Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~29 (Pertemuan Tak Sengaja)



...Double up. Jangan lupa ramein dengan like, vote, dan komentar yang banyak ya. Sampai jumpa di hari selasa ya....


...Happy reading...


****


Sudah dua hari Cut dan Ihsan berada di Jakarta. Keduanya masih tinggal bersama Saera sebab Cut merasa engga meninggalkan Saera walau pasti nanti tante dan om-nya akan bergantian menjaga sang nenek. Tetapi biarlah dulu ia dan Ihsan tinggal bersama Saera karena rumah yang Ihsan beli masih dalam tahap renovasi.


Saat ini keduanya hendak pergi ke rumah sakit di mana Cut bekerja karena keduanya akan memberikan undangan langsung kepada teman-teman Cut dan Ihsan. Telapak tangan Ihsan menjadi temeng di kepala Cut saat istrinya itu hendak memasuki mobil. Cut tersenyum dan mengucapkan kata terima kasih kepada suami tampannya tersebut.


"Terima kasih, Bang!" ucap Cut dengan tulus.


"Sama-sama, Sayang!" jawab Ihsan dengan tersenyum.


Setelah menutup pintu mobil istrinya, Ihsan melangkah dengan lebar mengitari mobil untuk masuk ke dalam juga. Sebenarnya Ihsan sedikit berat untuk ke rumah sakit karena kemungkinan besar Cut akan bertemu dengan Dio karena keduanya juga mengundang Dio akhirnya Ihsan harus berpura-pura bersikap biasa saja. Toh juga Cut sekarang adalah istrinya, Dio tak mungkin bisa merebut Cut darinya.


Cut yang tahu kegelisahan suaminya, ia menggenggam tangan kiri Ihsan yang menganggur karena saat ini tangan kanan suaminya digunakan untuk menyetir.


"Kenapa hmm?" tanya Ihsan dengan lembut saat Cut memainkan tangannya di pipi cabi wanita itu.


"Gak apa-apa. Pagi ini Abang ganteng banget," ucap Cut dengan jujur.


Ihsan terkekeh dan mencubit gemas pipi istrinya. "Sudah pintar buat Abang berbunga-bunga ya. Setelah pulang dari rumah sakit Abang gak akan biarkan kamu keluar dari kamar," ucap Ihsan dengan pelan.


Kedua pipi Cut memanas karena otaknya langsung berputar dengan kegiatan ranjang mereka yang semakin panas.


"Jangan dibayangin dulu, Sayang. Abang tahu kamu juga ingin," ucap Ihsan dengan jahil seolah tahu isi pikiran istrinya saat ini.


"Ih Abang!" rengek Cut dengan manja. Ihsan tertawa bahagia karena selalu bisa membuat Cut malu ketika berdua bersamanya.


Cup...


****


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama akhirnya Ihsan dan Cut sampai juga di rumah sakit. Ihsan keluar duluan dari mobil setelah itu ia membukakan pintu untuk istrinya dan perhatian Ihsan yang selalu melindungi kepala istrinya dengan tangannya selalu saja membuat Cut merasa hangat.


Keduanya bergandengan tangan menuju ruangan dokter Kinan tetapi tak sengaja keduanya berpapasan dengan Dio yang sedang berjalan seorang diri. Cut dan Dio saling tatap satu sama lain tetapi dengan cepat Cut mengalihkan tatapannya karena genggaman Ihsan semakin erat pada tangannya.


"Ekhem... Kebetulan sekali kita bertemu di sini Dokter Dio," ucap Ihsan dengan tegas terlihat jelas sekarang jika Ihsan sedang menahan rasa cemburunya karena Dio menatap Cut terlalu lama.


"Ahh...I-iya. A-ada apa ya?" tanya Dio dengan tergagap karena ia ketahuan menatap Cut terlalu lama.


"Sayang tolong ambilkan undangan kita untuk dokter Dio," ucap Ihsan yang sengaja menekankan kata 'sayang' kepada Cut.


"Ahhh..iya Bang!" ucap Cut dengan cepat, ia langsung mengambil undangan dari dalam tasnya. "Ini Bang!" ucap Cut kepada suaminya.


Ihsan tersenyum dan menerima undangan dari tangan istrinya. "Kami akan mengadakan acara kecil-kecilan untuk para teman-teman di rumah sakit ini sebagai rasa bahagia kami karena telah menikah. Jangan lupa datang ya Dokter Dio," ucap Ihsan memberikan udangan tersebut.


Dio terdiam matanya menatap tangan Ihsan dan Cut yang saling tertaut serta undangan mewah yang tertuliskan nama Ihsan dan juga Cut di sana.


"Silahkan ambil Dokter Dio. Kami harap Dokter Dio datang dengan membawa pasangan," ucap Ihsan dengan tegas.


Dio mengambil undangan dari tangan Ihsan dengan ragu. Nyawanya seperti tidak ada di tempat saat melihat senyum manis Cut kepada Ihsan, dulu senyum itu hanya untuknya tetapi sekarang jangankan tersenyum menatap dirinya saja Cut terlihat merasa enggan.


"Kami permisi!" ucap Ihsan dengan tegas. Tetapi sebelum melangkah pergi ia mendekati Dio. "Jangan terlalu lama menatap istri saya Dio karena Cut sekarang hanya milik saya! Kamu dilarang menatapnya!" bisik Ihsan dengan cemburu membuat Dio tersentak dan menatap Ihsan dengan pandangan yang sulit diartikan. Seperti rasa tidak suka, cemburu, dan kesal semua rasa itu bercampur menjadi satu.


Sial!


Baru kali ini Dio merasa terintimidasi oleh tatapan dan ucapan Ihsan sekarang.