Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~21 (Ketakutan Laura)



...Happy reading...


****


Laura menjadi sangat pendiam saat bertemu dengan Zico bayangan Zico yang menyiksa semakin menghantuinya. Tamparan Zico yang sangat keras di pipinya membuat Laura menahan perih sejak tadi, ia sengaja menyembunyikannya dari Leon dan juga Ryan yang berada di depannya, sedangkan di sampingnya adalah Ika, perempuan yang dianggap Laura adalah kekasih dari Leon.


"Terima kasih Mbak sudah menolong saya dari orang sinting itu," ucap Ika dengan tulus membuat Leon menatap ke arah belakang adiknya.


"Orang sinting? Zico maksud kamu?" tanya Leon dengan penasaran.


"Iya Mas. Orang yang pernah aku ceritakan di kantor waktu itu," ucap Ika dengan kesal mengingat sikap Zico yang sangat kasar.


"Jangan pernah dekat dengan lelaki itu, mengerti!" ucap Leon dengan tajam kepada adiknya membuat Laura menatap ke arah Leon dengan intens. Hatinya merasa tercubit melihat sikap perhatian Leon yang ditunjukkan oleh Leon kepada Ika.


"Siapa juga yang mau dekat sama itu cowok sinting Mas," ucap Ika menjulurkan lidahnya seperti ingin muntah.


Ryan terkekeh. "Tapi lo cocok cari suami yang sebanding. Galak, biang rusuh seperti lelaki yang di samping gue ini. Sebelas, dua belas dengan Zico," ucap Ryan dengan enteng.


"Masih gantengan Mas Leon lah dimana-mana," ucap Ika menatap sinis ke arah Ryan.


Laura hanya diam. Wanita itu tidak tahu harus berbicara apa kepada ketiga orang yang asyik mengobrol satu sama lain itu. "Mbak Laura kenapa diam saja?" tanya Ika megang tangan Laura. "Astaga Mbak, tangan Mbak sangat dingin dan wajah Mbak juga pucat, ada bekas tamparan di pipi Mbak," ujar Ika dengan panik membuat Leon langsung menatap ke arah Laura.


"Ryan, putar balik. Ke rumah Laura sekarang!" ucap Leon dengan panik.


Ryan langsung memutar balik mobil yang dikendarainya. Iya juga menatap Laura dari kaca mobil dan benar saja wajah wanita itu tampak sangat pucat sekali. Apa pengaruh Zico di dalam kehidupan Laura yang sebenarnya? Mengapa setelah bertemu dengan Zico, Laura menjadi seperti ini?


"Mbak gak apa-apa, kan?" tanya Ika dengan khawatir. Padahal usia Ika lebih tua dari pada Laura tetapi gadis itu tetap memanggil Laura dengan sebutan mbak yang menurutnya lebih sopan.


"A-aku gak apa-apa," ucap Laura dengan lirih. Badan Laura semakin gemetar membuat Ika takut dan memegang tangan Laura yang dingin tetapi suhu tubuhnya semakin panas. Efek yang diberikan Zico kepadanya memang selalu meninggalkan bekas ketakutan yang luar biasa hingga dirinya seperti ini.


"Ika, kamu pindah ke depan! Mas yang ke belakang," ucap Leon dengan cemas. Ika yang juga tidak berpikir jernih langsung menganggukkan kepalanya.


"Berhenti sebentar Ryan!" ucap Leon dengan tegas. Ryan langsung menghentikan mobilnya dan dengan cepat Leon keluar dari mobilnya dan berpindah ke belakang setelah Ika keluar.


Tanpa kata Leon langsung membawa Laura ke dalam pelukannya, wanita itu menurut kali ini. Ryan kembali menjalankan mobilnya dengan cepat, ia melirik ke arah Leon yang sangat cemas dengan keadaan Laura.


"Apa hubungannya kamu dengan Zico?" tanya Leon dengan tajam.


"D-dia... Dia mantan suamiku," ucap Laura membuat Leon langsung mematung.


Shit...


Ternyata wanita yang selama ini ia cintai adalah mantan dari saingannya sendiri. Bagaimana bisa semua ini terjadi? Akan Leon pastikan Zico menyesal telah melepaskan Laura begitu saja dan Leon tidak akan melepaskan Laura kali ini.


"Mantan suami? Jadi kalian pernah menjadi suami istri? Untung saja kalian sudah bercerai," ucap Ryan dengan terkejut. Ada kelegaan yang luar biasa menguasai hati Leon saat ini karena Laura bukan milik siapapun dan dirinya bisa memiliki Laura seutuhnya.


Leon hanya terdiam, memberikan ketenangan kepada Laura. Sampai mobil mereka berhenti di depan gang untung menuju rumah Laura. "Kalian boleh pulang, biar saya yang akan mengantar Laura ke rumahnya," ucap Leon dengan tegas.


"Kita pulang Kak. Ica pasti juga mencari kita," ucap Ika dengan cepat yang diangguki oleh Ryan.


Setelah Leon membantu Laura untuk turun. Ryan dan Ika langsung menjalankan mobilnya kembali. Leon menuntun Laura dengan perlahan sampai ke rumah wanita itu dengan Intan yang masih menjaga Dirga.


"Kak Laura kenapa?" tanya Intan dengan panik saat Leon dan Laura baru saja datang.


"Dia sakit, tolong siapkan teh hangat untuk Laura. Biar saya yang menjaga Laura dan Dirga," ucap Leon dengan tegas.


"B-baik Pak," ucap Intan dengan terbata.


Leon mengantarkan Laura ke kamarnya, ia membaringkan Laura di kasur dengan perlahan. "Tidurlah! Saya akan menggendong Dirga," ucap Leon dengan datar.


"Pak!" panggil Laura dengan mencekal tangan Leon dengan pelan.


"Ya." jawab Leon dengan dingin.


"Terima kasih," jawab Laura dengan tulus.


"Itu tugas saya sebagai bos," jawab Leon dengan datar membuat Laura merasa hatinya ada yang berbeda.


Leon langsung keluar dari kamar Laura dan mengambil Dirga untuk dia gendong. Leon sangat merindukan Dirga karena menurutnya Dirga adalah anaknya bukan anak dari Zico. Intan membiarkan Leon menggendong Dirga, ia masuk ke kamar Laura untuk memberikan teh hangat untuk wanita yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.


"Diminum Kak biar badan agak enakan," ucap Intan dengan lembut. Laura mengangguk ia mengambil gelas yang diberikan Intan dan meminum teh hangat tersebut.


Leon masuk kembali ke kamar Laura dengan menggendong Dirga. Intan yang merasa canggung dengan Leon berpamitan pulang ke rumahnya. Kini, tinggallah Leon dan Laura, mereka sama-sama terdiam karena Leon sibuk bermain dengan Dirga tetapi ekor matanya tetap mengawasi Laura.


"Besok tidak usah bekerja jika masih sakit," ucap Leon dengan tegas.


"InsyaAllah besok saya sudah sehat Pak," ucap Laura dengan lirih.


"Saya gak mau masakan restoran saya tidak enak karena kamu sakit," ucap Leon dengan tajam membuat Laura terdiam padahal Leon sangat mengkhawatirkan kesehatan Laura.


"Baik Pak," ucap Laura dengan sendu.


Leon meletakkan Dirga di kasur saat bayi itu sudah tertidur. Ia menatap instens Laura, tangannya menarik dagu Laura untuk mendekat ke arahnya. Dikecupnya bibir Laura dengan lembut dan entah mengapa saat ini Laura sama sekali tidak memberontak, ia malah menikmati ciuman Leon hingga tanpa sadar Leon membawa Laura kepangkuannya.


"Saya tidak suka kamu sakit hanya karena lelaki itu!" ucap Leon dengan tegas yang diangguki pasrah oleh Laura. Laura menyandarkan kepalanya di dada Leon yang membuatnya nyaman kali ini, ia mendengar detak jantung Leon yang seirama dengannya hingga Laura tertidur di pangkuan Leon.


******


Gimana dengan part ini?


Jangan lupa like, vote dan komentar sebanyak-banyaknya ya