Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~ 26 (Malam Bergelora)



...Hei-hei aku kembali nih. Ayo ramein part ini supaya aku update lagi dengan like, vote, dan komentar yang banyak ya....


...Happy reading...


****


Acara resepsi pernikahan Ihsan dan Cut berlangsung dengan sangat lancar dan keduanya sudah masuk ke dalam kamar hotel karena malam sudah semakin larut. Rasa lelah yang mereka berdua rasakan bagaikan tak terasa karena bahagia lebih mendominasi keduanya.


"Mandi yuk!" ajak Ihsan dengan serius membuat Cut menelan ludahnya dengan gugup.


"M-mandi bareng?" tanya Cut dengan gugup.


Ihsan terkekeh mengelus kepala Cut yang masih terbalut dengan hijab, ia belum melihat rambut Cut sampai sekarang membuat Ihsan penasaran.


"Kan sudah sah, gak masalah dong kalau Abang ajak kamu untuk mandi bareng?" tanya Ihsan dengan jahil, ia sangat suka melihat wajah gugup dari Cut sekarang.


"T-tapi..."


"Tapi kenapa? Malu?" tanya Ihsan dengan lembut.


Kedua pipi Cut bersemu merah lalu ia mengangguk untuk menjawab pertanyaan suaminya. Lagi dan lagi Ihsan dibuat gemas oleh tingkah Cut yang malu-malu kepadanya. Ihsan memandang Cut dengan jarak yang sangat dekat bahkan kedua hidung mancung mereka sudah saling menempel membuat detak jantung keduanya berdetak sangat kencang.


"A-abang menjauhlah sedikit!" ucap Cut dengan gugup.


Cup


Ihsan mengecup hidung Cut dengan lembut. "Kita sudah suami istri, Sayang. Tidak perlu segugup itu dengan Abang," ucap Ihsan mengelus pipi Cut dengan lembut.


"Ya Tuhan, sentuhannya benar-benar membuatku sangat gugup," batin Cut berbicara saat ia merasakan sentuhan tangan Ihsan begitu lembut di wajahnya.


"Sedang melamunkan apa hmm?" tanya Ihsan dengan pelan.


Cut tak bisa menjawab bibirnya keluh untuk sekedar berucap hingga tubuhnya melayang karena Ihsan sudah menggendongnya menuju ke kamar mandi.


"Abang Ihsan!" teriak Cut dengan malu.


"Iya, Sayang!" jawab Ihsan dengan terkekeh membuat Cut kembali merasakan kedua pipinya memanas.


"Mandi bareng ya?!" ucap Ihsan saat sudah menurunkan Cut di kamar mandi.


Dengan pasrah Cut mengangguk dengan perlahan. Ihsan tersenyum senang dan kembali mengecup kening Cut dengan lembut. "Abang buka ya, Dek?" ucap Ihsan meminta persetujuan.


"I-iya, Bang!" jawab Cut dengan gugup. Cut menutup matanya saat Ihsan mulai melepas hijabnya dengan perlahan.


Ihsan menatap Cut dengan intens. "Sungguh ciptaaanmu begitu indah Ya Allah," gumam Ihsan di dalam hatinya saat ia berhasil membuka hijab yang membalut rambut cantik istrinya.


Cut menahan napasnya saat Ihsan memeluknya dengan erat, dapat ia rasakan jika Ihsan membuka resleting baju gamisnya. "Cantik sekali kamu, Sayang. Abang sangat bahagia bisa memiliki kamu," bisik Ihsan dengan lirih membuat Cut meremang apalagi Ihsan mulai mengecup pundak polosnya dengan perlahan. Cut menahan suara aneh yang akan keluar dari bibirnya saat Ihsan menyentuh tubuhnya yang sudah tidak ada pakaian yang melekat di sana karena Ihsan sudah melepaskannya.


Ihsan menghidupkan air shower bersamaan dengan bibirnya yang sudah berada di bibir istrinya. Keduanya hanyut dalam ciuman pertama yang baru mereka rasakan bahkan kedua tangan Cut sudah berada di leher Ihsan. Ihsan juga sudah sama-sama tidak memakai baju hanya pakaian dalam saja yang melekat pada tubuhnya, napas keduanya terengah-engah saat Ihsan melepaskan ciuman mereka. Ihsan membantu menyabuni tubuh Cut hingga gadis itu kegeliaan membuat pusat tubuh Ihsan yang tadi sudah mulai beraksi bertambah tegang. "Kita tidak bisa melakukannya di sini. Cepat bilas tubuh kamu, Sayang!" ucap Ihsan dengan serak karena Ihsan tak mau malam pertama mereka di lakukan di dalam kamar mandi.


Tanpa menjawab ucapan suaminya, Cut segera menuntaskan acara mandinya dengan gugup karena ia dapat merasakan milik suaminya sudah menegang di balik celana dal*m yang masih ia pakai.


"A-abang pelan-pelan," ucap Cut saat melihat kabut gairah di mata Ihsan.


Ihsan tersenyum hangat ia merebahkan Cut dengan perlahan. "Aku akan pelan-pelan melakukannya, Sayang. Kamu gak perlu takut," ucap Ihsan dengan hangat.


Sebelum melakukannya Ihsan mendoakan istrinya. Setelah selesai Ihsan menatap Cut dengan dalam. "Kamu sudah siap?" tanya Ihsan dengan pelan.


Cut mengangguk dengan perlahan bagaimanapun sekarang dirinya adalah seorang istri yang harus melayani suaminya baik lahir maupun batinnya. Ihsan merasa lega karena sebentar lagi Cut akan menjadi miliknya seutuhnya.


Cup...


Cut sedikit terkejut dengan ciuman Ihsan di bibirnya tetapi kemudian Cut sudah merasa rileks, ia memejam matanya menikmati ciuman dalam Ihsan, tangan Ihsan tak tinggal diam ia menyentuh dua gundukan milik istrinya dengan gemas dan bermain di sana membuat Cut melenguh.


"Ahhhh.....A-abang," Cut mendes*h dengan lirih saat tangan Ihsan mulai merem*asnya dengan nakal.


"Panggil nama Abang, Sayang!" ucap Ihsan dengan suara seraknya.


"Ihsan!" teriak Cut melenguh saat ia merasakan sesuatu keluar dari miliknya napasnya memberat tetapi ia juga merasa nikmat dengan bersamaan.


Cup...


Cup....


"Ini milik Abang, Sayang!" ucap Ihsan dengan posesif.


Cut mengangguk dengan perlahan. Ia kembali gugup saat Ihsan membuka pahanya dengan lebar.


"Uhhhh...A-abang jangan!" ucap Cut saat wajah Ihsan tenggelam di sela-sela pahanya. Ihsan sama sekali tak memgindahkan perkataan istrinya ia terus memberikan kenikmatan pada Cut hingga Cut bagaikan cacing kepanasan bergerak tak karuan dengan suara desah*n yang membuat gairah Ihsan semakin tinggi.


Cut benar-benar dibuat melayang dengan sentuhan suaminya hingga Cut mengeryitkan dahinya saat sesuatu yang asing akan menembus miliknya. "Tahan ya, Dek. Akan sakit sedikit," ucap Ihsan menggeram nikmat.


Cut menelan ludahnya dengan gugup saat milik Ihsan terpampang nyata di hadapannya. Apa milik Ihsan akan muat masuk ke miliknya?


"Akhh..." Cut mencekram bahu Ihsan dengan kuat saat ia merasakan perih pada miliknya. Ihsan masih berusaha masuk, ia sudah gagal dua kali karena selalu meleset sungguh ini adalah pengalaman pertamanya hingga akhirnya Ihsan dapat menembus dinding selaput darah milik Cut.


"Ssttt....s-sakit, Bang!" ucap Cut meneteskan air mata.


"Maaf, Sayang!" ucap Ihsan menghapus air mata Cut dengan lembut. Ia membiarkan miliknya di dalam milik Cut sebentar agar Cut sedikit tenang.


Cut tersenyum hangat, ia mengelus pipi Ihsan dengan lembut. "Gak apa-apa, Sayang. Hal yang wajar ketika melakukannya untuk pertama kali," ucap Cut dengan lembut membuat hati Ihsan menghangat.


"Abang gerak ya?" ucap Ihsan meminta persetujuan.


Cut mengangguk dengan senyuman manis di wajahnya. Ihsan membalas senyuman Cut dengan ciuman hingga ia bergerak perlahan. Gerakan itu semakin lama semakin cepat kala suara Cut memenuhi kamar mereka.


Malam ini adalah malam yang sangat bergelora bagi keduanya hingga Ihsan memuntahkan laharnya di rahim Cut membuat Cut merasa melayang. Ihsan ambruk di tubuh istrinya, benar-benar Cut candunya sekarang.


"Sekali lagi ya," ucap Ihsan dengan serak. Pria itu belum merasa puas sedikit pun padahal Cut sudah merasakan tubuhnya remuk redam bahkan Ihsan banyak meninggalkan jejak kepemilikan di tubuhnya.


Dan keduanya melakukan berulang-ulang hingga keduanya benar-benar merasa lelah.