
...Jangan lupa follow ig author ya : author_syafitri di sana ada postingan tentang novel aku ya. ...
...Ramaikan part ini ya. ...
...Siapa nih yang kangen novel ini? ...
...Happy reading...
****
Cut merasa deg-degan menunggu Dio pulang ke rumah. Di balik daster yang ia gunakan ada gaun malam yang sudah ia pakai sejak tadi guna menyambut kepulangan sang suami. Pipinya memanas saat ia merasa jika dirinya sangat menginginkan sentuhan Dio.
Cut tampak gelisah, Mashita sudah tertidur dari tadi sedangkan Cut belum bisa tidur menunggu kepulangan Dio.
"Kenapa rasanya seperti malam pertama?" gumam Cut dengan lirih. Sungguh hatinya sangat gelisah menunggu kepulangan Dio sampai-sampai ia tidak bisa tidur padahal jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Ceklek...
Cut menahan napasnya saat mendengar pintu terbuka, ia berpura -pura tidur untuk meredakan degup jantungnya yang mulai menggila. Aroma tubuh Dio langaung tercium saat ia merasakan Dio duduk di pinggir kasur. Cut menelan ludahnya dengan kasar saat Dio mencium keningnya, entah mengapa perasaannya lebih merasa nyaman dari pada sebelumnya. Sentuhan Dio lebih membuat hatinya tenang daripada 4 bulan belakangan ini. Ada apa dengan hatinya? Apa karena Dio akan menyentuhnya malam ini?
"Abang tahu kamu belum tidur, Sayang!" gumam Dio dengan tersenyum.
Cut membuka matanya ia tersenyum malu karena ketahuan ia belum tidur sama sekali oleh Dio.
"Kenapa pura-pura tidur hmm?" tanya Dio dengan mengelus pipi Cut dengan lembut.
Cut menggeleng, ia bangun dari tidurnya dengan perlahan. Dio menatapnya dengan sangat dalam, menyelami rasa yang selama ini sudah bersemayam sangat lama di hatinya. Dio mendekatkan wajahnya ke wajah Cut hingga kedua bibir mereka bertemu.
Cut memejamkan matanya saat Dio mulai menggerakkan bibirnya dengan perlahan. Cut mengalungkan tangannya saat Dio menindihnya dengan perlahan hingga keduanya terbaring di kasur.
Cut menganggukkan kepalanya dengan perlahan, matanya juga sudah terlihat sayu. Dio yang mendapatkan lampu hijau dari sang istri yang baru beberapa jam langsung mencumbu Cut dengan lembut, ia melepas daster Cut dengan perlahan.
"K-kamu..." Dio menelan ludahnya dengan kasar saat melihat gaun malam warna merah menyala yang Cut gunakan, gaun tersebut terluhat sangat tipis dan memperlihatkan tubuh mulus Cut.
Cut menutup matanya malu ketahuan jika dia sudah menyiapkan dirinya untuk menyambut kepulangan Dio.
"A-abang jangan gitu. Aku malu?" ucap Cut dengan pelan.
Dio terkekeh melihat Cut malu-malu di hadapannya. Dia sudah tidak sabar ingin merasakan surga dunia bersama Cut.
"Abang suka, Sayang. Kamu pintar membuat Abang panas dingin seperti ini," ujar Dio dengan terkekeh.
Cut tersenyum hangat, ia mengalungkan tangannya di leher Dio. "Sentuh aku malam ini, Bang!" ujar Cut dengan lirih matanya tersirat mendamba tubuh Dio malam ini.
Dio tersenyum bahagia ia menyentuh Cut dengan lembut. Kedua tubuh mereka sudah sama-sama polos, Dio menggeram nikmat saat miliknya sudah menyatu dengan milik Cut. Cut masih tetap sempit yang membuat Dio terus menggeram nikmat.
Cut mendes*h saat Dio menggerakan miliknya dengan perlahan tetapi lama-kelamaan gerakan Dio semakin cepat yang membuat Cut tak lagi bisa mengontrol des*h*nnya. Sungguh sentuhan Dio membuatnya mabuk kepayang malam ini. Sudah beberapa kali Cut mendapatkan pelepasannnya tetapi Dio belum sama sekali mendapatkannya. Hingga Dio merasa dirinya akan meledak di dalam diri Cut.
"Argghhh..." Dio menggeram nikmat saat mendapatkan pelepasannya.
Cut merasa rahimnya hangat setelah Dio menyemburkan benihnya. Keringat membanjiri tubuh keduanya, napas mereka terasa panas. Dio menenggelamkan wajahnya di dada Cut, ia tersenyum bahagia ketika ia sudah menjadikan Cut istri seutuhnya.
Cut membelai rambut Dio dengan lembut. "Turun Bang berat!" rengek Cut dengan manja.
Dio menggelengkan kepalanya. "Mau lagi, Sayang!" ucap Dio dengan pelan.
Keduanya melakukan penyatuan lagi hingga hampir pagi menjelang. Cut merasa tubuhnya benar-benar remuk meladeni hasrat suaminya yang tak kunjung sudah. Tetapi Cut bahagia akhirnya Dio menyentuhnya lagi setelah sekian lama.