Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~74 (suami Istri?)



...Jangan lupa ramaikan part ini ya. ...


...Happy reading...


****


Hari ini Cut sudah diperbolehkan pulang ke rumahnya. Semua foto-foto dirinya dan Ihsan sudah diletakkan di gudang oleh Sultan dan yang lainnya agar Cut tidak melihat foto Ihsan yang akan membuat kesehatan Cut kembali menurun.


Sultan dan Ika yang melihat keceriaan anaknya saat bersama dengan Dio hanya bisa tersenyum tipis. Andai saja Cut tahu kebenarannya apakah Cut akan membenci mereka? Sudahlah... Sultan tak ingin memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi.


Semua orang menyambut kepulangan Cut dengan rasa bahagia termasuk nenek Saera yang kesehatannya pun mulai menurun.


Cut menatap sekelilingnya dengan wajah yang berpikir keras, karena Cut seperti sangat mengenal rumah ini tetapi sama sekali ia tidak bisa mengingat semuanya.


"Bawa Cut ke kamar Dio! Dia butuh istirahat," ucap Sultan yang merasa kasihan dengan Cut yang tampak berpikir keras untuk mengingatnya.


"Iya, O-m...em Papa!" ucap Dio dengan cepat sebelum Cut bertanya mengapa ia salah memanggil Sultan dengan sebutan 'om'.


Cut yang masih sibuk melihat sekelilingnya tak menyadari jika Dio salah menyebut panggilan untuk papanya.


"Shita ikut?" tanya Dio yang berharap Shita akan ikut bersama mereka ke kamar.


Mashita menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin mengamggu istirahat bundanya, itulah yang ia pikirkan sekarang walau Mashita masih kecil ia seakan paham jika bundanya butuh istirahat.


Dio menghela napasnya dengan kasar, mau tak mau ia dan Cut ke kamar berdua karena semuanya sedang berkumpul bersama. Keributan yang tercipta pasti akan membuat Cut lelah.


"Abang kok kayak tertekan gitu?" tanya Cut saat keduanya berjalan ke arah kamar yang sudah Sultan beritahu kepada Dio di mana kamar Cut.


"Gak, Cut. Abang cuma sedikit capek aja, " ujar Dio dengan tersenyum.


Cut cemberut. Kenapa suaminya ini memanggil dirinya dengan sebutan nama padahal mereka sudah menikah dan mempunyai anak. Bahkan foto dirinya dan juga Dio serta Mashita terpajang sangat cantik di rumah ini. Ya, sebelum Cut pulang Dio dan Sultan sudah mengganti semua foto Ihsan dengan foto Dio. Mereka juga menyadari kesalahan mereka namun apa yang mereka lakukan tetap sama yaitu kesehatan mental Cut.


"Abang kok dari kemarin-kemarin manggil aku dengan sebutan nama sih? Kita kan suami istri kenapa Abang manggil Cut biasa aja?" protes Cut yang membuat Dio kikuk.


Suami istri? Rasanya bahagia jika memang Cut adalah istrinya tetapi pada kenyataanya Dio hanyalah suami bohongan untuk Cut saat ini.


Dio tersenyum tipis menatap ke arah Cut, ternyata tak mudah berbohong seperti ini. Rasanya sangat menyakitkan dan hambar walau ia mencintai Cut. Dio ingin semuanya berjalan karena tidak ada kebohongan di dalamnya.


Cut tersenyum, ia menyenderkan kepalanya di bahu Dio. Keduanya masuk ke dalam kamar, dan entah mengapa Cut terdiam karena merasa sesak pada dadanya saat melihat kamar ini. Seperti ada kenangan yang sama sekali tidak bisa ia jelaskan secara gamblang karena dirinya pun tak tahu apa yang membuat dadanya tiba-tiba saja terasa sesak.


"Kenapa denganku? Saat aku bangun di tumah sakit, semuanya terasa seperti aneh dan menyesakkan," gumam Cut di dalam hati.


"Kamu istirahat ya, Sayang! Abang keluar dulu, " ucap Dio saat menyelimuti Cut.


Cut mencegahnya tangan Dio dengan sangat cepat. "Abang gak merindukan aku?" tanya Cut dengan sorot mata yang sangat dalam.


"M-maksudnya?" tanya Dio dengan terbata. Jangan sampai apa yang ia pikirkan terjadi karena tak mungkin Dio melakukan itu kepada Cut.


Cut menarik tangan Dio hingga Dio terjatuh menunduh tubuh Cut. Dio menelan ludahnya saat hidung mereka bersentuhan, sedikit saja ia bergerak maka bibir mereka akan bertemu.


Cut menatap Dio dengan dalam, ia masih tidak menyangka jika sudah menjadi seorang istri dari lelaki yang memang sangat ia cintai sejak dulu.


"Aku rindu Bang!' gumam Cut dengan ucapan penuh akan sarat yang sangat di mengerti Dio dengan kata 'rindu' yang Cut ucapkan untuknya.


Cup...


Cut memejamkan matanya saat bibirnya sengaja menyatu dengan bibir Dio. Sedangkan Dio hanya terdiam memandang wajah Cut, kedua bibir mereka hanya bersentuhan dan tidak ada yang bergerak sedikit pun hingga Dio sadar jika apa yang mereka lakukan adalah salah. Dio langsung turun dari tubuh Cut yang membuat Cut langsung membuka matanya karena sejujurnya ia menunggu Dio yang akan menyentuhnya terlebih dahulu.


"K-kenapa?" tanya Cut dengan suara yang serak dan kecewa karena Dio tak mau menyentuhnya.


"Hiks...hiks... Abang gak mau nyentuh aku karena aku udah jelek ya? Kepala aku aja udah bekas operasi," ujar Cut menangis yang membuat Dio panik.


"B-bukan gitu, Sayang! Jangan nangisnya! Kamu lupa kalau kamu habis keguguran karena kecelakaan hmm? Abang gak mau melakukannya dulu, Sayang. Jangan sedih ya Abang gak ada maksud apa-apa, kamu cantik di mata Abang," ucap Dio dengan lirih, ia menyeka air mata Cut dengan perlahan.


"Maafkan Abang yang terus menerus berbohong, Cut! "gumam Dio di dalam hati.


Cut sesugukan, ia pikir Dio tak lagi mencintainya karena tubuhnya sudah jelek. Ternyata Dio sangat memikirkan keselamatannya.


"Hiks...maaf!" gumam Cut memeluk Dio dengan erat.


Dio lega akhirnya Cut paham. Ia mencoba menenangkan Cut yang masih menangis di pelukannya. Dio juga masih dibuat pusing bagaimana seterusnya ia akan menghindar jika Cut memintanya seperti ini? Mungkinkah Dio meminta izin beneran menikah dengan Cut kepada kedua orang tua Cut?


"Jangan nangis! Seharusnya Abang yang meminta maaf Cut! "gumam Dio dengan lirih.