
...Happy reading...
******
"Dan kamu..." tunjuk Leon ke arah Kirana yang sedang menangis. "Bersiaplah merasakan dinginnya lantai jeruji besi!"
Ucapan Leon membuat kaki Kirana lemas. Dia akan di penjara?
Tidak mungkin!
"P-pak, jangan penjarakan saya. Maafkan ucapan saya tadi, saya tidak tahu jika anda pemilik restoran itu," ucap Kirana terbata dengan menangis.
"A-akang bantu Kirana. Kirana tidak mau di penjara. Kirana ke kota cuma mau bertemu dengan Akang. Bagaimana dengan ibu dan bapak di kampung jika Kirana di penjara? Hiks... Hiks..." Kirana menangis histeris dengan kaki tertekuk menatap Leon yang tak bergeming ke arahnya, sepertinya keputusan sudah bulat, siapa pun yang akan menyakiti adiknya tidak akan Leon lepaskan begitu saja.
Rama tak bergeming ia hanya bisa menatap tajam ke arah Kirana. "pertanggungjawabkan perbuatanmu. Kamu telah membunuh anak saya!" ucap Rama dengan tajam membuat hati Kirana hancur karena Rama tidak membelanya, sungguh ia menyesal atas apa yang ia lakukan, karena kesombongannya membuat dirinya harus menerima semuanya.
"Ryan, urus gadis ini!" ucap Leon dengan dingin.
"Mas bisa bantu tolong panggilkan suster untuk mengobati lelaki pengecut ini," ucap Leon kepada Alan.
"Baiklah, kamu tenangkan Papa," ucap Alan dengan tegas yang diangguki oleh Leon.
"DIMANA ANAKKU!" teriak Ika histeris yang berada di ruangan membuat Leon dan Leo memasuki ruangan UGD tersebut.
"Nak, kamu yang tenang ya!" ucap Leo dengan lirih karena melihat Ika yang begitu histeris memegang perutnya.
"Ayah, Mas, dimana anak Ika? Kenapa aku tidak bisa merasakan keberadaannya?" teriak Ika begitu histeris. Sakit pada perutnya karena habis dikuret Ika abaikan begitu saja saat ini Ika hanya ingin mengetahui keadaan anaknya.
"Dia baik-baik saja, kan? Kenapa perutku terasa berbeda?"
"Ika, kamu yang tenang ya. Dia sudah bahagia di sana," ucap Leon dengan perlahan.
Ika mematung dengan ucapan Leon. Dirinya menatap tajam ke arah Leon. "Bohong! Dia masih ada! Dia tidak mungkin meninggalkan Ika. Anak Ika masih hidup di perut Ika!" teriak Ika dengan hiateris.
"M-mbak..."
Ika yang mendengar suara Kirana langsung menoleh. "Kau, telah membunuh anakku! Kau puas, hah? Gadis pembunuh! Pergi dari sini? Kamu mau Rama, kan? Ambil dia! Tapi jangan ambil anakku!" teriak Ika dengan histeris.
"M-maafkan aku, Mbak. Aku salah! Aku tidak ingin di penjara. Ampuni aku, Mbak!" ucap Kirana dengan menunduk malu.
"Pergi! Kembalikan anakku... Hiks...hiks..."
"IKA TENANG!" bentak Leon memeluk adiknya yang membanting apa saja yang ia dapatkan di atas nakas untuk mengusir Kirana yang telah membuat hidupnya hancur.
"Gue benci lo dan Rama!" teriak Ika histeris.
"Dokter, tolong anak saya!" teriak Leo dari luar yang sudah tidak tahan dengan keadaan anaknya yang terlihat histeris dan berantakan. Dokter langsung berlari dan memasuki ruangan UGD.
"Apa yang kalian lakukan? Aku hanya ingin anakku kembali! Dia pembunuh! Aku membencinya!" teriak Ika di pelukan Leon. Tak lama dokter menyuntikkan sesuatu pada infus Ika hingga wanita itu merasakan lemas.
"Aku mohon kembalikan anakku... Hiks...hiks..."
"Mas, tolong bantu aku kembalikan anakku!" ucap Ika dengan lirih.
"Aku mohon kembalikan anakku! Jangan ambil dia dariku!"
Leon menangis mengecup kening Ika saat adiknya itu perlahan menutup mata. Cairan dokter sudah bekerja dengan baik. "Pasien mengalami syok berat, jangan biarkan dia seorang diri karena itu bisa membahayakan dirinya. Keadaannya belum pulih sepenuhnya, kami akan memindahkan pasien di ruang perawatan," ucap dokter yang diangguki oleh Leon dan Leo.
Sedangkan Rama sedang diobati oleh suster ditemani oleh Alan dan Elang. "Pak, saya ingin bertemu dengan Ika," ucap Rama dengan lirih.
"Saya rasa kamu tidak perlu bertemu dengan Ika. Saya takut keadaan adik saya semakin buruk!" ucap Alan dengan dingin.
"Saya mohon, Pak! Saya ingin bertemu dengan Ika. Ika pasti terpukul karena kehilangan anak kami," ucap Rama dengan memohon.
"Apa yang kamu pikirkan Rama? Menyesal karena menyakiti tante saya? Dan seenaknya kamu ingin menemani dia. Temani saja si ondel-ondel jalanan itu. Bukannya dia calon istrimu?!" ucap Elang dengan sarkas. Pria di depannya ini kembali menyulutkan emosinya jika Rama belum babak belur karena ulah om dan kakeknya, Elang akan menghabisi Rama juga.
Rama hanya bisa diam dengan ucapan Elang. Jika tubuhnya tidak sakit semua, ia akan memaksa untuk bertemu dengan Ika. Apapun Rama akan lakukan agar mendapat restu dari keluarga Brawijaya.
"Ampuni aku, Ika! Tolong setelah ini kamu jangan membenciku karena aku juga terpukul kehilangan anak kita," ucap Rama di dalam hati.
***
"Bunda sudah sadar," ucap Ulan dengan cemas.
"Antar Bunda ketemu, Ika," ucap Saera dengan lirih.
"Bunda yang tenang ya. Nanti kami akan mengantarkan Bunda bertemu dengan Ika, sekarang Bunda harus sehat dulu. Jangan menangis di depan Ika," ucap Laura dengan lembut.
"Kalau Bunda nangis, Ica juga nangis," ucap Ica dengan bibir bergetar. Lihatlah sejak tadi Ica menangis hingga mata wanita itu bengkak. Ia seperti merasakan apa yang dirasakan oleh Ika sampai Ica tidak bisa menghentikan tangisannya walau sudah ditenangkan oleh saudaranya. Yang tidak berkumpul di sana hanya Jihan karena hadis itu masih berada di luar negeri. Tetapi Ulan sudah mengabari anaknya dan Jihan akan segera pulang.
"Nenek gak boleh sedih, harus sehat demi tante Ika," ucap Mentari dengan tersenyum. Saera hanya bisa menghela napas dan menganggukkan kepalanya.
Setelah itu Leon masuk bersama Leo untuk mengecek keadaan sang bunda. "Bunda, gak apa-apa?" tanya Leo dengan lirih kepada istrinya.
"Bunda, gak apa-apa, Yah! Bagaimana dengan keadaan Ika. Bunda harus melihatnya," ucap Saera dengan cemas.
"Dia masuh tidur. Kamu yang tenang ya. Ayah merasa gagal mendidik anak-anak kita," ucap Leo dengan bibir gemetar. Masalah bertubi-tubi datang dari anaknya membuat Leo merasa gagal menjadi orang tua.
"Ayah tidak gagal mendidik kami. Kamilah yang melakukan kesalahan, maafkan kami, Ayah, Bunda," ujar Leon dengan menyesal.
"Sudahlah, semua sudah terjadi. Kalian tetap anak ayah dan bunda. Sekarang kita harus bisa membuat Ika ceria lagi. Kamu sudah urus wanita itu?" ucap Leo dengan menarik napas berat dadanya terasa sakit namun coba ia abaikan demi anak dan istrinya.
"Ryan sudah membawa Kirana ke kantor polisi. Aku ingin memberikan pelajaran untuk Kirana dan Rama," ucap Leon dengan serius.
"Kamu urus Rama jangan sampai muncul di hadapan ayah atau Ika," ucap Leo dengan tajam.
"Baik Ayah," ucap Leon dengan tegas.
Leo memeluk istrinya dan mengecup kening Saera dengan lembut. "Apa ini karmaku karena dulu aku melukaimu, Sayang? Kenapa karma itu harus terjadi pada anak-anak kita?"
***
Gimana dengan part ini?
Greget?
Nyesek?
Ramein lagi yok.
Ramein dengan like, vote, komentar, favoritkan cerita ini ya.