
...Happy reading...
****
Leon benar-benar dibuat gila ketika Laura dan Dirga menghilang begitu saja, semua informasi orang kepercayaannya belum membuahkan hasil sama sekali membuat Leon semakin frustasi. Bahkan, Ryan dibuat kesal oleh sang sahabat sekaligus bosnya tersebut, karena Leon akan menghabiskan sebungkus rokok dalam semalam saja, padahal Leon bukanlah pria perokok.
Ryan merebut rokok yang berada di tangan sahabatnya saat Leon ingin menghisap rokok tersebut dan dengan cepat Ryan mematikan rokok tersebut dengan sepatu pentofelnya membuat Leon menatap tajam ke arah Ryan. Ryan tidak peduli ia dengan santai memutar sepatunya hingga rokok tersebut sudah tidak berbentuk tergeletak di lantai.
"Kenapa? Gak suka gue buang rokok lo begitu aja?" ujar Ryan dengan santai.
Leon mengepalkan tangannya, saat Ryan ingin mengambil bungkus rokoknya yang hanya tinggal beberapa batang dengan cepat Leon mengambil bungkus tersebut tetapi sayang bungkus rokok tersebut sudah ada di tangan Ryan.
"Kembalikan, Ryan!" ucap Leon dengan dingin tetapi Ryan tak bergeming. Ia mengambil beberapa batang rokok yang tersisa di dalam bungkus dan mematahkan semua rokok itu menjadi dua bagian.
"Kenapa lo patahin sih?" bentak Leon yang sangat kesal dengan berbuatan sahabatnya tersebut.
"Karena gue mau. Ayolah Leon, jangan seperti ini! Gue yakin Laura akan kembali kalau memang kalian berjodoh, tapi kalau gak jodoh, ya lo tinggal nafkahi anak lo aja kalau sudah ketemu," ucap Ryan dengan santai.
Sialan! Ryan benar-benar menambah kegilaannya kali ini!
"Brengs*ek! Lo bukan membuat hati dan otak gue tenang malah semakin membuat gue stres gara-gara lo!" umpat Leon dengan sinis.
Ryan terkekeh menepuk pundak Leon dengan pelan. "Kita sudah mencarinya, orang suruhan lo juga sudah mencari, kan? Semua akan baik-baik saja dan Laura pasti akan segera ketemu," ucap Ryan dengan tegas.
"Gak segampang itu! Laura pergi dengan membawa anak gue begitu saja. Lo tahu, kan kandungan Laura lemah? Gue takut terjadi sesuatu dengan dia...." ucap Leon dengan frustasi mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan sejak tadi. "Astaga, gue benar-benar bisa gila jika seperti ini. Bayangkan seminggu kita sudah mencari Laura dan hasilnya masih nihil. Bahkan, orang suruhan gue yang biasanya sangat bisa diandalkan kali ini belum bisa menemukan keberadaan Laura dan Dirga," ucap Leon dengan menggebu.
Semua barang yang berada di mejanya dibanting begitu saja membuat Ryan menghela napasnya dengan perlahan. Mungkin dirinya akan seperti itu jika Ica menghilang dari hidupnya. Cinta benar-benar bisa mengubah seseorang dan itu adalah hal yang sangat luar biasa.
"Lakukan semua sesuka hati lo. Tapi jangan sampai merokok atau sampai ke club malam," ucap Ryan dengan tenang.
"Argghh..." teriak Leon dengan frustasi meninju meja kerjanya dengan keras hingga kaca itu retak karena tinjuan Leon.
"Sepertinya sebentar lagi ruangan lo akan diperbaharui," ucap Ryan dengan geleng-geleng kepala karena ruangan yang tadinya sangat rapi kini sudah berantakan seperti kapal pecah karena ulah Leon. Dan Ryan harus membeli barang-barang baru yang sudah dirusak oleh sahabatnya. Ryan harus bisa menemukan Laura dan jika tidak Leon akan semakin menjadi-jadi. Bagaimana tidak? Dalam satu hari ini Leon sudah memarahi beberapa karyawannya yang membuat kesalahan sekecil apapun dan merusak beberapa barang.
****
Ika menatap rumah megah itu dengan dingin, setelah mendapatkan izin kepada satpam yang menjaga di depan karena Ika memperkenalkan dirinya sebagai Brawijaya Grup yang akan bertemu dengan Zico, maka satpam itu langsung langsung mengizinkan Ika masuk.
Satu kali Ika memencet bel dan tak berselang lama pintu utama rumah itu dibuka oleh wanita paruh baya yang menatapnya dengan sopan.
"Tuan Zico-nya ada di rumah, Bi?" tanya Ika dengan sopan karena ia tidak mungkin bersikap kasar kepada orang tua yang diyakini Ika adalah asisten rumah tangga yang bekerja di rumah ini.
"Ada, Nona. Nona siapa ya?" tanya Bi Sumi dengan ramah.
"Katakan saya Ika dan ingin bertemu dengan Zico!" ucap Ika dengan datar.
"Baik sebentar, Nona. Saya akan panggilkan. Silahkan masuk, Nona!" ucap Bi Sumi dengan ramah.
Zico menatap gadis yang berada di depannya dengan heran. "Lo cari gue?" tanya Zico dengan santai duduk di hadapan Ika yang menatapnya dengan tajam.
"Gue gak mau basa-basi. Gue ke sini mau mencari Laura! Pasti lo kan yang menyembunyikan Laura dan Dirga!" ucap Ika dengan tajam.
"Kenapa lo bisa menuduh gue kalau gue yang menyembunyikan Laura?" tanya Zico dengan tenang menatap wanita yang berada di depannya ini dengan penuh minat.
"Karena lo mantan suaminya yang masih mencintai Laura. Katakan dimana Laura dan Dirga? Atau gue akan membuat lo menderita! Apa belum cukup dengan perusahaan lo yang akan gulung tikar dan lo akan menjadi gembel jalanan?!" ucap Ika dengan tajam.
"Hahaha.. Ternyata adik seorang Leon Brawijaya sangat berani menantang Zico Farezki, ya?" ujar Zico dengan dingin mendekat ke arah Ika yang menatapnya penuh waspada. "Sayangnya, gue gak akan kasih tahu Laura dan anak gue di mana!" bisik Zico di telinga Ika.
Wajah Zico mendekat ke arah Ika. Wanita itu membuang mukanya dan memelintir tangan Zico dengan kuat hingga Zico berteriak kesakitan. "Arrghh.. Lepaskan!" teriak Zico saat Ika masih memelintir tangannya hingga berbunyi.
"Gue bukan wanita lemah seperti wanita yang lo sudah tiduri itu. Termasuk wanita menjijikkan seperti Fika. Gue Ika, dan lo harus ingat itu!" bisik Ika dengan sinis.
Ika mendorong Zico hingga lelaki itu terjatuh di sofa. "Jika sampai terjadi sesuatu dengan Laura dan Dirga, gue gak akan segan-segan mematahkan tangan dan kaki lo!" ucap Ika dengan pelan tetapi terdengar sangat sinis.
"Gue gak tau dimana Laura dan Dirga!" ucap Zico dengan sinis.
"Gue gak percaya! Katakan di mana Laura dan Dirga!" teriak Ika dengan penuh amarah. Karena sejujurnya ia tidak suka melihat Leon seperti gila, hidup tak terarah karena kepergian Laura dan Dirga.
"Zico!" teriak Ika saat Zico berhasil membalikkan keadaan dan sekarang Ika berada di bawah tubuh Zico.
"Lo mencari mati dengan datang ke rumah gue seorang diri! Bagaimana reaksi Leon ketika adik kesayangannya sedang berduaan dengan gue," bisik Zico dengan sinis bahkan tangannya mengelus paha Ika sampai gadis itu meremang. "Dan bagaimana reaksinya jika adik kesayangannya menyerahkan tubuhnya ke gue?" bisik Zico di telinga Ika dan menggigit kecil telinga Ika.
"Itu tidak akan terjadi!"
Buk...
"Arghhhh..."
****
Update malam nih. Seharian aku berkebun dan akhirnya pegel semua ini badan. Update demi kalianππ
Pasti ada yang penasaran Zico bakal bucin sama siapa? pada menerka-nerkaππππ
Matiin Zico?
Bucinin Zico?ππππ
Ramein gak nih?
Remein dengan like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya