Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~35 (Kemarahan keluarga Zico)



...Happy reading...


****


Suasana malam ini terlihat mencekam saat kepala keluarga dari menatap sang anak dengan tajam. Dadanya naik turun kala emosinya semakin terpancing karena anaknya masih saja menatapnya dengan santai.


"Bagaimana mungkin kalian bisa menyembunyikan perpisahan kalian dari kami selama dua tahun lebih?" ucap Farezki, ayah dari Zico dengan tajam.


"Pantas saja kamu tidak pernah membawa Laura maupun Dirga ke rumah kami!" tutur Farezki dengan menghela nafasnya dengan kasar.


"Kami sudah tidak cocok dari awal, Pa. Kalian selalu saja membuat keputusan tanpa berbicara kepadaku," balas Zico dengan tajam.


"Pernikahan kalian kami rencanakan karena kami tahu dan mengerti kalian saling mencintai. Lalu kenapa kamu dan Laura bisa berpisah?" ujar Farezki dengan sarkas, dirinya tidak habis pikir dengan Zico yang bisa menceraikan Laura dengan begitu mudahnya.


"Aku memang mencintai Laura. Tapi rasa cinta itu musnah ketika pernikahan kami terjadi karena Laura dan keluarganya ingin menguasai perusahaan kita," ucap Zico dengan tajam bahkan tangannya mengepal jika mengingat itu semua.


"Kamu salah paham, Zico!" ucap Anggun, mama Zico dengan lirih.


"Salah paham bagaimana, Ma? Bukankah perjodohan ini memang karena perusahaan. Dengan Laura menjadi istri Zico mereka bisa menguasai perusahaan kita. Zico muak dengan semuanya!" ucap Zico dengan dada naik turun emosinya terpancing kala kedua orang tuanya sudah mengetahui rahasia yang sudah ia sembunyikan sejak lama.


Farezki dan Anggun datang ke rumah Zico bermaksud untuk membuat kejutan karena selama ini mereka sudah sangat merindukan anak dan menantu serta cucu mereka yang tidak pernah mereka temui. Zico selalu saja mencari alasan ketika pria itu berkunjung ke rumah orang tuanya saat tidak ada Laura dan Dirga yang ikut bersamanya. Dan ini adalah puncaknya kedua orang tua Zico sudah mengetahui semuanya karena tidak ada keberadaan Laura maupun Dirga di rumah Zico.


"Andai saja kamu tahu, Zico. Perusahaan kita hampir bangkrut jika tidak ada papa mertuamu yang membantu keuangan kita dan sekarang kamu dengan Laura berpisah," ucap Farezki dengan lirih.


Zico menatap papanya tidak percaya, ia tertawa dengan lirih. "Bangkrut? Tidak mungkin Farezki Grup bangkrut! Itu semua akal-akalan Papa saja," ucap Zico dengan terkekeh tajam.


"Akal-akalan? Lihat wajah Papa! Apa sekarang Papa sedang bercanda?" bentak Farezki dengan keras.


Plak...


Farezki menampar Zico dengan kuat. Matanya sudah memerah karena amarah yang ia kuasai saat ini. Anggun berusaha menenangkan suaminya yang terlihat sangat marah. "Sudah, Pa! Kita bisa bicarakan ini baik-baik," ucap Anggun dengan lirih.


"Mau ditaruh di mana wajah Papa di depan Hendra dan Ratna, Ma? Papa sangat malu sekali padahal saat itu mereka sudah mempercayai Laura kepada kita dan Zico. Laura anak satu-satunya mereka yang sangat mereka sayangi dan jika keduanya tahu kalau Zico sudah mencampakkan Laura bagaimana bahkan anak kita melukai fisik dan batin Laura," ucap Farezki dengan lirih.


Zico hanya bisa terdiam menatap kedua orang tuanya. Salah paham? Lucu sekali! Dua tahun lamanya setelah ia bercerai dengan Laura baru ia mengetahui semuanya? Zico tertawa sumbang menatap kedua orang tuanya.


"Kalian tahu, sebelum kalian ingin menikahi aku dengan Laura. Aku sudah ingin melamar gadis itu. Ini lucu sekali, sebenarnya skenario apa yang kalian lakukan?" ucap Zico dengan serak.


Zico tak lagi menjawab pria itu pergi menggunakan mobilnya dengan sangat kencang. Pikirannya sangat kacau sekarang.


Laura?


Dirga?


Dua nama itu yang saat ini ia pikiran. Zico memukul setirnya dengan kencang, pria itu berteriak untuk menghilangkan sesak yang menghimpit dadanya. Setelah beberapa lama Zico mengendarai mobilnya, akhirnya ia berhenti di sebuah club malam. Menghilangkan beban pikirannya dengan minum-minuman dan wanita mungkin bisa membuat pikirannya kembali rileks.


***


Ika bersungut kesal kala mobil yang ia kendarai tiba-tiba mogok. Ia menelepon Leon maupun Rama tidak ada yang mengangkatnya, ponselnya pun sebentar lagi akan mati, sehingga Ika merasa frustasi dengan ponselnya. Kenapa harus mogok di saat seperti ini? Padahal dirinya hanya ingin menikmati angin malam setelah beberapa hari pulang ke Indonesia. Pendidikannya sudah selesai dan Ika memutuskan untuk membantu Leon dalam mengurus restorannya di berbagai cabang.


Lampu mobil yang sangat menyilaukan matanya membuat Ika memberanikan diri untuk menghentikan mobil tersebut.


"Berhenti!" teriak Ika dengan kencang. Mobil tersebut berhenti dan Ika mendekat ke arah pemilik mobil tersebut. Dan betapa terkejutnya Ika saat melihat Zico yang berada di dalam dengan keadaan mabuk.


"Bosan hidup lo!" bentak Zico melihat ke arah Ika.


"Lo yang bosan hidup. Bawa mobil dalam keadaan mobil, sini gue yang bawa mobilnya!" ucap Ika dengan memaksa Zico keluar. Zico yang antara sadar dan tidak sadar berpindah ke arah kursi penumpang.


"Mobil gue mogok. Gue ikut lo ya. Gue antar lo pulang. Rumah lo di mana?" tanya Ika dengan santai karena dirinya sama sekali tidak takut dengan Zico sudah setahun lebih ia tidak bertemu dengan pria yang selalu membuatnya kesal ternyata tidak ada yang berubah dengan Zico.


"Uwekkk..."


"Uwekk..."


"NJIR... LO MUNTAH DI BAJU GUE!" teriak Ika dengan mengumpat. Ika menjadi mual saat mencium bau muntahan Zico yang sama sekali tidak sedap.


*****


Hayo Zico mulai anu nih.


Gimana dengan part ini?


Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya!