Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~106 (Permintaan Bumil)



...Happy reading...


****


Zico menatap ibu hamil di depannya dengan pandangan penuh cinta. Ia menjadi sangat bucin kepada Intan karena sebuah mimpi yang sangat menyeramkan itu, Zico bertopang dagu saat istrinya memakan nasi padang dengan lahapnya, Zico menjadi menelan ludahnya sendiri melihat rendang daging yang sangat menggiurkan untuknya tetapi Zico tak berani meminta karena takut Intan akan sedih. Intan yang hamil, Intan yang ngidam dan Zico yang morning sickness. Sungguh sangat mengharukan sekali bukan? Zigot dari Zico sangat pandai menyiksanya.


"Enak?" tanya Zico dengan menelan ludahnya sendiri.


Intan mengangguk dengan semangat. "Enak banget, Mas. Makasih udah dibeliin. Tapi Mas gak boleh makan nasi padang ini, semua punya Intan!" ucap Intan dengan lucu, bibirnya masih mengunyah dengan cepat membuat Zico gemas.


Zico mengusap ujung bibir istrinya yang terdapat satu butir nasi di sana. "Pelan-pelan, Sayang. Mas gak akan minta walau sebenarnya Mas mau," ucap Zico dengan terkekeh.


Zico tidak akan menyia-nyiakan moment kehamilan Intan. Ia tidak mau kejadian dulu terulang lagi, ia ingin menjadi lelaki pertama yang tahu perkembangan Zigotnya hingga membentuk sebuah bayi di dalam perut Intan hingga Zigot itu bisa bergerak karena sudah mempunyai tangan dan kaki.


Intan hanya diam, ia memakan nasi padanganya tanpa mempedulikan Zico yang sejak tadi melihatnya. "Mas tiba-tiba aku pengin ayam penyet dengan sambalnya," ucap Intan menghentikan suapannya.


"Belum kenyang?" tanya Zico terkejut karena ini bukan porsi makan Intan. Apakah anaknya benar-benar kelaparan sampai menghabiskan satu porsi nasi padang jumbo di tambah jus mangga dan sekarang sang istri meminta ayam penyet lagi. Benar-benar ajaib anaknya masih kecil saja sudah makan banyak apalagi nanti kalau lahir, bisa-bisa nasi di rumahnya cepat habis. Tapi gak masalah bagi Zico, yang penting anaknya sehat dan tidak kekurangan gizi.


"Delivery aja ya," ucap Zico dengan pelan.


"Mas yang beli langsung! Mas mau anak Mas mirip dengan abang-abang delivery ya?" ucap Intan dengan kesal.


"Gak mau lah! Aku yang capek buat malam-malam sampai keringatan masa anak aku mirip abang-abang pengantar makanan!" ucap Zico tak terima membuat Intan terkekeh geli.


"Ya udah sana beliin!" ucap Intan dengan mengibaskan tangannya.


"Ngusir nih?" tanya Zico dengan mengerucutkan bibirnya.


"Iya. Ngusir sebentar suruh beli makanan. Cepat Mas aku udah laper!" ucap Intan dengan rengekan kecil.


Laper katanya? Astaga perut anaknya terbuat dari apa? Dari karetkah? Bahkan kadang anaknya belum terbentuk sempurna bisa-bisanya menampung makanan sebanyak itu. Pemikiran Zico sangat konyol sekali bukan? Atau karena menjadi bucin tingkat perbucinan nasional otak Zico sudah tidak dapat berfungsi dengan benar? Otaknya perlu diperiksa ulang!


"Iya aku beliin! Kamu jangan kemana-kemana! Jangan mengerjakan sesuatu yang berat! Cukup du..."


Ucapan Zico terhenti kala Intan yang melanjutkannya dengan gaya bicara seperti Zico. "Cukup duduk dan menunggu aku pulang! Aku gak mau kamu capek kasihan anak kita nanti keringatan," ucap Intan dengan kesal. "Aku hamil Mas bukan sakit parah. Lagian mana bisa anak kita keringatan, dia aja masih di dalam perut aku," omel Intan membuat Zico terkekeh lucu mendengar ucapan Intan yang sama persis dengannya.


"Yang bisa keringatan mamanya ya sangat papanya naik main kuda-kudaan," ucap Zico dengan konyol.


Muka Intan sudah memerah, semerah kepiting rebus. Sebelum mendengar suara pekikan istrinya Zico berlari dengan cepat.


"MAS ZICO MESUM!" teriak Intan dan Zico bersamaan. Zico terkekeh melihat istrinya kesal seperti ini, sungguh hiburan yang sangat menyenangkan baginya. Zico semakin mencintai Intan. Dasar mantan casanova bucin!


"Muach... Aku juga cinta kamu, Sayang!" ucap Zico gak nyambung. Sebelum Intan benar-benar melempatnya dengan bantal Zico berlari keluar rumah dan masuk ke mobilnya untuk mencari ayam penyet keinginan istrinya itu.


"Dia Mas Zico atau jin yang menyerupai Mas Zico? Kenapa tingkahnya sangat konyol sekali?" gumam Intan pada dirinya sendiri.


****


Sultan menyembunyikan wajahnya di dada kenyal Ika. Ia menggigit-gigit dengan gemas sampai meninggalkan bekas kemerahan di sana. Untung saja Cut sudah tidak jika anak itu melihat papanya seperti adik bayi pasti Cut akan syok. Mereka sehabis bercinta, keduanya tidak membersihkan diri terlebih dahulu karena Ika yakin sang suami masih memintanya lagi nanti tangannya saja masih sangat nakal di dadanya.


"Abang aku boleh tanya gak?" tanya Ika penasaran.


"Tapi jangan marah ya!" ucap Ika dengan pelan.


"Iya," jawab Sultan dengan lembut.


"Abang juga gini sama kak Lisa gak? Maksud Ika Abang manja gini?" tanya Ika dengan cepat.


Sultan menghentikan aktivitasnya sejenak. Mencoba berpikir mencari jawaban dari pertanyaan istrinya. "Gak! Lisa sangat dewasa sekali, pemikiran Abang dan Lisa lebih dewasa Lisa saat itu. Semua sudah direncakan matang dengan otaknya. Manja juga sering tapi gak sampai seperti ini," jawab Sultan dengan jujur. "Jujur aja mungkin perbedaan umur kita yang lumayan jauh Abang jadi bisa menjadi diri sendiri di depan kamu. Dari dulu memang Abang ingin bisa bermanja-manja dengan istri ataupun sebaliknya," ucap Sultan dengan pelan.


Ika tersenyum mendengar jawaban Sultan. Ia mengelus rambut Sultan dengan lembut. Entahlah memanjakan Sultan sangat nembuatnya senang, hatinya membuncah dengan kebahagiaan kala melihat wajah manja dan rengekan suaminya seperti bayi.


Ika memberanikan diri menindih tubuh Sultan. Hal yang baru pertama kali ia lakukan karena selama ini Sultan yang selalu membuat tubuhnya.


"Dek, ka...mu..." Sultan gugup saat Ika tersenyum sensual di hadapannya.


"Malam ini biar aku yang mengendalikan permainan," gumam Ika dengan lirih.


Glukkkk...


Sultan menelan ludahnya dengan gugup. Sesuatu yang baru pertama kali ia rasakan dan sialnya sangat memanjakan miliknya yang sudah menegang di bawah sana. Sultan memejam matanya dengan penuh kenikmatan saat miliknya tertanam sempurna pada milik Ika. Ia menikmati gerakan Ika yang berada di atasnya hingga suara ******* mereka memenuhi seisi kamar. Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang karena keliaran istrinya. Sunggub ibu hamil dan permintaan tidak bisa ditebak dan sangat menguntungkan Sultan.


****


Pagi harinya seperti kegiatan biasanya. Ika selalu lemas karena morning sickness yang menderanya. Dengan setia Sultan mengurut tengkuk istrinya. Tak apa selama Ika hamil istrinya tak bisa masak toh masih ada bibi yang bisa masak walau rasa masakannya sangat berbeda dengan istrinya, Sultan sama sekali tidak mengeluh tetapi ia mengkhawatirkan kesehatan Ika.


"Sudah lebih baik?" tanya Sultan dengan lirih. Ika mengangguk ia membasuh wajahnya dengan air, sehabis sholat subuh dirinya kembali mual dengan sangat hebat.


Sultan menggendong istrinya dengan perlahan dan menduduklan istrinya di kasur. Sultan mengambil minyak kayu putih yang berada di laci dan mengoleskannya ke kening, leher, dan perut Ika secara bergantian.


"Adek di sini aja! Biar Abang yang lihat Cut!" ucap Sultan dengan lembut.


"Iya Bang!" jawab Ika dengan lemas.


Cup..


Sultan mengecup bibir istrinya dengan lembut. Ia menjadi tak tega kepada Ika andai saja bisa digantikan kepadanya agar mengurangi rasa sakit yang dirasakan istrinya, hampir setiap pagi Ika seperti ini, Sultan dan Cut menjadi tidak tega terkadang Cut pikir gara-gara adiknya mamanya jadi sakit setiap pagi.


"Bang!" panggil Ika dengan litih saat Sultan hendak membuka pintu.


"Iya, Sayang!" jawab Sultan dengan lembut.


"Jangan lama-lama," gumam Ika tersenyum di bibir pucatnya.


****


Tuh part pada bucin semua. Awas gak rame😭😭😭


Jangan lupa like, vote, dan comentnya ya!