Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~28 (Pulang Ke Jakarta)



...Hei-hei aku kembali nih masih dengan ke-uwu-an pengantin baru. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya....


...Happy reading...


****


Cut dan Ihsan maupun keluarga yang berasal dari Jakarta sudah berada di bandara, mereka hendak pulang ke Jakarta hari ini juga walau di dalam hati Cut merasa sulit untuk meninggalkan kedua orang tua dan ke-empat adiknya apalagi Meisya masih sakit dan Ika tidak bisa mengantarkan dirinya ke bandara hanya Sultan dan ketiga adiknya saja yang menemaninya saat ini.


"Pa, kabari Cut kalau ada apa-apa sama Meisya ya," ucap Cut dengan pelan.


"Kamu gak usah khawatir dengan Meisya. Demamnya juga sudah turun. Yang terpenting kuliah dan suami kamu urus dengan baik," ucap Sultan dengan lembut.


"Ihsan tolong jaga anak Papa ya! Jangan buat dia menangis," ucap Sultan dengan tegas.


"Pasti Ihsan akan menjaga Cut, Pa. Cut adalah istri tercinta Ihsan," ucap Ihsan memeluk Cut dari samping membuat keluarga yang berada di sana bersiul dan berdehem mengejek kedua pengantin baru tersebut.


"Duh pengantin baru masih hangat-hangatnya ya. Seniornya kalah," ucap Ulan mengipaskan tangannya di rambut seperti merasa panas melihat keromantisan keduanya padahal Ulan dan Alan persis seperti Ihsan dan Cut sampai sekarang.


Ihsan terkekeh dengan kelakuan tante dari pihak istrinya tersebut. Sungguh keluarga dari Cut sangat harmonis sekali, Ihsan juga mempunyai tekad untuk membangun keluarga yang harmonis bersama dengan Cut dan anak-anak mereka kelak.


Suara operator pesawat akan lepas landas sudah terdengar. Cut dan Ihsan memeluk papa dan adik-adiknya sebelum naik ke pesawat begitu pun dengan yang lainnya. Akhirnya Cut dan Ihsan naik ke pesawat diikuti dengan rombongan yang lainnya, Ihsan tak pernah melepas genggaman dari tangan istrinya, rasa hangat menjalar di hati Cut saat sikap suaminya yang selalu membuat Cut merasa nyaman.


Cut bersandar di dada bidang Ihsan saat keduanya sudah duduk di kursi pesawat. Ihsan mengecup puncak kepala Cut dengan sayang. "Siap mengawali kehidupan rumah tangga kita Sayang?" tanya Ihsan dengan lembut.


Cut mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan suaminya. Cut tersenyum dan mengangguk dengan mantap. "InsyaAllah siap, Bang. Asal Abang tetap bersamaku," ucap Cut dengan mantap.


"Abang akan tetap bersama kamu, Sayang. Terima kasih telah memilih Abang sebagai suami kamu. Kita lewati semuanya bersama-sama ya," ucap Ihsan dengan lembut. Mencium kening Cut dengan lama.


Cup...


"Bonus," bisik Ihsan dengan cepat saat ia mencuri ciuman di bibir istrinya.


Cut menatap sekelilingnya. Ia takut ada yang melihat ketika Ihsan mencium bibirnya untung saja semuanya sedang sibuk sendiri dan tidak melihat ke arah mereka.


Ihsan terkekeh dengan kelakuan malu-malu sang istri. Ia memeluk istrinya dengan erat, betapa bahagianya Ihsan mempunyai istri yang sangat cantik dan baik seperti Cut.


"Kurang tidur juga karena perbuatan Abang," ucap Cut dengan gemas.


Ihsan terkekeh. "Biar cepat jadi adonan kita Sayang," bisik Ihsan dengan lirih membuat Cut gemas ia lebih memilih memejamkan mata dari pada meladeni ucapan mesum suaminya.


Ihsan mengelus pipi Cut dengan lembut. "Sayang kamu," ucap Ihsan dengan pelan.


Cut tersenyum dalam tidurnya ia semakin merasa nyaman bersandar di dada bidang Ihsan.


****


Dio menjadi gelisah sejak sang bude mengirimkannya video pernikahan Cut dengan Ihsan. Dio sama sekali tidak bersemangat bekerja, entahlah ia merasa uring-uringan dan kesal dalam bersamaan.


"Kamu dari kemarin kayak mayat hidup, Dio. Apa ada rencana bunuh diri secara perlahan?" sindir mama Dio kepada anaknya.


Dio meletakkan sendoknya sampai berbunyi detingan sendok. "Dio sudah kenyang, Dio berangkat ke rumah sakit dulu," ucap Dio dengan datar.


"Kamu baik-baik saja kan Dio. Hati kamu masih utuh, kan? Apa hati kamu sudah remuk?" tanya mama Dio dengan jahil.


"Ma. Dio gak mau bercanda saat ini," ucap Dio dengan dingin.


Mama Dio mencibikkan bibirnya. "Lihat Pa, anak kamu patah hati jadi gak sopan sama Mama. Gimana ceritanya kalau Dio diundang di pernikahan Cut kemarin bisa-bisa anak kita minum sianida di depan Cut dan Ihsan. Malang sekali nasib anak kita Pa," ucap mama Dio dengan datar.


Papa Dio menahan tawanya saat melihat wajah kesal Dio. "Sudah tua jangan gosipin anaknya mulu. Dio pergi kerja dulu. Assalamualaikum!" ucap Dio dengan ketus.


"Wa'alaikumussalam."


"Siapkan mental ketemu Cut dan Ihsan ya Dio karena yang mama dengar dari bude Ulan mereka pulang hari ini. Duh semakin panas tuh hati," teriak mama Dio saat Dio sudah melangkah keluarga rumah.


"Mama jahil banget sih," ucap papa Dio menggelengkan kepalanya.


"Biar tahu rasa anak kita Pa. Gengsi aja dibesarin sampai Cut menikah dengan yang lain," ucap Mama Dio dengan sinis.