
...Happy reading...
****
Pagi ini Laura tampak lebih banyak melamun sejak pernikahan Intan dan Zico sehari yang lalu. Setelah 7 hari kepergian kedua orang Intan, Zico benar-benar membuktikan ucapannya. Laura tidak bisa berbuat apa-apa karena Intan yang tampak menerima saja walau awalnya gadis itu sangat syok, mungkin karena kepergian kedua orang tuanya yang mendadak menjadikan Intan sudah pasrah dengan kehidupannya.
Leon yang baru saja membawa susu kehamilan untuk sang istri menjadi menghela napasnya karena Laura yang terlalu mencemaskan Intan. Bagaimana tak cemas Intan berada di tangan orang yang temperamental membuat ketakutan Laura berkali-kali lipat karena Laura tahu bagaimana watak mantan suaminya tersebut.
"Sayang!" panggil Leon dengan pelan tetapi sukses membuat Laura terhenyak menatap Leon.
"Kamu kenapa? Melamun terus akhir-akhir ini. Kasihan twins," ucap Leon dengan Lembut.
"A-aku cuma takut Zico melakukan kekerasan sama Intan. Bagaimanapun Intan sudah aku anggap sebagai adek aku sendiri, Mas," ucap Laura dengan sendu.
"Mas yakin Zico sudah berubah. Kamu tidak perlu mencemaskan Intan! Jika Zico melakukan kekerasan kembali kita akan lapor dia ke polisi," ucap Leon dengan tegas yang diangguki oleh Laura.
"Ayo minum susunya dulu!" ucap Leon dengan lembut. Jika keadaan Laura seperti ini bagaimana ia harus mengatakan jika harus ke Jepang dalam waktu yang lumayan lama. Karena proyek tersebut tidak bisa diwakilkan oleh siapapun yang membuat Leon mengurungkan niatnya untuk mengatakan kepergiaannya selama sebulan ke Jepang. Sebenarnya Leon sangat berat untuk meninggalkan sang istri yang sedang hamil dan juga Dirga, tetapi tuntutan perkerjaan yang membuat Leon mau tak mau harus pergi bersama dengan Ryan. Untung saja awal kehamilan Ica tidak membuat orang repot, wanita itu tidak mengalami mual bahkan Ica terus makan sepanjang waktu sampai ia merasa kenyang sendiri.
"Dirga, ayo tidur siang sama Ayah!" ucap Leon kepada Dirga yang asyik bermain sendiri dengan mainan yang ia belikan.
Dirga langsung menghampiri kedua orang tuanya. Ia langsung meminta gendong kepada Leon. Sejak kehamilan Laura yang semakin besar, Leon sudah melarang Laura untuk menggendong Dirga. Leon ngilu melihat perut besar Laura yang ditindih tubuh Dirga. Padahal tubuhnya yang lebih besar sering menindih istrinya. Dasar tidak tahu diri!
"Habiskan susunya. Ayah mau tidurkan Dirga dulu," ucap Leon dengan lembut.
Dirga yang memang dasarnya sudah mengantuk saat Leon menepuk pant*tnya dengan perlahan, Dirga langsung memejamkan matanya dengan cepat. Anak itu sangat lengket dengan Leon, bahkan gaya rambut, juga baju yang Leon pakai Dirga ingin mengikutinya jadi tidak jarang banyak yang melihat mereka pakai baju senada dengan gaya rambut yang sama membuat orang-orang mengira jika Dirga benar-benar anak Leon.
Laura perlahan bangun dari duduknya walau harus memakai bantuan tangannya. Ia pengikuti langkah sang suami yang sudah membawa Dirga ke kamar. Laura tersenyum menatap Leon mengecup kening anaknya yang sudah tertidur pulas.
"Kenapa lihatin Mas seperti itu? Mau dibobok-in juga kayak Dirga?" tanya Leon dengan jahil.
"Ih, apaan sih Mas?" Laura mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan sang suami yang tak pernah di filter.
"Ya udah kita ke kamar jangan gengsi sama suami sendiri. Bilang aja cemburu sama anak sendiri," ejek Leon hang membuat Laura semakin kesal.
Leon menghampiri sang istri. "Mumpung ini hari minggu. Ya udah ayo kita tidur siang. Mau dibobok-in, kan?"
"Mas!" rengek Laura dengan gemas pasalnya ucapan Leon membuat kedua pipinya memanas.
Leon terkekeh, lalu ia merangkul sang istri dan membawanya ke kamar. "Jangan aneh-aneh pikirannya, Mas emang mau ngajak kamu tidur! Benar-benar tidur!" ucap Leon dengan terkekeh. Pipi Laura bertambah panas karena otak mesumnya mulai bekerja. Gara-gara punya suami mesum dan dirinya sebagai objek kemesuman suaminya membuat pikiran Laura sudah tidak waras lagi. Pikirannya sudah dipenuhi olahraga yang membuat seluruh tubuhnya panas dingin. Tuh kan... Mesum lagi pikirannya. Apa penyakit mesum menular?
"Atau kamu memang mau Mas melakukannya di siang hari?" tanya Leon dengan menggoda sang istri.
"Massss!" rengek Laura membuat Leon terbahak. Leon sudah tahu karena sejak kehamilannya Laura mudah sekali terpancing gairah walau Leon hanya berbicara.
"Iya Sayang. Mau pakai gaya apa? Mas malas ah kalau Mas yang capek mengemudi. Sekali-kali kamu yang mengemudi permainan," ucap Leon semakin menggoda Laura.
Dengan berani Laura mendorong suaminya, ia menaiki tubuh suaminya. Leon menelan ludahnya dengan kasar saat Laura membuka kancing dasternya dengan sensual, sesuatu yang berada di dalam menyembul keluar.
"Sepertinya aku harus kasih susu bergizi buat suami aku biar omongannya bisa di filter dengan baik," ucap Laura mengembalikan keadaan.
Glek...
Leon menelan air ludahnya dengan susah payah, saat sesuatu yang ia sukai menggantung di depan matanya. Astaga godaan ibu hamil membuat iman Leon tidak kuat, apalagi dengan nakal Laura memasukan put*ngnya ke dalam mulut Leon.
"Sudah siap menjadi tunggangan aku siang hari ini, Mas?" tanya Laura dengan sensual dan mata terpejam menahan des*han saat Leon mengh*sap put*ingnya dengan rakus seperti anak bayi yang kehausan.
"Cepat lakukan, Sayang!" ucap Leon dengan serak. Imannya tidak kuat dengan godaan ibu hamil yang berada di atasnya kali ini. Huh.. Perut buncitnya semakin menantang mata Leon. Dan siang hari ini mereka habiskan untuk bermandi peluh dengan Laura yang memimpin permainan.
*****
Malam harinya...
Jantungnya berdetak dengan sangat keras saat suara derap langkah kaki semakin mendekat apalagi kasurnya sedikit bergerak membuat Intan tak tahan lagi dan beringsut bangun dari tidur pura-puranya, ia ingin menghindar dari Zico yang mungkin melakukan sesuatu.
Zico terhenyak dengan kelakuan Intan. "Tenanglah aku tidak akan menyakitimu! Tidurlah! Aku akan tidur di sofa!" ucap Zico dengan datar. Dan benar saja Zico langsung merebahkan tubuhnya di sofa setelah mengambil bantal yang ada di kasurnya.
Banyak kamar di rumahnya tetapi entah mengapa ia tidak mau meninggalkan Intan sendiri, karena gadis itu sering mengigau di tengah malam. Zico mencoba memejamkan matanya, ia tidak mau berada di situasi seperti ini. Lebih baik ia tidur dengan cepat.
"Apa dia benar-benar tidur?" gumam Intan dengan lirih.
"Cuaca malam ini dingin karena hujan. Apa dia tidak memakai selimut?" tanya Intan pada dirinya sendiri.
Jeder...
"Aaaaaaa," teriak Intan dengan takut saat suara petir terdengar sangat keras bahkan lampu seketika padam.
Zico yang belum benar-benar tidur langsung terbangun dan menghampiri Intan dengan cemas. "Kamu tidak apa-apa?' tanya Zico dengan cemas.
Dengan gemetar Intan langsung memeluk Zico dengan erat membuat Zico mematung. Pencahayaan yang sangat minim dari ponselnya membuat Zico dapat mengetahui jika istrinya takut dengan gelap.
"Tidak apa-apa. Aku ada di sini!" ucap Zico dengan lirih.
"Jangan pergi!" gumam Intan dengan gemetar.
"Kamu tidak mengantuk? Tidurlah kembali! Aku akan tidur di sofa. Pasti sebentar lagi listrik kembali menyala," ucap Zico dengan pelan.
"Jangan pergi! Aku takut!" ucap Intan dengan berlinang air mata.
Dengan menghela napas lirih Zico berbicara. "Geserlah! Aku akan menemanimu!" ucap Zico akhirnya.
Dengan cepat Intan menggeser duduknya di kasur, ia masih memeluk Zico dengan erat karena sejak kecil Intan takut petir dan gelap.
Zico berulang kali menghembuskan napasnya dengan kasar saat dada Intan bersentuhan dengannya. Dia lelaki dewasa yang sudah lama tidak melakukannya membuat gairah Zico naik seketika.
Keduanya saling menatap satu sama lain dengan pandangan yang tidak mereka bisa artikan. Zico meletakkan ponselnya dengan senter ponsel yang masih menyala. Ditambah suasana hujan yang semakin deras dan hawa dingin yang menusuk tulang membuat setan seakan berbisik untuk saling membagi kehangatan.
Dengan perlahan Zico mendekatkan wajahnya ke arah Intan. Intan terhenyak saat bibir mereka sudah menyatu, ini ciuman pertama untuknya membuat Intan hanya diam saja karena ia masih dilanda ketakutan, Zico yang gemas dan otaknya yang mulai panas memulainya dengan awal, bahkan ia harus menggigit bibir sang istri agar Zico bisa masuk ke mulut istrinya dan benar saja Intan membuka mulutnya membuat Zico semakin leluasa.
Intan melenguh, untuk pertama kalinya ia merasakan ciuman dari pria, dan pria tersebut adalah suaminya. Tangannya ingin mendorong tubuh Zico tetapi yang ia lakukan hanya memegang baju Zico dengan kuat saat ciuman tersebut semakin dalam dan menuntut. Tangan Zico tak tinggal diam ia membuka kancing piyama Intan dengan perlahan, memegang dua gundukan itu dan merem*asnya dengan gemas, walau tak sebesar wanita-wanita yang ia tiduri tetapi cukup digenggam oleh tangan Zico yang besar.
Intan lagi dan lagi mengkhianati pikirannya, tubuhnya bergerak tak karuan saat tangan nakal Zico menyentuh dadanya. Setelah puas bermain di sana, tangan Zico turun ke bawah dengan ciuman yang tak terlepas. Intan menggelinjang saat tangan Zico menyentuh daerah sensitifnya. Bermain di sana hingga Intan merasakan napasnya semakin berat, ia ingin pipis rasanya. Zico tersenyum menatap istrinya tersebut, walau pencahayaan yang minum Zico dapat melihat jika wajah Intan memerah.
Perasaan apa ini? Intan baru merasakan sensasi ini dan rasanya sangat enak. Dan tiba-tiba Intan langsung menjauh saat listrik kembali menyala, ia merasa malu dengan Zico karena penampilannya yang sudah acak-acakan.
"A-aku ke kamar mandi!" ucap Intan dengan gugup.
Ah sial!
Zico sudah sangat pening. Haruskah ia main sendiri? Ia menatap miliknya yang sudah menantang meminta masuk tetapi malam ini sepertinya ia harus bermain solo.
"Dia suka sekali menyiksaku!" gumam Zico dengan kesal.
*****
Panas! Panas!😲😲😲
Gimana dengan part ini?
Tinggalkan jejak kalian ya.
Ramein dengan like, vote, dan coment yang banyak.