
...Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya. Maaf belum bisa double up karena sibuk kerja....
...Happy reading...
****
Satu bulan kemudian....
Hari-harinya Ihsan dan Cut merasakan sebuah kebahagiaan apalagi saat Ihsan bisa menuruti ngidam sang istri. Tetapi hari ini Ihsan mematung saat melihat kedatangan kedua orang tuanya ke rumahnya.
Ambar, mama Ihsan tersenyum saat melihat anak semata wayang mereka yang qmembukakan pintu untuknya, kedatangannya ke Jakarta memang sengaja untuk bertemu dengan Ihsan dan juga menantu mereka.
"M-mama, P-papa," gumam Ihsan dengan lirih.
"Kamu kenapa? Bukannya senang dengan kedatangan mama dan papa malah kamu takut seperti melihat hantu saja," ujar Mama Ambar tak suka. Biasanya Ihsan akan menyambut kedatangannya dengan bahagia tetapi saat ini anaknya terlihat tak suka. Apa yang terjadi? Apa Cut mengadu yang tidak-tidak pada Ihsan?
"Tidak apa-apa, Ma," ucap Ihsan dengan tenang. "Kenapa Mama dan Papa datang ke ke sini?" tanya Ihsan yang membuat Ambar dan Anton sedikit tersinggung.
"Kamu tidak suka dengan kedatangan mama dan papa?" tanya Anton dengan datar.
Ihsan ingin berkata iya karena kedatangan kedua orang tuanya bisa membuat Cut kembali terluka tetapi Ihsan tak mungkin mengatakan ketidaksukaannya karena bagaimana pun mereka adalah kedua orang tua kandungnya
"Bukan begitu, Pa. Silahkan masuk pa, ma!" ucap Ihsan pada akhirnya.
Mama Ambar dan papa Anton masuk ke rumah anaknya. Mama Ambar melihat ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Cut di rumah ini. "Cut mana?" tanya Mama Ambar.
"Ada di ka...."
"Abang siapa yang data...mama, papa," ucap Cut dengan terkejut bahkan tubuhnya mematung dengan hebat. Ada rasa takut di hatinya jika nanti mama mertuanya meminta hal yang tidak bisa Cut laksanakan kembali.
"Apa kamar menantu Mama?" tanya Mama Ambar dengan ramah. Ia sangat menyayangi Cut tetapi karena Cut belum bisa memberikan keturanan pada keluarganya membuat Ambar jadi seperti itu kepada Cut.
"B-baik, Ma," ucap Cut dengan terbata.
Ihsan mendekat ke arah istrinya ia memeluk istrinya dengan sangat erat untuk menenangkan istrinya yang sedikit terguncang karena kedatangan kedua mertuanya.
"Mama dan papa datang ke sini ada yang ingin kami bicarakan," ucap Mama Ambar dengan tenang.
****
Cut dan Ihsan duduk di depan kedua orang tuanya. Mereka terlihat tegang sekali menanti apa yang ingin mama Ambar dan papa Anton katakan kepada mereka.
Ihsan meneguk ludahnya dengan kasar. keringat dingin muncul di dahinya sekarang, ia merasa ada yang tidak beres dengan pertanyaan mamanya. "I-ingat, Ma," ucap Ihsan.
"Siapa Sari, Abang?" tanya Cut dengan cemas. Semua rasa bercampur aduk menjadi satu di hatinya sekarang. Yang jelas Cut sangat takut sekarang.
"Sari adalah mantan pacar Ihsan waktu SMA, mereka sudah lama pacaran bahkan hampir menikah tetapi mereka putus begitu saja. Dan sekarang Mama ke sini mau mengatakan kepada kamu, Cut. Tolong izinkan Ihsan menikah lagi dengan Sari. Sari adalah dokter kandungan dan rahimnya dinyatakan sehat, Sari bisa memberikan cucu kepada mama dan papa," ucap Ambar dengan memegang tangan Cut sekarang.
Jederr...
"Ma! Ihsan tidak akan menikah lagi! Jadi stop meminta izin pada istri Ihsan!" ucap Ihsan dengan tegas. Sudah cukup kesabarannya selama ini, ia harus bersikap tegas kepada kedua.
"Ihsan dan Sari sudah menjadi masa lalu! Jangan membawa nama wanita itu dalam pernikahan Ihsan dan Cut sekarang! Siapa bilang istri Ihsan tidak bisa memberikan keturanan karena di rahim Cut sekarang ada benih Ihsan di dalam sana, anak Ihsan, Ma!" ucap Ihsan dengan marah.
"M-mama dan papa melakukan untuk kebahagiaan kita semua!" ucap Mama Ambar.
"Iya betul, San. Sari adalah gadis yang baik sama seperti Cut," ucap Anton dengan tenang.
"Kebahagiaan yang mana yang mama maksud? Yang ada kesengsaraan bagi kamu, Ma! Mama dan papa tidak usah ikut campur dengan rumah tangga kami! Tadi kalian tidak dengar jika Cut sedang hamil. H-A-M-I-L, ma!" teriak Ihsan dengan murka.
"H-hamil," ucap Mama Ambar dengan terbata.
"Benar yang dikatakan Ihsan, Cut? Kamu sedang hamil?" tanya Ambar pada Cut yang sejak tadi terlihat diam.
"I-iya, Ma," ucap Cut dengan lirih.
Mama Ambar yang terlihat senang langsung melupakan tentang keinginannya tadi. Ia ingin memeluk Cut tetapi langsung dicegah oleh Ihsan.
"Stop, Ma! Sebaiknya Mama dan Papa pulang saja. Ihsan tidak mau terjadi sesuatu dengan istri Ihsan. Sudah cukup waktu itu mama membuat Cut tertekan!" ucap Ihsan dengan tegas.
"Kamu ngusir mama dan papa?" tanya Mama Ambar tidak percaya.
"Bukan ngusir, Ma. Tetapi saat ini ada hati yang harus Ihsan jaga. Sadar gak sih Ma dengan Mama membahas masa lalu Ihsan di depan Cut itu bisa membuat Cut sedih dan berpengaruh pada janinnya," ucap Ihsan dengan datar.
"Maafkan Mama dan papa. Kami sangat egois," ucap Mama Ambar merasa bersalah.
"Baiklah kami pulang. Maafkan Papa dan mama Cut, jaga kandungan kamu dengam baik ya," ucap Papa Anton.
Cut hanya mengangguk dengan diam. Pikirannya berkecamuk dengan memikirkan satu nama yaitu Sari. Kenapa Ihsan tidak pernah mengatakan tentang Sari kepada dirinya? Apa yang terjadi dengan Ihsan dan Sari di masa lalu? Kenapa mereka bisa batal menikah? Kenapa hatinya sakit sekali mengingat ketidakjujuran Ihsam terhadapnya?