Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~18 (Surat Untuk Dio)



...Hei-hei aku kembali lagi dengan kisah Cut, Ihsan, dan Dio. Ada yang bisa menebak alur cerita mereka? Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya biar aku semakin semangat buat update. Seperti biasa kalau rame bakal up siang lagi....


Baru sadar salah update di cerita Dimas😭


...Happy reading...


****


"Dokter Dio!" panggil Dokter Kinan dengan sedikit keras. Saat Dio sudah berhenti Kinan sedikit berlari ke arah Dio.


"Untung Dokter sudah datang," ucap Dokter Kinan dan menghembuskan napasnya dengan perlahan.


"Ada apa Dokter Kinan?" tanya Dio dengan menautkan kedua alisnya. Tak biasa dokter Kinan memanggilnya karena dokter Kinan tidak akrab dengannya, mereka hanya sebatas rekan kerja saja. Yang dekat dengan kinan adalah Cut. Eh Cut? Apa benar gadis itu tidak bekerja lagi di sini? Kenapa dirinya tak mendapat informasi apapun? Tetapi mengapa Cut tidak datang ke rumah sakit sejak kemarin? Apa gadis itu belum sembuh? Pikiran Dio banyak dipenuhi pertanyaan yang membuat dirinya pusing sendiri.


Kinan mengambil sesuatu di saku jas dokternya. "Ini ada surat untuk Dokter Dio. Meisya tadi ke sini dan memberikan ini," ucap Kinam dengan tegas.


"Meisya? Apa gadis itu tidak bekerja lagi hari ini dan seterusnya?" tanya Dio dengan penasaran.


"Tidak tahu, Dokter! Meisya tidak bicara apa-apa yang saya tahu Meisya akan pulang ke Medan untuk berlibur. Tetapi tadi saya melihat Meisya menemui kepala rumah sakit setelah menemui saya," ucap dokter Kinan dengan tegas.


Kinan sengaja berbohong karena pasalnya ia mengetahui semua tentang Cut saat gadis itu curhat kepadanya tadi. Bahkan, Kinan mengetahui jika Cut akan menikah setelah pulang ke Medan. Cut sengaja menyuruh Kinan untuk tidak mengatakan apapun soal dirinya kepada Dio, biarlah semua isi surat yang ia berikan yang akan mewakili perasaannya sekarang kepada Dio.


"B-bertemu dengan kepala rumah sakit?" tanya Dio dengan syok.


Kinan mengangguk saja. Ia tidak ingin banyak bicara karena takut salah bicara kepada Dio, dirinya sudah berjanji kepada Cut untuk tutup mulut soal pernikahan Cut dan Ihsan karena Cut yang akan memberitahukan Dio seorang diri tanpa melalui orang lain tetapi mungkin melalui surat karena Cut tidak ingin bertemu Dio secara langsung, ada hati yang harus ia jaga perasaannya yaitu Ihsan yang sudah mampu mencintainya begitu tulus. Tak mungkin Cut menemui Dio, seseorang yang ia cintai dan perjuangkan di saat Cut sudah mempunyai calon suami. Cut akan belajar mencintai Ihsan dan menghilangkan perasaannya untuk Dio.


"Tunggu! Pasti Dokter Kinan mengetahui semuanya tentang Cut karena kalian sangat dekat," ucap Dio dengan mencegah kepergiaan Kinan.


Kinan tersenyum. "Walaupun saya tahu semuanya tentang Meisya, saya tidak akan mengatakannya kepada anda, Dokter. Karena saya tidak berhak untuk mengatakannya, Meisya yang berhak soal itu semua karena itu adalah kehidupan Meisya. Jika Dokter merasa penasaran segeralah buka surat itu dan baca dengan baik-baik tanpa ada satu kata pun yang terlewat. Saya permisi karena ada pasien yang harus saya tangani," ucap Kinan dengan tegas meninggalkan Dio yang menatap surat berwarna putih itu dengan tatapan bingung.


Dio menghela napasnya dengan berat, lalu ia masuk ke ruangannya untuk membaca surat yang diberikan Cut untuknya melalui Kinan. Ia menjadi penasaran isi surat Cut yang berada di tangannya. Perasaan gelisah mendominasi hatinya saat ini. Biasanya Cut akan mengirimkannya pesan secara langsung, tetapi ini Cut tak seperti biasanya. Mengapa harus memakai surat sedang gadis itu memiliki nomornya sejak lama? Tentu Dio tidak lupa dengan setiap pesan yang Cut kirimkan kepadanya dan sejak kemarin ia kehilangan pesan dari Cut. Sebenarnya ada apa dengan gadis itu? Apa Cut menghindarinya karena dirinya tidak datang ke taman waktu itu?


Dio membuka kertas itu dengan perlahan setelah duduk di kursinya dengan tenang. Dio mencoba membaca setiap kata yang tertulis di surat yang Cut berikan kepadanya.


Assalamualaikum, Bang Dio.


Aku sengaja menulis surat ini untuk Bang Dio karena sejak saat itu mungkin menjadi pertemuan kita yang terakhir. Setelah 100 hari aku perjuang untuk cintaku ke Abang, aku mengatakan menyerah untuk mencintai Abang karena selama ini perjuanganku sama sekali tidak dihargai oleh Abang. Aku bagaikan wanita yang sangat bodoh memperjuangan dan mencintai seseorang yang sama sekali tidak memperjuangkanku dan mencintaiku juga, aku sadar lebih baik dicintai dari pada mencintai. Bertahun-tahun aku sudah mencintai Abang tetapi Bang Dio tidak pernah memperlakukan Aku secara baik. Di mata Abang hanya ada Ratu dan Ratu, gadis yang abang cintai. Mungkin memang kita tidak ditakdirkan bersama walau sejak saat dulu aku ingin kita hidup bersama dengan bahagia, membina keluarga dengan harmonis, aku bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk Bang Dio dan anak-anak kita kelak. Namun, semua itu hanya khayalanku seorang diri karena seseorang yang aku impikan mencintai orang lain. Di saat Abang menolak cintaku Allah mempertemukanku dengan seorang lelaki yang tegas dan bertanggungjawab dan dengan beraninya melamar aku di depan kedua orang tuaku, dan nenek. Sejak saat itu aku mulai merasa bimbang dengan cintaku sendiri. Aku berdoa sepanjang waktu agar Allah membolak-.balikkan hati Abang agar mencintaiku nyatanya hatiku sendirilah yang dibalikkan dengan sangat mudah, aku menerima lamaran lelaki bertanggungjawab itu karena aku yakin ketika aku hidup bersamanya kelak, aku akan diperlakukan dengan baik seperti ratu yang bertahta di Hatinya. Mungkin saat ini aku belum bisa mencintainya tetapi aku akan belajar mencintainya karena sangat mungkin aku bisa mencintainya dengan dalam dan menghapus nama Abang Dio di hatiku karena perhatian dan sikapnya lah yang membuat hatiku merasa nyaman.


Bang Dio mulai saat ini aku berhenti untuk mencintai Abang. Kuharap Bang Dio bahagia bersama dengan Ratu tanpa ada aku yang mengganggumu lagi. Selamat tinggal!


Dio mer*mas surat yang Cut berikan hingga menjadi bulatan kecil dan membuangnya ke tong sampah. Dadanya naik turun karena emosi yang bergejolak di hatinya. Kenapa ia semarah ini? Seharusnya Dio merasa senang karena Dio tak lagi harus berurusan dengan Cut yang setiap hari mengganggu dirinya. Ya, seharusnya Dio merasa senang bukan marah seperti ini! Ini aneh sekali!


"Seharusnya aku merasa senang, Bukan?" tanya Dio pada dirinya sendiri dan mengacak rambutnya dengan kasar.


"Harusnya kamu senang Dio saat Cut tak lagi menganggumu dan mengejarmu seperti orang gila!" ucap Dio dengan sinis. "Tetapi reaksimu mengapa seperti ini? Kenapa kamu marah saat Cut dilamar oleh lelaki lain?" teriak Dio dengan kesal.


"Ya, aku senang karena aku bebas dari gadis itu hahaha..." Dio terkekeh dan mencoba untuk biasa saja dengan kepergiaan Cut, ia tidak tahu jika kedepannya Dio semakin merasa kehilangan Cut.