Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~94 (Pagi Yang Manis)



...Happy reading...


***


Ika merasakan elusan di pipinya bahkan ia mendengar suara seseorang lelaki yang menyuruhnya untuk bangun.


"Dek, bangun Sayang. Sudah subuh," bisik Sultan dengan lembut. Ia terkekeh lucu saat melihat sang istri bergerak dan mengerjabkan matanya.


"Abang!" panggil Ika dengan terkejut, beberapa detik ia terpaku lalu tersadar jika ia sudah menjadi istri dari seorang Teuku Sultan Rahardian.


"Bersihkan dirimu dulu, Sayang. Setelah itu kita sholat subuh berjamaah," ucap Sultan dengan lembut.


"Cut mana?" tanya Ika dengan bingung karena tidak melihat Cut tidur bersamanya.


"Cut sudah bangun dan sekarang sudah bersama Ibu. Abang tadi yang membujuknya," ucap Sultan dengan pelan.


"Membujuk Cut dengan cara apa?" tanya Ika dengan penasaran.


"Memberikan Cut adik yang sangat lucu!" bisik Sultan membuat kedua pipi Ika memerah.


"Bersihkan dirimu dulu, Dek! Biar Abang yang siapkan sajadah dan mukenah untuk Adek," ucap Sultan dengan tegas.


Perasaan Ika menghangat mendapat perlakuan manis dari suaminya, ia menatap Sultan dengan berkaca-kaca. "Aku beruntung menikah dengan pria sepertimu, Bang!" gumam Ika dengan tersenyum.


"Abang lebih beruntung menikah dengan bidadari cantik," ucap Sultan dengan tersenyum membuat Ika kembali tersipu malu.


"A-aku wudhu dulu," ucap Ika dengan terbata dan setelah itu bangun dari tempat tidurnya dan langsung berlari ke arah kamar mandi.


Sultan hanya menggelengkan kepalanya setelah itu ia menggelar sajadah untuknya dan Ika tak lupa ia menyiapkan mukenah yang sudah ia beli untuk sang istri tercinta.


Setelah Ika keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah segar. Kini giliran Sultan yang masuk ke kamar mandi untuk berwudhu. Hati Ika bergetar melihat mukenah cantik berwarna pink yang berada di kasurnya, Sultan menyiapkan semua keperluannya dengan sangat baik. Bahkan tanpa sepengetahuan Ika, Sultan sudah membelikan semua pakaian sang istri dengan lengkap sampai ke bagian dalamnya berkat bantuan saudara kembar istrinya. Dan semua pakaian itu sudah berjejer rapi di lemari yang berada di rumah mereka di Medan. Tetapi semua pakaian Ika sudah berganti dengan gamis-gamis yang cantik dan nyaman, Sultan ingin Ika menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Perlahan tapi pasti Sultan akan mengubah penampilan sang istri, Sultan tidak memaksa tetapi Sultan yakin Ika tak akan menolaknya karena bagi Sultan kecantikan dan kemolekan tubuh istrinya hanya boleh dilihat oleh dirinya seorang.


Ika menatap Sultan tanpa berkedip saat melihat Sultan memakai baju koko dan juga sarung serta peci di kepalanya sungguh penampilan Sultan kali ini berkali-kali lipat sangat tampan dan Ika kembali terpesona. "Nanti saja lanjutkan terpesonanya dengan ketampanan suamimu ini, Dek! Kita sholat dulu!" ucap Sultan dengan terkekeh.


Sadar jika Sultan mengetahui keterpesonaannya Ika langsung memakai mukenahnya dan akhirnya mereka sholat berjamaah untuk pertama kalinya dan hati Ika benar-benar merasa hangat sekarang.


Kini, keduanya sudah selesai sholat. Sultan berbalik menatap sang istri, hatinya juga menghangat saat tangannya di kecup oleh Ika, bergantian dirinya yang mengecup kening Ika. Sultan membawa Ika kepelukannya setelah itu ia melepas mukena istrinya dan melipatnya. Ika juga tak tinggal diam ia membantu suaminya untuk melipat kembali sajadah mereka. Setelah selesai Sultan menghampiri istrinya dan mendudukkan Ika di tepi ranjang.


"Apa boleh?" tanya Sultan dengan lirih. Satu tangannya sudah berada di pipi Ika.


Ika yang paham dengan maksud pertanyaan suaminya mengangguk dengan malu. Sultan tersenyum mendapat persetujuan dari sang istri, Sultan mulai mengecup seluruh wajah Ika dengan mengecup kening istrinya untuk memulai sesuatu yang harusnya terjadi sejak malam. Bibir keduanya sudah menempel dengan begitu mesra hingga Sultan merebahkan tubuh Ika dengan perlahan tangannya tak tinggal diam ia mencari sesuatu yang kenyal yang membuatnya gemas.


"Aughhhh. Pelan-pelan, Bang!" ucap Ika dengan melenguh saat Sultan berhasil mendapatkan dua gundukan daging kenyal itu. Sultan hanya tersenyum penuh cinta lalu ia melepas bajunya dan baju Ika dengan perlahan ia menelan ludahnya kasar saat dua benda itu tak lagi tertutup dengan penghalang, Sultan menarik selimut untuk menutupi kedua tubuh mereka yang sama-sama polos.


"Sudah siap?" tanya Sultan dengan serak. Ika yang baru mendapatkan pelepasan akhirnya mengangguk dengan pasrah saat Sultan membuka pahanya dengan lebar.


Ika mengeryit saat benda tumpul yang besar dan panjang berusaha menerobos miliknya. Keduanya menahan napas saat benda tersebut sudah masuk sepenuhnya bahkan keduanya sampai mendes*ah dengan panjang. Walaupun Ika sudah sering melakukannya dengan Rama tetapi Sultan merasakan milik Ika begitu sempit hingga menjepit miliknya.


Suara lenguhan dan suara penuh gairah memenuhi kamar hotel saat Sultan terus bergerak di atas tubuh sang istrinya yang bergelinjang kenikmatan bahkan tangan Ika mengelus dadanya berulang kali. Sultan ambruk di tubuh Ika setelah mendapatkan pelepasannya. Ika merasa tubuhnya terasa remuk karena Sultan bergerak dengan liar percintaan mereka juga memakan waktu yang sangat lama karena Sultan sangat perkasa.


Hari semakin terang tetapi keduanya enggan untuk beranjang dari kasur bahkan Sultan meminta jatahnya berulang kali. "Terima kasih, Dek," ucap Sultan dengan napas yang tersengal. Ika dengan malu mengangguk kepalanya masuk ke dada Sultan yang membuatnya nyaman, mereka masih menikmati sisa-sisa percintaan panas mereka.


"Abang ternyata nakal," gumam Ika yang membuat Sultan terbahak. Oo ayolah Sultan tetap menjadi pria normal mana mungkin ia tidak membuat istrinya puas apalagi ini pertama kalinya untuk mereka setelah menjadi suami istri.


"Kalau tidak nakal mana mungkin istri Abang berteriak keenakan sejak tadi," ucap Sultan dengan terkekeh membuat Ika bertambah malu.


Berulang kali Sultan mengecup puncak kepala istrinya. Sultan tahu istrinya merasa lelah karena melayaninya berulang kali, dan Sultan membiarkan Ika untuk istirahat sejenak.


Drrttt...drrrttt..drrrttt


Suara getaran ponsel Ika memaksa wanita itu untuk membuka mata, Sultan yang paham langsung mengambil ponsel istrinya. "Siapa Bang?" tanya Ika dengan lirih.


"Kembaran kamu, Dek. Angkat dulu," ucap Sultan dengan lembut.


"Halo, Ndut!" sapa Ika dengan terkekeh.


"Ish.. Menyebalkan! Awas saja kakak nanti!" teriak Ica dengan kesal.


"Ada apa?" tanya Ika dengan masih terkekeh.


"Gara-gara Kakak memanggilku ndut aku lupa hampir memberi kabar," sungut Ica. "Kak Laura di bawa ke rumah sakit. Sejak semalam ia mengeluh perutnya sakit dan sekarang ketubannya sudah pecah. Kak Laura mau melahirkan," ucap Ica dengan cemas.


"Apa? Aku dan bang Sultan akan segera ke sana!" ucap Ika dengan cemas. Ika langsung mematikan ponselnya.


"Kenapa Dek?" tanya Sultan dengan cemas.


"Kita harus segera bersiap Bang. Kak Laura mau melahirkan kita harus ke rumah sakit," ucap Ika dengan panik.


"Jangan panik. Sebaiknya kita mandi dulu!" ucap Sultan dengan pelan. Akhirnya keduanya mandi bersama untuk mempersingkat waktu agar segera bisa pergi ke rumah sakit.


****


Panas-panas akhinya buka puasa juga😆😆😆


Ramein dengan like, vote, dan coment yang banyak ya!