Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~67 (Harap-Harap Cemas)



...Happy reading...


***


"A-anak kita?" tanya Rama dengan linglung setelahnya ia tersadar saat semakin mendengar kesakitan Ika dan pegangan tangan Ika yang di lengannya semakin kencang.


Rama langsung membopong Ika dengan cepat. Ia menatap Kirana dengan tajam. "Jika terjadi sesuatu dengan anak saya, saya tidak memaafkan kamu Kirana! Sekarang ikut saya, pertangunggjawabkan perbuatanmu!" ucap Rama dengan dingin membuat Kirana semakin gemetar karena takut, Kirana takut di penjara.


"Jangan diam saja seperti patung di sana!" teriak Rama dengan murka membuat Kirana mengikuti dengan langkah gemetar bahkan wajahnya sudah sangat pucat.


"Sstt.. S-sakit..." ucap Ika dengan lirih pandangannya sudah mulai buram membuat Rama semakin panik. Semua karyawan menatap mereka dengan khawatir karena melihat keadaan Ika yang sangat memprihatinkan.


"Kita ke rumah sakit, Sayang! Bertahanlah!" ucap Rama dengan cemas.


"Buka pintunya!" ucap Rama dengan dingin kepada Kirana.


Kirana dengan cepat membukakan pintu mobil Rama. Rama mendudukan Ika di kursi penumpang yang berada di depan.


"Kamu masuk! Jangan pernah mencoba untuk kabur!" ucap Rama dengan dingin.


Kirana semakin cemas. Ia menggigit kukunya dengan kuat. Apa yang sudah ia lakukan? Tidak mungkin ia seperti ini! Semua ini ia lakukan dengan tidak di sengaja, karena Ika telah merebut Rama darinya! Kirana hanya tidak sengaja mendorong Ika!


"Arghh..."


"Bertahanlah, Sayang!" ucap Rama dengan cemas, ia menggenggam tangan Ika dengan kuat. Ika membalas genggaman tangan Rama tak kalah kuatnya hingga kesadarannya mulai menghilang membuat Rama semakin panik. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Ada rasa sakit di hati Kirana saat Rama sangat mencemaskan Ika dan ketika lelaki itu memanggil Ika dengan sebutan 'sayang' bahkan selama mereka berpacaran bisa dihitung berapa kali Rama memanggilmya dengan sebutan 'sayang'. Tetapi ketakutannya lebih besar saat melihat Ika tak sadarkan diri dan tatapan tajam Rama yang seperti ingin membunuhnya.


"A-aku tidak sengaja mendorongnya Akang," ucap Kirana dengan terbata.


"Tetap saja kau melukai calon istri dan anakku!" ucap Rama dengan murka membuat Kirana semakin pucat. Jika ia bisa menghilang maka ia akan menghilang sekarang juga.


Rama menghentikan mobilnya saat mobilnya sudah sampai di rumah sakit. "Dokter! Suster! Tolong istri saya!" teriak Rama dengan keras membuat para tenaga medis langsung membantu Ika untuk ditidurkan di brankar. Dengan cepat tenaga medis tersebut membawa Ika ke UGD.


Rama menarik Kirana supaya mengikutinya untuk melihat keadaan Ika. Kirana hanya bisa pasrah karena di pikirannya hanya ketakutan yang ia dapat tetapi tak dipungkiri jika di dalam hatinya ada kepuasan karena sudah berhasil melukai wanita yang sudah merebut Rama darinya.


****


Leon dan Ryan baru saja datang ke restoran untuk menemui Rama dan Ika. Karena besok Ika akan pergi ke Medan untuk mengelola restoran miliknya di sana. Restoran yang ada di Medan baru buka 6 bulan yang lalu dan ia ingin sang adik mengelolanya tetapi saat ia minta dulu, Ika menolaknya. Entah apa yang membuat sang adik berubah pikiran tetapi Leon menerima keputusan Ika dengan sangat baik karena Leon tahu adiknya sangat pekerja keras berbeda dengan Ica yang sangat manja tetapi Ica juga mempunyai hobi membuat kue seperti Laura, ia ingin membuka toko kue, tentu saja semua dibantu oleh Leon dan Ryan sebagai suami dari Ica.


Keduanya tampak heran ketika melihat keributan di restorannya, semua karyawannya berbisik tidai jelas. Tetapi raut wajah mereka yang cemas membuat Leon dan Ryan saling menatap. "Ada apa? Kenapa kalian malah berdiri di sini dan tidak bekerja?" tanya Leon dengan dingin.


"I-itu, Pak..."


"Itu apa? Ngomong yang jelas!" ucap Ryan dengan gemas.


"I-ibu Ika dibawa pak Rama ke rumah sakit. K-kami melihat banyak darah yang mengalir sela-sela paha ibu Ika, Pak," ucap salah satu karyawan dengan gugup.


"Apa? Kita ke rumah sakit sekarang, Ryan!" ucap Leon dengan panik.


Ryan mengangguk dengan cepat. "Dan kalian lanjutkan bekerja!" ucap Ryan dengan tegas. Semua karyawan kembali membubarkan diri untuk bekerja kembali, mereka tidak ingin mendapat amukan dari sang bos besar.


Ryan melajukan mobilnya dengan cepat, ia melihat Leon yang sangat cemas. "Cepat hubungi ayah dan Bunda," ucap Ryan dengan tegas.


Leon mengangguk. Ia langsung menelepon bunda Saera. "Halo, Bun. Bunda sekarang ke rumah sakit ya," ucap Leon yamg berusaha tenang.


"Bukan Laura, Bun. Tapi Ika! Tapi Leon mohon Bunda dan ayah yang tenang ya, sekarang Leon bersama dengan Ryan akan ke rumah sakit memastikan Ika sakit apa. Bunda mampir juga ke rumah Leon, ajak Laura sekalian ya, Bun!" ucap Leon dengan tenang.


"Iya Bunda akan segera ke sana bersama ayah, Ica, dan Laura. Nanti Bunda akan hubungi kak Ulan. Jaga adikmu, Leon!" ucap Saera dengan serak yang mungkin sedang menahan tangisannya.


"Iya, Bun. Bunda hati-hati!" ucap Leon dengan lembut dan setelah itu ia mematikan teleponnya.


"Ryan, bisa lebih cepat sedikit?!" ucap Leon dengan tidak tenang. Ia merasa Ryan membawa mobilnya terlalu lambat padahal Ryan sudah membawa mobilnya dengan cepat.


"Lo yang tenang. Kita pasti akan sampai, di sana sudah ada Rama yang menjaga Ika," ucap Ryan dengan tegas.


"Gue akhir-akhir ini merasa aneh dengan Ika. Dia terlihat pucat sekali, bahkan Ika gak mau makan nasi," ucap Leon dengan lirih.


"Lo udah coba tanya dia kenapa? Biasanya Ika paling ceria dan jahil dengan Ica. Tapi dia sskarang sering sendiri sih, saat Ica mengganggunya Ika hanya menanggapinya dengan malas. Itu yang gue lihat di rumah bunda," ucap Ryan.


"Gue gak tahu. Tapi gue merasa ada yang tidak beres dengan Ika," ucap Leon dengan tegas.


Setelah itu mereka saling terdiam karena terlalu fokus dengan Ika. Sampai mobil yang dikendarai Ryan sampai di rumah sakit. Leon dan Ryan berlari ke arah administrasi.


"Sus, apa ada pasien yang bernama Ika Tiara Brawijaya?" tanya Leon.


"Tunggu sebentar ya, Pak," ucap Suster tersebut dengan ramah.


Leon mengangguk dengan harap-harap cemas. "Pasien bernama Ika Tiara Brawijaya baru saja ditangani di UGD, Pak. Silahkan menuju ke sana," ucap Suster tersebut dengan ramah menunjuk UGD yang berada di sebelah kanan.


Leon langsung berlari dan diikuti Ryan sebelum itu Ryan sudah mengucapkan terima kasih kepada suster tersebut.


Leon sudah sampai di ruang UGD ia melihat Rama dan seorang gadis yang berpakaian aneh di sana. "Bagaimana keadaan Ika?" tanya Leon dengan dingin membuat Rama tersentak.


"P-pak Leon," ucap Rama dengan gugup.


"Saya tanya bagaimana keadaan Ika, Rama!" teriak Leon dengan menggelegar. Membuat Rama menunduk takut begitu juga dengan Kirana, kemarahan lelaki di depannya lebih menakutkan daripada kemarahan Rama tadi. Sekarang Kirana harus apa?


"I-ika..."


"Keluarga pasien," ucap Dokter yang baru saja keluar.


"Saya Kakaknya, Dok! Bagaimana dengan keadaan adik saya?" tanya Leon dengan tegas menghampiri dokter yang menangani Ika.


Dokter tersebut membuka maskernya sebelum berbicara. "Pasien mengalami...."


****


Tegang banget?


Bakal kena amuk nih Rama!


Ramein gak nih?


Kalau rame bakal up malam nanti!


Ramein dengan like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya!