Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~38 (Ketegasan Ihsan)



...Hei aku kembali lagi. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya....


...Happy reading...


***


Hari ini Cut sudah diperbolehkan pulang setelah dirawat dua hari di rumah sakit. Ihsan dengan sangat siaga membantu sang istri untuk mendorong kursi rodanya. Kedua orang tua Cut sudah datang dari Medan sejak kemarin, mereka sangat bahagia dengan kabar kehamilan Cut tetapi mereka juga merasa sedih karena Cut nyaris saja meminta cerai dari Ihsan karena memikirkan permasalahannya dengan sang mertua.


"Sayang kenapa kamu meminta cerai dari suamimu? Kamu tahukan jika Allah tidak menyukai perceraian," tanya Ika dengan perlahan saat mereka berdua sedang bersama sedangkan Ihsan dan yang lainnya sedang berada di luar.


Cut menundukkan kepalanya. "Aku tidak sanggup jika harus di madu, Ma. Aku bukan wanita yang kuat melihat suamiku mempunyai istri lain selain aku. Dari pada aku sakit hati dan menelan pil kepahitan saat melihat suamiku dan maduku berduaan lebih baik kami bercerai dengan begitu aku tidak harus terluka lebih dalam walau memang aku sudah sangat terluka," ucap Cut dengan jujur.


"Tetapi sekarang aku tidak akan melepaskan Bang Ihsan walau mama mertuaku memintanya nanti karena kami berhak memiliki kehidupan sendiri tanpa campur tangan orang tua," ucap Cut dengan tegas dan mengelus perutnya yang masih datar. Ia kembali kuat karena anaknya dan tak ada satupun yang dapat memisahkan dirinya dan Ihsan kecuali Allah mengambil salah satu di antara mereka.


Itulah pembicaraan Cut dengan Ika waktu itu yang membuat Ika merasa iba dengan anaknya karena tekanan dari besannya Cut menjadi seperti ini. Ika akan menjaga Cut dengan baik, ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan sang anak. Bagaimanapun Cut tetap anaknya walau bukan terlahir dari rahimnya.


"Pelan-pelan, Sayang!" ucap Ihsan saat Cut memasuki mobilnya dengan perlahan.


"Iya, Bang," jawab Cut dengan tersenyum tipis.


Ihsan juga memasuki mobil. Hari ini ia malas untuk membawa mobil dan supir pribadi mereka lah yang akan membawanya, sedangkan keluarga yang lainnya menaiki mobil yang lain. Hari ini Ihsan ingin menikmati waktu bersama istrinya, ia merasa akhir-akhir ini Ihsan sangat sibuk hingga ia tidak tahu apa yang terjadi dengan istri dan mamanya yang membuat Cut akhirnya dilarikan ke rumah sakit karena stres memikirkan ucapan mamanya.


Mobil Ihsan sudah melaju untuk kembali ke rumah mereka. Cut bersandar di dada suaminya untuk mencari kenyamanan, sedangkan Ihsan memeluk tubuh ramping istrinya dan mencium puncak kepala istrinya yang terbalut hijab berawarna coklat. Tidak ada pembicaraan apapun dari keduanya, mereka hanya Diam hingga Cut tertidur di dada suaminya sampai mobil mereka berhenti di rumah mewah milik Ihsan yang sudah menjadi milik istrinya itu. Ihsan sengaja melakukan itu agar kehidupan istrinya terjamin di saat nanti ia sudah tidak bisa menjaga istrinya di dunia karena umur tidak ada yang tahu bukan? Semua aset milik Ihsan sudah beralih nama menjadi milik Cut.


****


Ihsan menidurkan Cut dengan perlahan di kamar mereka sedangkan kedua orang tuanya sedang berada di lantai bawah bersama dengan keluarga yang lainnya. Orang tua Ihsan belum tahu tentang keadaan Cut yang sedang hamil sampai sekarang karena Ihsan tidak ingin mengambil risiko dan membuat istrinya kembali terluka. Ia akan mencari waktu yang tepat untuk membicarakan kehamilan istrinya kepada kedua orang tuanya serta bersikap tegas dengan mereka, bukan Ihsan membala istrinya dan tak menghargai kedua orang tuanya tetapi sikap mamanya sudah sangat keterlaluan. Ini rumah tangganya tak seharusnya orang tuanya ikut campur dengan masalah rumah tangga mereka.


"Abang jangan pergi!" cegah Cut saat melihat Ihsan ingin keluar kamar.


Ihsan tersenyum dan menghampiri istrinya. "Abang hanya ingin ke dapur sebentar. Kenapa, Sayang? Kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Ihsan mengecup kening istrinya dengan sayang.


Cut menggelengkan kepalanya. Ia memeluk perut Ihsan dengan erat.


"Ada yang mengganggu pikiranmu, Dek?" tanya Ihsan yang masih merasa ada yang disembunyikan dari istrinya. "Sebenarnya apa yang mama katakan kepada kamu, Sayang? Tolong jawab yang jujur," desak Ihsan.


Ihsan merasakan bajunya basah dan ia kembali melihat Cut menangis. "Tolong jangan menangis, Sayang. Hatiku sakit melihatnya," gumam Ihsan dengan pelan.


"M-mama menyuruhku untuk rela di madu karena mama sangat menginginkan cucu dari Abang. A-aku tidak mau itu terjadi makanya aku meminta cerai dari Abang. Aku tidak sanggup melihat Abang bersama dengan wanita lain apalagi kalian sampai melakukan itu.."


"Sstt....semua itu tidak akan terjadi, Sayang. Kamu sekarang sudah hamil dan Abang mohon kali ini saja dengarkan permintaan Abang. Tunda dulu koas kamu ya, Sayang. Ini semua demi anak kita, Abang tahu kamu sangat ingin menjadi dokter tetapi semua itu harus ditunda dulu ya, Sayang. Abang tidak ingin kamu kelelahan dan berakibat fatal kepada kamu dan juga anak kita, Abang tidak bisa kehilangan kalian," ucap Ihsan dengan tegas.


Cut terdiam ia menatap wajah Ihsan dengan amat serius. "T-tapi...."


"Tidak ada tapi-tapian, Sayang! Semua ini Abang lakukan demi kamu!" ucap Ihsan dengan tegas.


Cut menganggukkan kepalanya. "Cut akan lakukan apapun agar anak kita tetap baik-baik saja, Bang. Termasuk menunda koas Cut tahun ini," gumam Cut dengan pelan.


"Sebaiknya begitu, Sayang. Abang juga lega mendengarnya," ucap Ihsan dengan senang.


Bagi Ihsan kesehatan istri dan anaknya lebih utama. Untuk cita-cita istrinya bisa dilanjutkan nantinya, Ihsan yakin istrinya akan menjadi dokter hebat nantinya.