
...Happy reading...
*****
Dengan perasaan yang cemas luar biasa Leon berlari menyusuri rumah sakit di mana Laura dirawat, napas Leon terasa berat saat ia sudah di depan ruang perawatan Laura. Di sana sudah ada Intan yang sangat cemas bahkan gadis itu menangis sesugukan.
"Bagaimana keadaan Laura, Intan?" tanya Leon dengan panik. Bahkan lelaki itu mengguncang tubuh Intan dengan kencang agar gadis itu menjawab pertanyaannya. Leon begitu terkejut saat Intan menelepon dirinya dengan menggunakan ponsel Laura yang ia pikir adalah Laura yang ingin dirinya kembali ke rumah wanita itu.
"I-intan gak tahu, Om!" ucap Intan dengan terbata. Gadis itu masih sesugukan luar biasa karena melihat darah yang cukup banyak mengalir di sela-sela paha Laura.
"Ceritakan apa yang terjadi, Intan! Kenapa Laura bisa dilarikan ke rumah sakit?" tanya Leon dengan tegas. Tidak ada yang tahu bagaimana paniknya seorang Leon mendapat kabar jika seseorang yang sangat ia cintai masuk rumah sakit setelah bertengkar dengannya.
Leon awalnya tidak ingin pergi dari rumah Laura tetapi Ryan meneleponnya jika ada urusan kantor yang sangat membutuhkannya dan mau tidak mau Leon berangkat ke kantor. Namun, Leon tidak tahu jika kejadiannya akan seperti ini. Bagaimana bisa Laura masuk ke rumah sakit?
"K-kak Laura pendarahan. D-dia menangis memanggil nama Dirga di depan pintu saat Intan ke rumahnya dan Intan melihat ada darah yang mengalir di paha kak Laura. Intan panik! Intan tidak tahu harus melakukan apa untung saja ada bapak-bapak yang menolong Intan membawa kak Laura ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit Intan baru ingat kalau Om Leon itu calon suaminya kak Laura, jadi Intan langsung menelepon Om Leon menggunakan ponsel kak Laura," ucap Intan dengan sesugukan.
Leon mengusap wajahnya dengan kasar mendengar penjelasan Intan. "Emang Dirga kenapa?" tanya Leon dengan dingin. Perasaannya sangat khawatir terhadap Laura maupun Dirga sekarang karena melihat Intan yang tidak berhenti menangis di depannya.
"D-dirga dibawa oleh mantan suami kak Laura. Intan lupa namanya. Hiks...hiks... Om, Kak Laura gak bakal pergi ninggalin kita, kan? Intan takut, Om! Tadi wajah Kak Laura sangat pucat! Apalagi darah yang mengalir...." Intan tidak sanggup meneruskan ucapannya membuat Leon lemas dengan terduduk di sebelah Intan dengan perasaan yang sangat was-was.
Tangan Leon mengepal dengan sangat erat saat mengingat Dirga dibawa oleh Zico. "Kamu ingin bermain-main dengan saya, Zico. Saya pastikan hidup kamu tidak akan tenang!" ucap Leon dengan tajam membuat Intan yang berada di sebelahnya mendengar semuanya, gadis itu menjadi merinding karena ucapan Leon yang sangat mengerikan.
"Tunggu Ayah, Dirga! Kita akan berkumpul kembali!" ucap Leon dengan lirih. Leon tidak bisa membayangkan jika Dirga bersama dengan Zico. Apakah anaknya akan baik-baik saja? Ah.. Sial! Leon tidak bisa tenang jika belum bertemu dengan Laura dan Dirga.
Tak lama setelah mereka terdiam dengan pikiran yang berkecamuk mencemaskan Laura dan Dirga tak lama dokter keluar dari ruangan UGD setelah memeriksa Laura. Leon langsung terbangun dari duduknya dan memghampiri dokter tersebut dengan cemas.
"Keluarga dari pasien?" tanya Dokter yang menangani Laura dengan tenang.
"Iya, Dok. Saya suaminya!" ucap Leon dengan lantang membuat Intan yang berada di sebelahnya tersentak tetapi tidak protes sama sekali karena melihat Leon yang sangat panik dengan keadaan Laura.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Leon dengan cemas karena melihat raut wajah dokter yang berada di depannya ini tidak bisa ditebak sama sekali.
"Pasien mengalami pendarahan tetapi untung saja janin yang ia kandung bisa terselamatkan dengan segera. Terlambat sedikit saja istri Bapak dibawa ke rumah sakit tadi, mungkin kandungan istri Bapak tidak bisa diselamatkan. Saya harap tidak ada yang membuat istri Bapak stes berat karena sangat berakibat fatal pada kandungannya, terlebih kandungannya sangat lemah sekali karena stres yang ia alami," ucap dokter tersebut menjelaskan membuat Leon mematung dengan sangat hebat, tubuhnya kaku bagaikan besi.
"I-istri saya hamil, Dok?" tanya Leon dengan terbata. Perasaannya campur aduk antara bahagia dan juga sedih mendengarnya.
"Iya, Pak. Dan usia kandungannya baru dua minggu. Saya harap jaga istri anda dengan baik, Pak. Agar tidak stes dan istri anda sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Jika begitu saya permisi dulu," ucap Dokter dengan sopan.
"I-intan, saya akan menjadi ayah?" tanya Leon dengan terbata.
Intan mengangguk. Namun, ia menyesali perbuatan Leon kepada Laura yang sudah ia anggap sebagai kakak kandungannya sendiri. Tetapi nasi telah menjadi bubur dan Intan yakin Leon akan bertanggungjawab dengan apa yang ia lakukan kepada Laura.
****
"Kembalikan Dirga!"
Laura terus bergumam dalam tidurnya membuat Leon sangat khawatir dengan keadaan Laura. Ia mengecup kening Laura dengan sangat lembut.
"Saya akan membawa Dirga untuk kamu, Laura. Tapi saya mohon jangan seperti ini kasihan anak kita!" ucap Leon dengan lirih menatap wajah pucat Laura.
Laura mengerjapkan matanya dengan perlahan. Pandangan yang ia lihat pertama kalinya adalah Leon yang menatapnya dengan cemas. Wanita itu langsung memeluk Leon dengan erat, tidak peduli lelaki itu membencinya karena keegoisannya.
"D-dirga, Mas. Dirga dibawa Zico, aku mau Dirga! Hiks...hiks... Tolong bawa Dirga kepadaku!" ucap Laura dengan sesugukan.
Leon membalas pelukan Laura tak kalah eratnya. Dalam pelukan Laura, Leon menyadari ada ketakutan yang luar biasa di sana. Leon berusaha menenangkan Laura dengan kecupan di kepalanya.
"Kamu tenang. Saya akan membawa Dirga kembali. Tetapi ingat kamu jangan stres, ada anak kamu yang lain, anak kita yang juga butuh kamu. Dia tidak suka melihat bundanya sakit apalagi ayahnya tidak suka melihat bundanya menangis!" ucap Leon dengan lembut.
Tubuh Laura mematung dengan sangat hebat. Ia menatap ke arah mata Leon yang selalu menatapnya dengan penuh cinta tetapi Laura mencoba mengelak akan semuanya. "B-bapak sudah tahu?" tanya Laura dengan terbata.
Leon mengangguk dan menghapus air mata Laura dengan kedua ibu jarinya. "Jadi ini yang membuat kamu aneh akhir-akhir ini hmmm? Laura saya tidak akan melepaskan kamu begitu saja! Saya tidak akan membiarkan kamu menderita! Saya bukan Zico! Saya adalah Leon, lelaki yang sangat mencintai kamu bahkan rela melakukan apa saja untuk kamu. Jadi, saya tidak menerima bantahan jika kamu masih menolak lamaran saya. Anak saya sudah tumbuh di rahim kamu dan kamu harus bisa merawatnya dengan baik bersama saya, kamu tidak bisa mengelaknya lagi," ucap Leon dengan tegas membuat Laura kembali menangisa sesugukan karenanya.
"Hiks...hiks... Maaf!" gumam Laura dengan lirih.
"Aku mau Dirga!" ucap Laura dengan lirih. Mengingat Dirga bersama dengan Zico membuat Laura sangat takut.
"Intan, jaga Laura! Saya akan pergi sebentar dan membawa Dirga ke sini!" ucap Leon dengan tegas.
"Iya, Om! Hati-hati!"
"Zico, gara-gara kamu, saya hampir kehilangan anak saya! Saya tidak akan melepaskan kamu begitu saja! Kamu harus membayar semua kesakitan yang Laura dan anak-anak saya rasakan!"
****
Baru siap ngetik om-om kesayangan author udah ganti cover eksklusif dari Noveltoon aja nih. Tambah sayang om Leon nih.
Om kalau Laura gak mau sama om Leon. Aku mau jadi yang kedua🙈🙈🙈🙈
Gimana dengan part ini?
Greget?
Makin cinta sama om Leon?
Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya biar author tambah semangat nih. Siapa tahu setelah banyak yang kasih hadiah author khilaf update lagi ya, kan!