan yang lainnya.


Ihsan menghela napasnya dengan perlahan sebelum membalas ucapan tantenya. "Alhamdulillah panasnya sudah turun, Tante. Kita tinggal menunggu Cut sadar," jawab Ihsan dengan pelan.


"Sebenarnya apa yang terjadi sehingga membuat Cut seperti ini, Ihsan?" tanya Saera dengan pelan.


Ihsan terdiam mengingat pembicaraan ia dan istrinya. "Cut banyak pikiran, Nek. Tekanan dari mama yang sangat menginginkan cucu dari kami membuat Cut seperti ini. Maafkan Ihsan, Nek. Ihsan tidak bisa menjaga Cut dengan baik," jawab Ihsan dengan lirih.


"Kamu tidak salah, San. Semua itu sudah takdir yang Maha Kuasa. Yang terpenting kamu harus menjaga Cut dengan baik," ucap Saera dengan tegas. Ia tidak menyalahkan Ihsan karena memang itu semua bukan salah Ihsan dan juga Cut.


Ihsan menangis tanpa suara, ia memeluk Saera dengan erat. "Doa kami terkabul, Nek. Dokter mengatakan jika Cut sedang berbadan dua," ucap Ihsan dengan serak.


Penantian panjang Ihsan dan juga Cut akhirnya berakhir bahagia, keduanya tidak akan mendapatkan ucapan pedas dari mama Ihsan karena saat ini Cut sedang hamil muda.


"Alhamdulillah!" ucap Saera, Ulan dan yang lainnya dengan perasaan bahagia, mereka pikir akan ada kesedihan yang mendalam di diri Cut, ternyata kebahagiaan akan datang kepada Cut dan juga Ihsan selama penantian panjang dua tahun lamanya.


"T-tapi..." ucapan Sultan tercekat saat mengingat pembicaraan dirinya dengan dokter tadi.


"Tapi kenapa?" tanya Ica dengan cemas. Semua keluarga Cut menantikan ucapan Sultan yang terhenti, raut wajah mereka tidak bisa dijelaskan ketika melihat ada kesedihan yang mendalam di diri Sultan.


"K-kandungan Cut sangat lemah," jawab Ihsan dengan pelan. "A-aku takut kami akan kehilangan dia dan membuat kondisi Cut semakin memburuk," lanjut Ihsan dengan serak.


Saera dan yang lainnya memejamkan mata dan menghirup udara sebanyak-banyaknya, ruangan ini semakin terasa sesak dengan ucapan Ihsan barusan, kebahagiaan tadi seakan lenyap entah kemana digantikan dengan rasa cemas di diri mereka karena nanti jadwal perkuliahan Cut semakin padat yang pastinya akan membuat Cut lelah karena koas.


"Beri pengertian kepada Cut tentang kehamilannya yang lemah, kalau bisa tunda dulu koasnya karena kesehatan Cut dan janinnya lebih penting dari apapun," ucap Leon dengan tegas.


"Kamu sudah hubungi Sultan dan Ika?" tanya Ulan dengan pelan karena kedua adiknya berhak tahu kondisi Cut yang sedang dirawat di rumah sakit karena stres yang Cut alami karena pihak keluarga Ihsan. Ulan sangat menyayangkan sikap mamanya Ihsan yang bisa dibilang sangat kelewatan sekali. Semua istri di dunia ini juga sangat ingin segera hamil, bukan keinginan mereka jika tidak hamil ketika sudah menikah bertahun-tahun tetapi atas kehendak Yang Maha Kuasa. Ulan tak habis pikir dengan jalan pemikiran orang tua yang sangat menginginkan anaknya hamil dalam waktu segera.


"Sudah Tante, besok papa dan mama akan segera ke Jakarta," ucap Ihsan mulai bisa tersenyum kembali. Dan untuk kedua orang tua Ihsan memang sengaja belum Ihsan hubungi, ia ingin kondisi Cut kembali stabil barulah Ihsan akan menghubungi kedua orang tuanya, lagi pula Ihsan masih merasa sangat kecewa dengan ucapan mamanya yang selalu mendesak Cut untuk segera hamil.


Erangan Cut terdengar di telinga Ihsan dan yang lainnya membuat Cut kembali mendekat ke arah istrinya.


"H-haus..." gumam Cut dengan lirih.


"A-abang ambilkan, Sayang!" ucap Ihsan dengan sigap. Ihsan membantu istrinya minum dengan perlahan karena Ihsan yakin Cut sangat kehausan karena lelah menangis sampai pingsan dan akhirnya dirawat di rumah sakit.


"Alhamdulillah cucu Nenek sudah sadar," ucap Saera dengan tersenyum lembut.


Cut hanya bisa tersenyum kecil karena hatinya masih sangat merasa sedih sekali. Mengapa dirinya tak kunjung hamil seperti mama dan para tantenya yang lain? Cut lelah mendapatkan ucapan pedas dari mertuanya yang membuat dirinya sangat down.


"Lihat sepupu Ihsan baru tiga bulan menikah istrinya langsung hamil. Kamu kurang subur kali, Cut. Coba deh ajak Ihsan ke dokter untuk periksa biar terdeteksi permasalahan kalian di usia pernikahan dua tahun belum juga hamil."


"Ihsan itu satu-satunya anak mama. Jadi mama hanya berharap kepada Ihsan dan juga kamu, kami juga ingin menggendong cucu seperti ibu-ibu yang lainnya. Mama juga merasa iri dengan mereka, mama cuma mau cucu dari kalian tidak lebih."


"Kalau tidak bisa memberikan cucu kepada mama tolong izinkan Ihsan menikah lagi dengan perempuan pilihan mama mungkin dengan begitu Ihsan bisa memberikan anak dari istri keduanya. Di dalam islam poligami tidak dilarang maka izinkan Ihsan menikah dengan wanita pilihan mama."


Cut kembali berderai air mata saat kilasan pembicaraan dirinya dan mertuanya seminggu yang lalu saat mertuanya itu berkunjung ke rumah dan kebetulan Ihsan sedang berada di kampus. Melihat Cut kembali menangis membuat Ihsan dan yang lainnya cemas, ia takut terjadi sesuatu dengan Cut dan janinnya.


"Dek, apa yang sakit? Katakan pada Abang jangan menangis seperti ini, Sayang. Abang ikut sedih dan khawatir," ucap Ihsan dengan lembut.


"Bang!" panggil Cut dengan serak. Ia menatap Ihsan begitu dalam sampai-sampai membuat Ihsan takut dengan tatapan Cut saat ini.


"Iya, Sayang. Mana yang sakit? Abang panggil dokter ya," ucap Ihsan dengan lembut.


"Di sini sakit sekali!" ucap Cut menunjuk ke arah dadanya membuat Ihsan juga merasakan hatinya ditusuk ribuan jarum.


"M-maafkan Cut yang tidak bisa menjadi istri yang sempurna untuk Abang," ucap dengan lirih.


"Kamu gak salah, Sayang. Tidak harus meminta maaf seperti itu," balas Ihsan dengan lirih. Ihsan ingin mencium kening Cut tetapi sang istri menghindar membuat Ihsan dan juga yang lainnya menatap Cut dengan bingung pasalnya Cut tidak pernah seperti ini kepada suaminya.


"Ayo kita cerai!"