
...Jangan lupa ramaikan part ini ya. ...
...Happy reading...
***
Cut tampak ragu saat hendak memasuki ruangan dokter Obgyn. Ia menatap ke arah Dio yang menggenggam tangannya dengan erat, tak ingin membuang waktu Dio ingin Cut melakukan pemeriksaan langsung.
"A-abang yakin Cut hamil? Kalau Cut gak hamil gimana?" tanya Cut dengan pelan.
Dio tersenyum hangat. "Periksa dulu, Sayang. Kalau kamu gak hamil itu artinya kita perlu kerja keras lagi nanti malam," jawab Dio dengan terkekeh pelan tak ingin Cut semakin tegang.
"Abang, Cut serius!" rengek Cut yang membuat Dio mengusap kepala Cut yang terbalut dengan hijab.
"Abang juga serius, Sayang. Ayo kita periksa sebentar siapa tahu memang anak kita sudah hadir di rahim kamu. Kalau pun belum Abang gak apa-apa kita bisa usaha lagi," ucap Dio dengan lembut yang membuat Cut sedikit tenang.
Akhirnya Cut dan Dio masuk ke ruangan dokter kandungan. Dio sudah menelepon dokter tersebut agar memeriksa Cut.
"Selamat siang dokter Risa!" sapa Cut dengan tersenyum tegang.
"Selamat siang dokter Meisya, dokter Dio. Silahkan duduk," ucap dokter Risa dengan tersenyum ramah.
Cut dan Dio duduk di kursi yang telah disediakan dokter Risa.
"Langsung periksa?" tanya dokter Risa yang diangguki semangat oleh Dio.
Dokter Risa tertawa pelan karena melihat semangat Dio yang sangat membara.
"Dokter Dio silahkan bawa dokter Meisya berbaring di sana!" ujar dokter Risa.
"Baik, Dok!" ucap Dio dengan tegas.
Ia menuntun Cut menuju brankar di sana, Cut berbaring pelan hingga dokter Risa dan suster yang membantunya mulai melakukan pemeriksaan.
"Maaf bisa dinaikkan ke atas pakaiannnya?!" ucap dokter Risa dengan sopan.
Cut mengangguk, Dio membantu istrinya dengan perlahan. Setelah selesai dokter Risa mengoleskan gel ke perut Cut dengan gerakan lembut.
Dokter Risa mulai melakukan pemeriksaan. Dio melihat ke arah monitor yang menampilkan hasil USG sang istri dengan harap-harap cemas.
"Gimana, Dok? Istri saya hamil atau tidak?" tanya Dio dengan tak sabaran.
Dokter Risa tersenyum. Ia mengarahkan alat USG agar semakin jelas terlihat oleh Dio. "Dokter Dio bisa lihat dua kantung ini?" tanya dokter Risa.
Dio mengangguk. "Iya, Dok!" ucap Dio.
"Dokter Meisya sedang mengandung bayi kembar," ucap Dokter Risa yang membuat Dio dan Cut terdiam bersamaan.
"K-kembar?" tanya Cut dan Dio bersamaan.
Dokter Risa mengangguk dengan tersenyum manis. "Iya benar!" sahut dokter Risa yang merasa lucu dengan tingkah keduanya yang seharusnya sudah tahu arti dua kantung di rahim Cut karena keduanya juga seorang dokter tetapi mungkin saja mereka syok hingga otak keduanya blank dan tidak bisa berpikir dengan jernih.
"A-aku hamil, Bang!" ucap Cut dengan suara serak menahan tangisnya yang hendak pecah karena bahagia.
"Selamat dokter Dio dan dokter Meisya atas kehamilan pertama anak dokter Dio!" ucap dokter Risa keceplosan.
"Anak pertama? Ini anak kedua saya, Dok!" ucap Cut dengan tegas.
Dio menatap dokter Risa dengan tajam agar dokter Risa menjelaskan dengan cepat kepada Cut.
"M-maksud saya kehamilan pertama anak kembar, Dok. Kan yang sebelumnya keguguran, saya minta anda lebih berhati-hati dan menjaga pola makan agar kandungan anak kuat," ucap dokter Risa.
Hutff... Untung saja dokter Risa mampu menjawabnya jika tidak semua akan terbongkar begitu saja.
Cut hanya ber-o-ria saja karena saat ini ia sedang bahagia.
"Nanti saya akan berikan vitamin untuk dokter Meisya," ucap dokter Risa merasa bersalah kepada dokter Dio.
"Berikan juga kepada suami saya, Dok. Karena suami saya yang merasakan ngidam dan juga mual, saya takut akan mengganggu aktivitasnya karena dia harus bekerja," ucap Cut dengan perhatian.
"Baiklah saya akan memberikan obat pereda mual untuk dokter Dio. Pemeriksaan sudah selesai, dokter Meisya sudah bisa bangun," ucap dokter Risa dengan tersenyum.
Dengan dibantu oleh Dio, Cut kembali bangun dan membenarkan pakaiannya. Dio tersenyun menatap istrinya menyampaikan rasa terima kasih yang tak pernah berujung untuknya.
"Terima kasih, Sayang!" gumam Dio dengan tulis.
Dio mengelus perut Cut dengan lembut. "Terina kasih sudah hadir di sini, Sayang!" gumam Dio dengan bahagia.
"Sama-sama, Ayah!" ucap Cut menirukan suara anak kecil yang membuat Dio berkaca-kaca. Pria itu kembali memeluk Cut dengan erat, ia tak menyangka jika buah cintanya dengan Cut hadir secepat ini. Dan Dio sangat bersyukur, ia berharap kehadiran anaknya akan membuat rumah tangganya dengan Cut akan bahagia sampai mereka tiada nanti.
****
Setelah pulang dari rumah sakit Dio dan Cut langsung menjemput Mashita yang berada di rumah Sultan dan Ika. Keduanya mengabarkan kabar bahagia itu kepada Ika dan Sultan serta kedua orang tua Dio. Mereka merespon dengan rasa bahagia yang sangat membuncah di hati keduanya.
Dio menggendong Mashita dengan gemas karena anaknya masih tertidur. "Shita sebentar lagi jadi kakak!" gumam Dio dengan tersenyum.
Mashita memeluk erat leher Dio. Ia mendengar ucapan ayahnya yang membuat rasa kantuknya menghilang. "Shita jadi kakak, Yah?" tanya Mashita dengan suara yang amat menggemaskan
"Suara Ayah ganggu tidur princess ya?" tanya Dio merasa bersalah.
Mashita menggeleng. "Ayah tadi bilang kalau Shita akan menjadi kakak. Itu benar?" tanya Mashita.
Dio tersenyum mengangguk mengelus kepala Mashita dengan sayang. Keduanya memasuki kamar Mashita sedangkan Cut sedang berada di dapur untuk membuatkan Mashita susu serta untuk dirinya juga.
"Iya, Shita akan jadi kakak karena di perut bunda sekarang ada dua adek bayi," ucap Dio.
Wajah Mashita langsung murung yang membuat Dio bingung. "Kenapa, Sayang? Shita gak suka punya adek?" tanya Dio dengan lembut.
"Ayah masih sayang Shita kalau adek lahir? Shita takut ayah gak sayang shita lagi ayah Ihsan sudah pergi," ucap Mashita yang membuat Dio terdiam dan memeluk Mashita dengan sayang.
"Sampai kapanpun Ayah akan tetap sayang Shita. Shita adalah anak pertama ayah yang paling cantik!"