
...Kalau ada yang salah tentang metode terapi untuk pasien depresi di cerita ini mohon di koreksi ya. Karena author juga cari sumbernya di google. Mungkin ada psikiater atau dokter di sini yang mengerti mohon bimbingannya....
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
****
"Cut mau ikut Abang!" ucap Cut mendekat ke arah bayangan Ihsan.
Cut ingin memeluknya tetapi tubuh Cut terhuyung ke depan saat bayangan itu kembali menghilang. Cut memejamkan matanya saat merasakan tubuhnya seperti terhempas. Apakah ini akhir hidupnya?
"CUT!" teriak Dio dengan keras.
Dio berlari dengan cepat menyelamatkan Cut yang terhuyung ke depan. Dio menarik tangan Cut saat tubuh wanita itu sudah terjatuh.
"Lepas!" ucap Cut melepas tangan Dio yang berusaha menariknya ke atas.
Dio menarik tubuh Cut untuk naik ke atas kembali, ia berusaha untuk menyelamatkan Cut yang berusaha melepaskan tangannya. Dan dengan susah payah akhirnya Dio bisa menyelamatkan Cut.
"Apa yang kamu lakukan, Cut?" gumam Dio dengan takut memeluk tubuh Cut yang sudah sangat lemas.
"Cut... Ya Allah, Nak!" ucap Sultan dengan lemas, hampir saja Sultan jantungan ketika tidak mendapati Cut di kamarnya.
Cut pingsan di pelukan Dio. Pria itu menggendong Cut dengan mudahnya. "Kita bawa Cut ke kamarnya, Om!" ucap Dio dengan pelan.
Sultan mengangguk. Semua keluarganya sudah menangis karena Cut tiba-tiba hilang dari kamarnya saat semuanya sedang istirahat.
"Cut, anak Mama... Hiks...hiks... Jangan buat Mama takut, Sayang!" ujar Ika dengan menangis, tubuhnya lemas saat terbangun tidak mendapati Cut di ranjang pasiennya. Dan ketika mendengar dari suster jika Dio sedan menyelamatkan Cut yang hampir terjatuh di balkon membuat Ika benar-benar cemas dengan kondisi anaknya.
"Cut, gak apa-apa Tante! Tante tenang ya!" ujar Dio memaksakan senyumannya.
Dio membopong Cut dengan perlahan diikuti oleh Sultan, Ika dan yang lainnya. Semuanya cemas menatap Cut yang pucat seperti tak punya darah lagi.
Dio menidurkan Cut dengan perlahan di ranjang pasien. "Sus, tolong pasang infusnya lagi!" ujar Dio dengan tegas.
"Baik, Dok!" ucap suster dengan sopan.
"Om, bisa kita bicara di ruangan saya?" tanya Dio dengan menatap Sultan.
Sultan mengangguk dengan lirih. Ia tahu ada hal yang serius yang akan dibicarakan oleh Dio kepadanya. "Ma, tolong jaga Cut sebentar ya. Papa mau bicara dengan Dio dulu," ucap Sultan dengan pelan kepada istrinya.
"Iya, Pa!" jawab Ika dengan lirih.
Ika duduk di kursi samping ranjang Cut, ia menggenggam tangan Cut dengan pelan. "Sadar, Nak. Semua hanya titipan, pertemuan dan perpisahan pasti akan terjadi. Kamu jangan menjadi lemah seperti ini. Di mana anak Mama yang kuat?" ujar Ika dengan lirih.
Jika Cut terjatuh dari atap rumah sakit, Ika tidak tahu lagi bagaimana hatinya saat ini. Jantungnya saja seakan sudah berhenti berdetak karena Cut.
****
Dio menatap Sultan dengan serius. "Dio sebenarnya berat untuk mengatakan ini, Om. Tapi dengan berat hati Dio harus menyampaikan. Cut harus dirawat di rumah sakit jiwa, Om. Mengingat keadaan Cut yang kian memburuk, Cut harus di rawat di sana," ucap Dio dengan wajah sendunya.
Sultan menatap Dio dengan sendu, ia menangis tanpa suara. "Pilihan terakhir kemarin apakah masih bisa di lakukan, Dio? O-om gak sanggup melihat Cut harus di bawa ke rumah sakit jiwa. Om memikirkan mentalnya Mashita, dia masih terlalu kecil untuk mendapatkan kenyataan jika bundanya sakit. Om juga tidak tega harus melihat Cut di rumah sakit jiwa," ucap Sultan dengan sendu.
Dio terkejut dengan ucapan Sultan. Ia pikir Sultan sudah menolak pilihan sulit yang ia katakan sebelumnya. "Om serius?" tanya Dio dengan terkejut.
Sultan mengangguk dengan mantap. Ia tidak ingin melihat Cut menderita lebih lama lagi, walaupun Cut bisa sembuh dengan memakan waktu yang terlalu lama, Sultan gak akan sanggup melihat putrinya terus-terusan menderita. Ia harus mengambil langkah cepat, sebagai seorang ayah Sultan sungguh menderita melihat keadaan putrinya yang seperti ini. Rasa bersalah muncuk di diri Sultan.
"Om serius, Dio! Kapan kita bisa melakukannya?" tanya Sultan pada akhirnya.
Dio menatap Sultan dengan serius. "Ada dua metode yang bisa kita lakukan, Om. Yang pertama hipnosis atau hipnoterapi adalah suatu terapi yang dilakukan untuk meningkatkan perhatian dan konsentrasi secara penuh, sehingga pikiran pasien bisa lebih mudah menerima sugesti positif. Orang yang terhipnosis sekilas akan tampak seperti tertidur, tapi sebenarnya mereka tersadar dan sangat fokus serta bisa mengakses alam bawah sadarnya. Pada fase ini, mereka juga akan memasuki fase gelombang otak yang disebut gelombang theta dan delta," ujar Dio dengan serius.
"Dan yang kedua itu terapi Elektrokonvulsif (ECT) atau dikenal dengan terapi kejut listrik, adalah perawatan medis yang digunakan pada pengidap depresi berat atau gangguan bipolar yang tidak dapat diatasi menggunakan metode lain. Tujuan utama dari terapi ini ialah untuk mengembalikan keseimbangan senyawa kimia di otak yang terganggu pada penderita depresi. Dengan terapi ini, diharapkan penderita bisa berpikir lebih baik, dan secara tidak langsung akan membaik juga caranya bersikap dan berperilaku. Terapi ini dilakukan dengan mengalirkan arus listrik minimal untuk memicu kejang (generalized cerebral seizure). Terapi ini dilakukan di bawah bius umum dan dibantu juga dengan pemberian relaksan otot guna meminimalisasi risiko terjadinya cidera. Sembari dilakukan terapi ini, aktifitas otak penderita akan direkam menggunakan EEG (elektroensefalografi). Terapi ini umumnya diberikan sebanyak 2 hingga 3 kali seminggu selama 3-4 minggu (totalnya 6-12 kali terapi)," jelas Dio dengan serius dan Sultan mendengarkannya tak kalah serius juga.
"Untuk Cut metode apa yang baik?" tanya Sultan dengan pelan.
Dio menghela napasnya. "Mengingat depresi Cut cukup berat saya menyarankan agar melakukan terapi ECT saja karena saya yakin jika hipnoterapi kita terapkan pada Cut, Cut akan susah berkonsentrasi karena pikirannya terkadang kosong," ujar Dio dengan tegas.
"Baiklah, segera lakukan yang terbaik untuk kesembuhan Cut, Dio!" ujar Sultan pasrah.
"Baik, Om!"
"Nak, semoga ini adalah pilihan yang tepat! Semoga kamu kembali seperti dulu, Sayang!"