
...Happy reading...
****
Ika menatap Zico yang kesakitan karena tendangannya. Ika bukan wanita yang lemah, ia sangat pandai membuat lelaki takluk dengannya. "Jangan pernah meremehkan wanita! Karena di balik kelemahan wanita ada seribu kekuatan yang lo gak sadari," bisik Ika dengan penepuk pundak Zico yang menatapnya dengan tajam.
"Dan jika gue tahu lo yang menyembunyikan Laura dan juga Dirga. Gue gak segan-segan membuat masa depan lo yang sering mencicipi banyak wanita itu tidak akan bisa bangun lagi!" ancam Ika membuat Zico bergidik ngeri. Satu tendangan Ika saja mampu membuat miliknya berdenyut sakit.
"Lo sudah bermain-main sama gue. Gue gak akan melepaskan lo begitu saja, Ika! Gue akan membuat lo jatuh cinta sama gue!" teriak Zico penuh emosi saat gadis itu berjalan dengan santai keluar dari rumahnya.
"Kita lihat saja nanti siapa yang akan bertekuk lutut, lo atau gue? Sepertinya ini menarik membuat lelaki arogan seperti Zico jatuh cinta sama gue dan setelah itu gue akan pergi meninggalkannya. Hitung-hitung membuat mas Rama mengakui hubungan kami karena cemburu," gumam Ika dengan menyeringai. Otak liciknya sudah merencanakan sesuatu dan Zico menjadi umpannya agar Rama cemburu kepadanya karena selama ini kekasihnya itu terkesan tidak peduli dengannya kecuali mereka sedang berada di atas ranjang.
****
Leon terus mencari keberadaan Laura setelah ia menghancurkan barang-barang di ruangannya. Tentu saja ia akan menemani sahabatnya, ia tidak mau Leon tidak fokus dalam menyetir dan bisa membahayakan nyawa sahabatnya.
"Ke rumah Laura sebentar!" ucap Leon dengan datar yang diangguki oleh Ryan. Ryan langsung melajukan mobilnya ke arah rumah Laura, dari tadi Leon tampak gelisah karena memikirkan Laura dan Dirga. Dan kenapa juga CCTV yang ia pasang tidak bisa berfungsi bahkan rusak? Ada apa sebenarnya? Rasa penasaran terus menghantui hatinya saat ini.
Sesampainya di rumah Laura setelah menempuh perjalan yang lumayan lama karena kemacetan yang terjadi. Leon langsung mengeryit bingung saat ada seorang ibu paruh baya yang sama sekali tidak ia kenal menyapu halaman rumah Laura. Ibu paruh baya tersebut juga menatap pemuda di depannya itu dengan bingung.
"Kalian siapa, ya?" tanya Ibu paruh baya tersebut dengan heran karena kedatangan dua pemuda yang sangat tampan sekali.
"Maaf, Bu. Saya Ryan dan ini Leon, calon suami dari pemilik rumah ini. Dia ingin masuk ke rumah ini untuk mengecek barang calon istrinya," ucap Ryan dengan sopan.
"Maaf, Nak. Rumah ini sudah dijual oleh pemiliknya kemarin dan saya yang sudah membelinya, semua barang yang berada di dalam sudah diambil oleh orang suruhannya kemarin," ucap Ibu paruh baya tersebut dengan tenang tetapi sukses membuat Leon dan Ryan syok.
"D-dijual? Yang benar saja, Bu? Siapa yang menjual rumah ini? Apa wanita muda yang menjualnya?" tanya Leon dengan syok.
"Bukan wanita muda, Nak! Tetapi wanita seusia ibu. Beliau berkata rumah ini tidak ditempati lagi makanya beliau menjualnya," ucap Ibu dengan tenang. "Sebentar jika kalian tidak percaya maka saya akan ambilkan surat-suratnya," ucap Ibu dengan memasuki rumahnya untuk mengambil surat-surat rumah tersebut yang sudah menjadi miliknya.
Leon tampak lemas saat ibu paruh baya tersebut menyerahkan surat-surat kepadanya dan Leon membacanya dengan teliti, benar saja rumah ini sudah dijual dan Leon semakin merasa sesak pada bagian dadanya, ia memijit pelipisnya dengan perlahan karena ia merasa pusing pada kepalanya karena terus memikirkan Laura.
"Om!" panggil Intan dengan lirih. Leon dan Ryan melihat ke arah Intan, gadis itu tampak terlihat sedih sekali. "Apa kak Laura dan Dirga sudah ketemu?" tanya Intan dengan lirih.
"Belum!" jawab Leon dengan singkat.
"Kemarin ada ibu-ibu datang ke sini dan menjual rumah kak Laura. Intan tidak bisa melakukan apa-apa, Om. Intan cuma mendapatkan kalung ini di rumah kak Laura sebelum semua pakaian kak Laura diambil orang-orang suruhan ibu yang telah menjual rumah kak Laura," ucap Intan menyerahkan kalung Laura kepada Leon.
Leon mengambil kalung Laura yang berada di tangan Intan dengan cepat. Ia memeriksa CCTV kecil yang berada di sana. "Intan apa kamu melihat benda kecil yang berada di liontin ini?" tanya Leon dengan cemas karena itu satu-satunya petunjuk yang bisa menemukan dirinya dengan Laura.
Intan tampak berpikir. Lalu ia menggelengkan kepalanya, pertanda ia tidak tahu benda yang dimaksud Leon.
Astaga sudah pupus harapan Leon untuk mendapatkan petunjuk di mana Laura berada!
"Kenapa kamu menyiksa saya seperti ini, Laura? Saya bisa mati jika seperti ini," gumam Leon dengan lirih.
***
Update lagi nih.
Ramein gak nih?
Om Leon frustasi?
Om leon ketemu Laura?
Jangan lupa Ramein dengan like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya.
Share juga cerita ini biar makin banyak yang baca!