
...Hei-hei aku kembali lagi dengan cerita ini. Jangan lupa like vote, dan koment sebanyak-banyaknya ya! Kalau rame bakal up lagi siang seperti biasa. ...
...Yang baca cerita ini dari awal pasti tahu jadwal aku update dong ya!...
...Happy reading...
****
Ihsan menghentikan mobilnya di halamam rumah Saera. Entah mengapa sejak semalam ia kepikiran dengan Cut sampai tidak bisa tidur dengan nyenyak karena Cut tidak membalas pesannya dan hanya dibaca oleh Cut itulah yang membuat Ihsan gelisah.
Ihsan keluar dari mobil dan berjalan dengan cepat ke arah pintu utama rumah Saera. Ihsan menghembuskan napasnya dengan perlahan, jatuh cinta membuatnya jadi seperti ini.
Tok...tok...
"Assalamualaikum!" salam Ihsan sedikit keras hingga suara salamnya dibalas oleh Saera.
"Wa'alaikumussalam. Loh Nak Ihsan, tumben pagi-pagi sudah ke sini?" tanya Saera dengan ramah.
Ihsan tersenyum malu, ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. "Iya, Nek. Saya ke sini untuk bertemu dengan Cut," ucap Ihsan dengan malu-malu.
Saera terkekeh melihat tingkah calon cucu menantunya yang terlihat malu-malu ketika ingin bertemu dengan cucunya. "Cut ada di dalam kamarnya, Ihsan. Semalam dia demam, tolong jaga dia ya jangan sampai kamu menyakiti dia seperti Dio," ucap Saera dengan sendu.
"Cut demam, Nek? Ya Allah, semalam saya sudah bilang ke Cut kalau harus minum obat," ucap Ihsan dengan panik.
"Kamu gak usah sepanik itu. Demamnya sudah turun, Cut hanya merasa lemas saja. Ayo masuk dulu, biar Nenek panggilkan Cut sebentar," ucap Saera dengan lembut.
"S-saya takut mengganggu istirahat Cut, Nek. Sebaiknya saya pulang saja," ucap Ihsan tak enak hati.
"Gak apa-apa. Di dalam juga ada Leon dan Ryan," ucap Saera dengan tersenyum.
"O-om Leon ada di dalam?" tanya Ihsan dengan terbata karena dari sekian banyaknya keluarga Cut hanya Leon lah yang membuat jantungnya berdegup kencang karena takut, sikap dingin, tegas, dan berwibawanya membuat Ihsan segan. Padahal Leon terlihat biasa saja kepada Ihsan bahkan menerima Ihsan dengan baik.
Saera mengangguk. "Ayo masuk!" ucap Saera dengan lembut. Ihsan akhirnya masuk ke dalam rumah Saera dengan langkah pelan.
"Wih calon keponakan nih!" seru Ryan dengan heboh.
Ihsan tersenyum canggung ke arah Ryan. "Om bisa saja!" ucap Ihsan dengan pelan. Ia menyalami Leon dan juga Ryan dengan sopan.
"Duduk! Anggap saja rumah sendiri," ucap Ryan menepuk sofa di sebelahnya.
"Cut demam semalam. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Leon dengan dingin.
Jantung Ihsan mendadak berhenti kala Leon bertanya kepadanya dengan suara yang teramat dingin, bisa-bisa tubuhnya membeku sekarang. "Cut menunggu Dio di taman dekat rumah Om Leon tetapi Dio sama sekali tidak datang. Maaf Om jika saya telat untuk menemui Cut hingga gadis itu kehujanan dan berakhir sakit," ucap Ihsan merasa bersalah.
"Jaga Cut dengan baik! Jangan biarkan lelaki pengecut itu mendekati Cut. Walaupun Dio masih keponakan mas Alan, saya tidak akan segan-segan membuat wajah tampannya menjadi jelek," ucap Leon dengan datar.
"Pasti, Om!" ucap Ihsan sedikit terkejut dengan ucapan Leon kepadanya.
"Bang Ihsan" panggil Cut dengan lirih.
Ihsan yang dipanggil langsung melihat di mana Cut berada. Ia merasa cemas melihat wajah cantik calon istrinya tampak pucat. "Dek, Abang kan sudah katakan minum obat dulu sebelum tidur," ucap Ihsan dengan cemas.
"Bucinnya mengalahkan Mas Leon nih pasti," ucap Ryan dengan lirih. Leon menatap tajam ke arah Ryan, lelaki itu selalu saja merusak suasana walau sudah mempunyai tiga anak.
Ihsan dan Cut yang mendengar ucapan Ryan hanya bisa saling pandang, lalu keduanya tersenyum hangat. "Aku gak apa-apa, Bang. Panasnya sudah turun kok," ucap Cut dengan pelan.
"Mau ke rumah sakit? Periksa ke dokter yuk," ucap Ihsan dengan lembut.
"Gak usah, Bang!" ucap Cut dengan menggelengkan kepalanya.
Ihsan menghela napasnya. Ia tahu Cut tidak mau bertemu dengan Dio dan entah mengapa saat Cut menerima lamarannya Ihsan merasa tidak rela jika Cut dan Dio dalam satu tempat kerja yang sama. Jujur Ihsan merasa sangat cemburu, mungkin benar kata Ryan jika dirinya memang bucin kepada Cut.
"Ihsan, Cut belum sarapan. Bisa bujuk Cut untuk sarapan karena dia belum minum obat," ucap Saera dengan pelan.
Ihsan menatap tajam ke arah Cut. "Dasar calon istri bandel. Makan sekarang!" ucap Ihsan dengan tegas.
"Pahit! Gak mau makan!" ucap Cut dengan lirih.
"Makan, Dek! Atau Abang yang suapi?" tanya Ihsan dengan jahil.
"A-aku makan sendiri!" ucap Cut dengan gugup karena sekarang nenek dan om nya melihat ke arah mereka, Cut merasa malu dengan perhatian Ihsan kepadanya sekarang.
"Sayang, Mas mau di suapi juga dong!" teriak Ryan menuju dapur karena merasa tidak tahan dengan keromantisan Ihsan dan juga Cut. Ryan menjadi iri dan ingin bermanja juga dengan Ica yang sedang berada di dapur bersama Laura.
Saera hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkah menantunya itu. Setiap ada Ryan, Saera bisa tertawa dengan lepas.