Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~35 (Perkara Kehamilan)



...Selamat pagi. Gimana dengan perasaan kalian dapat notif novel ini? Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya. Seperti biasa kalau rame bakal double up....


...Happy reading...


****


Dua tahun kemudian...


Menjadi seorang istri di usia yang sangat muda terkadang membuat Cut merasa tidak sanggup dengan permasalahan rumah tangga yang sedang terjadi. Dua tahun membina rumah tangga bersama Ihsan sudah banyak asam dan garam yang keduanya rasakan, berantem, baikan, marahan, serta berselisih paham sudah mereka lalui dengan tangis dan juga senyuman. Tetapi hal yang menyakitkan adalah ketika keluarga Ihsan menanyakan tentang kehamilan Cut. Sudah dua tahun ini belum ada tanda-tanda kehamilan yang Cut rasakan membuatnya sering bersedih apalagi kedua orang tua Ihsan sudah mendesaknya segera memiliki momongan, jika keluarga Cut tidak terlalu mempersalahkan tentang anak dari Cut maupun Ihsan. Bisa saja setres yang Cut alami saat mengerjakan tugas dan skripsi yang membuat Cut belum hamil sampai sekarang.


"Kapan kalian akan memberikan mama dan papa cucu? Ini sudah dua tahun berlalu tetapi Cut belum hamil juga."


"Periksa saja ke dokter siapa tahu salah satu di antara kalian ada masalah."


"Pokoknya tahun ini mama harus sudah mempunyai cucu dari kalian. Cut, kamu jangan terlalu stres agar bisa cepat hamil."


Cut berulang kali menghela napasnya dengan berat kala mengingat ucapan ibu mertuanya yang mendesak Cut untuk segera hamil, ingin sekali Cut menangis sekarang tetapi tidak ingin membuat suaminya khawatir.


"Sayang!" panggil Ihsan dengan lembut tetapi tidak ada jawaban dari Cut. Wanita itu tetap melamun dengan pikirannya sendiri. Ia takut mengecewakan keluarga Ihsan karena tidak bisa memberikan keturunan dalam waktu dekat.


Ihsan yang merasa khawatir dengan keadaan Cut langsung menyentuh tangan Cut dengan lembut. Cut tersentak karena merasa sentuhan Ihsan.


"Masih memikirkan ucapan mama?" tanya Ihsan dengan hati-hati.


Cut diam sejenak lalu ia tersenyum miris ke arah Ihsan. "Aku takut, Bang," ucap Cut dengan lirih.


Cut benar-benar takut tidak bisa memberikan keturunan kepada Ihsan dan berakhir akan berpisah dengan Ihsan seperti novel-novel yang pernah ia baca atau ia akan merelakan Ihsan menikah lagi agar bisa mendapatkan keturanan. Cut benar-benar tidak rela jika itu sampai terjadi di rumah tangganya, ia bukan wanita tangguh dan hebat yang merelakan suaminya untuk menikah lagi dengan wanita lain, hatinya tak sanggup untuk melepaskan Ihsan bersama dengan madunya.


"Maafkan ucapan mama, sayang. Mama seperti itu karena sangat menginginkan cuci dari kita karena aku adalah anak satu-satunya. Percayalah mama sangat baik," ucap Ihsan dengan lirih karena ia merasa sedih melihat kemurungan sang istri.


Jika ditanya Ihsan sedih atau tidak? Jawabannya juga ia sangat merasa sedih karena ia juga sangat menginginkan anak dari Cut tetapi semuanya atas kehendak Allah, manusia hanya bisa berencana dan hasil akhirnya hanya Allah yang mengatur semuanya. Tetapi Ihsan tidak ingin egois karena yang paling merasa sedih akhir-akhir ini adalah istrinya, sampai n*fsu makan sang istri menurun drastis seperti itu.


"Hus...Abang sama sekali tidak pernah terpikir untuk mencari wanita lain, Dek. Hanya kamu istri Abang satu-satunya, jangan pernah berpikir buruk seperti itu percayalah pada Abang, Sayang," ucap Ihsan memeluk Cit dengan erat.


Tangis Cut pecah di pelukan suaminya. "Hiks....hiks...aku juga mau hamil, Bang. Aku juga mau merasakan kehamilan seperti wanita pada umumnya. Itu bukan kehendakku jika aku belum hamil sampai sekarang. Desakan semua orang membuat aku takut dan berpikir yang tidak-tidak," isak Cut membuat hati Ihsan tersayat baru kali ini ia melihat tangis Cut yang begitu pecah menandakan jika hati sang istri benar-benar terluka dengan desakan keluarganya.


"Jangan pikirkan itu, Sayang. Tidak masalah bagi Abang jika kamu belum hamil sampai sekarang, Abang akan selalu bersama kamu. Jangan pernah takut. InsyaAllah kamu pasti hamil dan kita akan punya anak yang lucu. Sekarang pikirkan wisuda kamu, sebentar lagi kamu akan koas, kan?" ucap Ihsan menenangkan istrinya yang masih terisak dipelukannya.


"Hiks...hikss...Bang apa aku mandul?" tanya Cut dengan berderai air mata karena ucapan keluarga Ihsan benar-benar membuat hatinya gelisah.


Deg...


"Jangan bicara seperti itu, Sayang! Kita sudah periksa ke dokter dan hasilnya kita baik-baik saja," ucap Ihsan dengan lembut menghapus air mata istrinya.


"Tapi kenapa sampai sekarang aku belum hamil juga?" tanya Cut dengan lirih. "Kenapa, Bang?" ulang Cut sekali lagi.


Mata Ihsan memerah menahan tangisnya karena ucapan Cut yang membuat hatinya berdenyut sakit. "Sabar, Sayang!" ucap Ihsan dengan lirih. Ia memeluk Cut dengan erat menguatkan istrinya yang tampak terpukul sekali.


Ihsan merasakan tubuh istrinya melemas.


"Cut!"


"Dek!"


"Sayang!"


"Jangan bercanda! Bangun Sayang!" ucap Ihsan menepuk pipi istrinya.


"Sayang bangun!"