
...Happy reading...
*****
"Pasien harus dirawat selama beberapa hari, karena keadaan pasien sangat lemas, terlebih maag yang diderita pasien membuat pasien merasa sakit diulu hatinya. Saya sarankan pasien mengurangi minuman berkafein seperti kopi."
Perkataan dokter terus terngiang-ngiang di pikiran Laura. Yang ia tahu Leon tidak suka minuman berkafein seperti kopi, kalau pun minum pasti lelaki itu hanya meminumnya sedikit tetapi sekarang kenapa Leon menjadi pecandu kopi termasuk rokok yang dijelaskan oleh Ryan tadi saat dokter sudah pergi.
Laura menggenggam tangan Leon yang sejak tadi belum bangun karena dokter memberikan obat tidur kepada Leon agar beristirahat. "Hiks..hiks maafkan Laura, Mas. Laura gak bermaksud membuat Mas Leon seperti ini! Laura merasa bersalah dengan Mas Leon," gumam Laura dengan mengecup tangan Leon dengan lembut sampai air matanya menjatuhi punggumg tangan Leon.
"Keluarga Leon akan datang besok pagi karena saya tidak mengizinkan mereka datang di saat hari sudah malam seperti ini. Sebaiknya kamu juga pulang, saya yang akan menjaga Leon," ucap Ryan yang baru memasuki ruangan karena tadi ia mengabari Ica jika Leon di rawat di rumah sakit di kota E. Awalnya Ica ingin menyusul bersama keluarganya tetapi dengan tegas Ryan melarang karena tidak ingin terjadi sesuatu dengan Ica dan keluarganya terlebih saat ini sedang hujan deras.
Laura menggelangkan kepalanya menatap sendu ke arah Ryan pertanda ia tidak ingin pulang. "Saya tidak mau pulang, Pak! Biarkan saya di sini menemani mas Leon," ucap Laura dengan lirih.
"Tapi kamu sedang hamil. Leon pasti akan mengkhawatirkan kamu, di saat kamu pergi saja Leon seperti orang gila, dia kehilangan tujuan hidupnya, setiap malam dia terus memikirkan kamu. kopi dan rokok adalah teman setianya selama 4 bulan ini, saya sudah mencegahnya namun Leon berkata dengan tegas jika kedua benda itu bisa membuat pikirannya sedikit tenang beruntung Leon tidak sampai masuk club dan minum minuman keras," jelas Ryan yang membuat Laura semakin berderai air mata.
"Saya tidak mau pulang! Saya ingin tetap di sini menemani mas Leon," gumam Laura dengan tegas membuat Ryan menghela napasnya dengan kasar karena Laura sangat keras kepala seperti Leon.
"Ya sudah terserah kamu. Tapi jika kamu ingin pulang saya bisa mengantarkan kamu karena kedua orang tua kamu dan Dirga sudah pulang duluan, kasihan Dirga jika harus berada di rumah sakit terlalu lama," ucap Ryan dengan tegas.
"Saya tetap gak mau pulang!" ucap Laura dengan keras kepala.
"Baiklah terserah kamu saja. Kalian sama-sama keras kepala," ucap Ryan dengan pasrah. Ia melangkahkan kakinya di sofa dan mendudukkan dirinya di sana, ia memandang Laura dengan tersenyum karena wanita itu sedari tadi menggenggam tangan Leon dan meletakkannya di pipi.
"Jika kamu mencintai Leon kenapa harus pergi?" tanya Ryan dengan penasaran.
Laura menundukkan kepalanya. "S-saya akan jelaskan nanti kalau mas Leon sudah bangun," ucap Laura dengan lirih hatinya berdenyut sakit ketika mengingat kesalahannya kepada Leon. Ryan hanya mengangguk saja, ia kembali memainkan ponselnya mengusir rasa bosan yang mendera hatinya.
Laura hanya diam memandang Leon yang sangat pucat. Rasa bersalahnya kian menjadi-jadi saat menyadari jika Leon sangat kurus dan tidak ter-urus. Laura menyadari ada pergerakan dari tangan Leon, perlahan mata itu kembali terbuka.
"Kamu selalu saja hadir di dalam mimpi saya. Saya lelah, Laura! Saya seperti ingin mati saja," gumam Leon yang masih didengar oleh Laura. Leon belum sepenuhnya sadar, ia menganggap jika ia mimpi bertemu dengan Laura seperti malam-malam sebelumnya.
Laura menggeleng dengan keras. "Aku nyata, Mas! Bukan bayangan di mimpi, Mas!" ucap Laura dengan sendu.
Leon yang merasa jika semuanya adalah nyata karena suara Laura sangat jelas di telinganya dan juga ia bisa merasakan tangannya basah terkena air mata karena menempel di pipi wanita itu. "Saya pikir saya sedang bermimpi," ucap Leon dengan lirih.
Tangannya mengusap air mata Laura dengan perlahan. "Apa kamu sengaja membuat saya seperti ini?" tanya Leon dengan datar. Matanya menatap tajam ke arah Laura membuat wanita itu menunduk dengan takut.
"M-maaf!" gumam Laura dengan sendu. "Hiks...hiks... Aku juga tersiksa! Maafkan aku, Mas!" ucap Laura dengan merengek bahkan hidungnya sudah memerah karena terus-terusan menangis.
"Kamu masih saja sangat cengeng!" ejek Leon dengan terkekeh. "Kamu harus membayarnya, Laura! Kamu sudah membuat saya seperti orang gila! Kamu harus tanggungjawab!" ucap Leon dengan tegas.
Laura mengangguk. "Dengan cara apa aku bisa menebus kesalahanku, Mas? Katakan! Aku tidak ingin Mas membenciku! Apalagi anak ini selalu membuat aku merindukanmu!" ucap Laura dengan menunjuk ke arah perutnya yang sudah membuncit bahkan terlihat lebih besar pada ibu hamil pada umumnya di saat kandungannya baru berjalan 4 bulan.
Leon merasa lucu dengan ucapan Laura. Ia memanfaatkan ucapan Laura untuk membuat wanita itu tidak bisa pergi darinya. "Menikah dengan saya!" ucap Leon dengan tegas.
Laura terdiam menatap ke arah Leon. "Kenapa? Kamu tidak mau meni..."
"Aku mau!" jawab Laura cepat membuat Leon tersenyum.
"Saya tidak mendengarnya! Katakan sekali lagi!" ucap Leon yang sengaja mengerjai Laura.
"Aku mau menikah dengan Mas Leon!" ucap Laura sedikit berteriak. Sadar dengan perbuatannya Laura menunduk malu tidak berani menatap Leon yang sedang tersenyum.
Leon menatap sahabatnya dengan sinis karena sudah mengganggu moment dirinya dengan Laura. "Keluarlah!" ucap Leon dengan datar.
"Lo kacang lupa kulitnya ya! Ingat gak gara-gara gue lo bisa ketemu sama Laura? Sekarang ngusir-ngusir gue lagi! Bilang aja kalau mau bermesraan!" ucap Ryan menyindir sahabatnya.
"Tidak usah dengarkan ucapan nyamuk. Berbaringlah di samping saya karena kamu obat saya!" ucap Leon dengan lembut kepada Laura membuat Ryan mendengkus kesal.
"Lama-lama gue beli baygon juga," gumam Ryan ngenes.
"Tapi sempit!" ucap Laura dengan lirih.
"Masih muat, Sayang!" ucap Leon menepuk ruang yang kosong untuk Laura tidur di sampingnya karena ia sudah bergeser ke kanan.
Dengan patuh Laura naik ke atas brankar, menidurkan dirinya di samping Leon. Leon mengusap perut Laura dengan lembut. "Dia sudah besar!" gumam Leon dengan berkaca-kaca.
"Bukan dia tapi mereka!" protes Laura dengan mengerucutkan bibirnya lucu membuat Leon gemas.
"Mereka?" tanya Leon dengan alis terangkat pertanda lelaki itu bingung.
"Anak kita dua," ucap Laura yang membuat Leon melototkan matanya.
"K-kembar?" tanya Leon dengan terbata.
"Iya," jawab Laura dengan singkat.
Leon yang merasa bahagia menghujani Laura dengan kecupan di seluruh wajahnya dan memeluk wanita itu dengan erat. "Terima kasih, terima kasih!" gumam Leon tak henti-hentinya.
"Lama-lama gue lihat teletubbies kalian berdua. Berpelukan mulu!" protes Ryan yang masih merasa kesal. Dan baru kali ini ia merasa menyesal telah melarang Ica untuk menyusulnya.
"Diam gak?! Atau keluar! Tidur di luar!" ucap Leon dengan dingin kembali seperti dulu karena obat Leon sudah ada di pelukannya.
Siapa sangka Leon bisa bertemu dengan Laura dan ternyata anak mereka kembar. Penantian selama 4 bulan lamanya seakan terbayar dengan kehadiran Laura dan calon anak kembar mereka, jangan lupakan Laura yang sudah mau menikah dengannya. Takdir telah mempertemukan mereka dengan sekian rupa membuat Leon sangat bahagia walau harus menderita terlebih dahulu.
"Istirahatlah! Besok kamu harus menjelaskan semuanya kepada saya," ucap Leon dengan mengecup kening Laura yang membuat Ryan bertambah ngenes, ia berpura-pura memejamkan mata dari pada melihat keduanya bermesraan.
"Tapi elus perut aku!" gumam Laura dengan manja dan dengan senang hati Leon mengelus perut Laura.
"Jangan bandel lagi!"
****
Khusus hari kemerdekaan aku double up dengan part panjang. Kalau berasa kurang panjang khayalin aja dulu๐๐ siang besok aku belum bisa up karena berpergian, insyaAllah malam lanjut ngetik lagi.
Part besok ngebucin!๐๐๐
Ramein lagi gak nih?
Jangan lupa ramein dengan like, vote, dan komentar yang banyak!
Share juga cerita itu agar banyak yang baca. Kalian baca, author bahagia. Kebahagian bisa membuat mood baik author meningkat wkwkwk๐๐
Aku gak bisa balas koment kalian satu persatu tapi aku baca, dan aku like. Sebagai bentuk terima kasih aku buat yang udah dukung cerita ini, mau menghalu bersamaku๐ค๐ค๐ค