
...Hei-hei aku kembali lagi nih. Hari ini crazy up kalau rame ya wkwk. Jangan lupa ramein dengan like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya....
...Happy reading...
****
Sepulang dari rumah sakit Ihsan terus saja diam tanpa suara, ia masih kesal jika mengingat Dio menatap istrinya dengan dalam, Ihsan tahu tatapan itu. Seperti tatapan penuh penyesalan dari Dio, tetapi semuanya sudah terlambat, sekarang Cut adalah istrinya, ia tidak akan menyerahkan Cut kepada siapa pun termasuk Dio.
Cut menatap suaminya yang langsung masuk ke dalam kamar dengan bingung pasalnya sejak bertemu dengan Dio di rumah sakit tadi Ihsan lebih banyak diam bahkan bungkam tanpa suara.
"Suami kamu kenapa Cut?" tanya Saera yang melihat wajah Ihsan terlihat masam sebelum masuk ke dalam kamar.
"Gak tahu Nek. Sejak tadi jadi pendiam seperti itu, apa karena bertemu bang Dio di rumah sakit ya Nek?" ucap Cut dengan menatap neneknya.
Saera terkekeh, sekarang ia tahu apa penyebab wajah cucu menantunya terlihat masam dan kesal seperti itu, ternyata Ihsan sedang cemburu dengan lelaki yang pernah dicintai Cut. "Kalian bertemu Dio di rumah sakit? Kamu juga kasih undangan itu ke Dio? Apa kamu masih mencintai Dio?" tanya Saera bertubi-tubi membuat Cut menghela napasnya dengan perlahan.
"Satu-satu nanya-nya, Nek! Pertama Cut dan bang Ihsan memang bertemu dengan bang Dio di rumah sakit, kedua bukan aku yang memberikan undangan itu tetapi bang Ihsan langsung karena aku tahu bang Ihsan ingin memberikan langsung kepada bang Dio, ketiga rasa cintaku sudah hilang untuk bang Dio saat bang Ihsan mengucapkan ijab kabul dengan tegas di depan semua saksi," jawab Cut dengan tegas.
"Alhamdulillah kalau begitu, Nenek lega mendengarnya. Sekarang susul suami kamu, Ihsan sepertinya sedang merasa cemburu," ucap Saera dengan tersenyum.
"C-cemburu? Ya Allah, Nek. Cut baru kepikiran soal itu karena tadi bang Dio selalu menatap Cut, itu pasti penyebab bang Ihsan diam seperti itu sampai sekarang," ucap Cut merasa tidak enak hati dengan suaminya.
"Ya sudah sekarang susul suami kamu. Nenek mau ke rumah tante Ica dulu," ucap Saera dengan menepuk punggung cucunya dengan pelan.
"Cut antar ya Nek!" ucap Cut perhatian.
"Tidak usah. Rumah tante kamu cuma di sebelah, Cut. Nenek bisa pergi sendiri," ucap Saera dengan lembut.
Cut tersenyum dengan mengangguk, terkadang rasa khawatirnya terhadap Saera sangat berlebihan sekali. "Hati-hati ya Nek!" ucap Cut membuat Saera menggelengkan kepalanya.
"Iya, cucu Nenek yang paling perhatian," ucap Saera dengan terkekeh.
Setelah Saera pergi barulah Cut menyusul suaminya ke kamar. Dengan perlahan Cut membuka pintu kamar dan menutupnya dengan perlahan juga.
"Abang!" panggil Cut dengan lembut. Cut duduk di pinggir kasur dan mengamati suaminya yang memejamkan mata, Cut seperti sedang membujuk anaknya yang sedang mengambek sekarang.
Tidak ada jawaban dari Ihsan, lelaki itu berpura-pura tidur untuk menghilangkan rasa panas di hatinya sejak tadi.
Cut menggelengkan kepalanya, dengan lembut ia mengelus rambut Ihsan. "Abang kenapa kok diam dari tadi? Cut ada buat salah ya?" tanya Cut sengaja memancing Ihsan untuk berbicara tetapi Ihsan sama sekali tak bersuara lekaki itu masih bungkam sejak tadi.
Cut berpikir sejenak, bagaimana cara membuat suaminya tidak menjadi pendiam seperti ini. Lalu salah satu ide muncul di otaknya tetapi Cut sangat merasa malu melakukannya. Dengan pertimbangan di hatinya dan untuk menyenangkan hati suaminya yang sedang kesal akhirnya Cut bangun dan berjalan ke arah lemari, sedikit ragu ia mengambil sesuatu yang akan membuat suaminya senang.
"Bismillah," gumam Cut di dalam hatinya. Cut mengambil salah satu baju haram yang dibelikan Laura serta Ulan untuknya, ia mengambil baju haram berwarna merah cabai yang sangat seksi, Cut menelan ludahnya sendiri karena merasa malu dengan baju haram yang akan ia kenakan.
Ihsan membuka matanya sedikit saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka dan setelah itu tertutup kembali. "Dasar tidak peka! Bukannya dibujuk suaminya malah pergi ke kamar mandi, gak tahu apa suaminya lagi cemburu," gerutu Ihsan dengan kesal. "Ish...kenapa juga harus bertemu dengan Dio? Padahal aku sudah berniat memberikan undangan itu seorang diri tanpa bersama Cut. Tetapan Dio ke Cut benar-benar membuatku kesal," ucap Ihsan menunju kasur dengan brutal.
Mendengar suara pintu kamar mandi terbuka Ihsan kembali memejamkan matanya, dapat Ihsan rasakan Cut kembali duduk di sampingnya bahkan wangi parfum Cut mengusik indra penciumannya, ia menelan ludahnya dengan kasar ketika tangan Cut mengelus kepalanya dengan sayang. "Abang bangun dong. Cut minta maaf kalau Cut ada salah ke Abang," ucap Cut dengan lembut.
"Hati Cut hanya untuk Abang sekarang. Cut mencintai Bang Ihsan," ucap Cut dengan tulus.
"Gak mau buka mata untuk lihat istri kamu, Bang?"
"Abang Sayang! Suamiku! Cintaku!"
Cukup sudah! Ihsan tidak tahan dengan panggilan mesra istrinya, perlahan Ihsan membuka matanya. Dan betapa terkejutnya Ihsan melihat menampilan istrinya sekarang.
Glek....
Ihsan menelan ludahnya dengan susah payah kala melihat tubuh seksi istrinya hanya terbalut baju haram yang sangat tipis bahkan di pinggungnya menampakkan kulit halus dan putih istrinya.
"D-dek, k-kamu..." Ihsan tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat senyuman manis Cut untuknya.
"Abang suka?" tanya Cut mencoba menahan rasa malunya. Bukannya ini termasuk ibadah karena menyenangkan suaminya?
Ihsan mengangguk dengan mantap lalu langsung menarik Cut agar berbaring di sampingnya. "K-kapan kamu beli baju haram ini, Dek? Ya Tuhan, kamu benar-benar cantik Sayang!" ucap Ihsan dengan mata berbinar memancarkan gairah.
"Ini kado dari tante Ulan, Sayang. Masih banyak di dalam lemari masih aku sembunyikan," ucap Cut dengan malu.
Ihsan menindih tubuh Cut dengan cepat, matanya sudah diliputi gairah yang berkobar untuk menerkam istrinya sekarang juga. "Baru Abang punya rencana untuk mengajak kamu membeli banyak baju haram untuk koleksi," ucap Ihsan dengan serak.
Cut menelan ludahnya dengan gugup. Tatapan Ihsan sangat dalam tidak seperti biasanya, tiba-tiba saja Cut ingin menghilang dari hadapan suaminya sekarang. Tetapi semuanya sudah terlambat karena Ihsan sudah membungkam bibirnya dengan ciuman yang amat sangat panas.
Suara decapan bibir mereka terdengar memenuhi kamar mereka. Cut mendesah lirih saat tangan Ihsan memainkan bukit kembarnya dengan gemas.
"Ahhh..."
"A-abang, ahh..." teriak Cut belingsatan. Sentuhan Ihsan benar-benar membuat Cut mabuk kepayang.
Cut tidak tahu kapan Ihsan melepas baju haramnya dan baju yang melekat pada suaminya, sekarang keduanya benar-benar polos. Tangan Ihsan mengelus paha mulus Cut dengan perlahan membuat Cut seperti cacing kepanasan apalagi lidah suaminya ikut berperan di sana.
"Ahh..." Cut mendesah panjang saat tangan Ihdan memainkan daerah sensitifnya di bawah sana, ia mendapatkan pelepasan pertamanya. Ihsan kembali menindih tubuh istrinya dan kembali mencium Cut dengan mesra. Ihsan melepaskan kedua paha Cut agar miliknya bisa masuk dengan leluasa.
"Uhhh...kamu benar-benar candu istriku!" ucap Ihsan mendesah panjang saat miliknya sudah tertancap dengan sempurna pada milik istrinya.
Siang ini mereka menikmati penyatuan mereka dengan sangat panas, berulang kali Ihsan selalu meminta gaya yang berbeda dari Cut. Berkali-kali juga Cut sudah mendapatkan pelepasannya tetapi Ihsan belum mendapatkannya juga hingga Cut merasa milik suaminya semakin membesar dan sesuatu meledak dalam rahimnya.
Cut dan Ihsan mendesah lega keringat mereka sudah bercucuran karena kegiatan panas mereka.
"Sudah gak mendiami Cut lagi, Bang?" tanya Cut dengan napas tersengal-sengal.
Ihsan menggelengkan kepalanya mana bisa ia mendiami istrinya terlalu lama lagian juga Ihsan menjadi pendiam karena sedang menahan rasa kesal dan cemburunya. "Abang merasa cemburu dengan Dio. Tetapi sekarang tidak lagi karena Abang sudah memiliki kamu seutuhnya, Sayang!" jawab Ihsan dengan jujur.
"Kamu sangat pandai membuat rasa kesal Abang hilang. Belajar dari mana hmm?" tanya Ihsan dengan jahil.
"Aku akan terus belajar buat menyenangkan Abang terutama urusan ranjang," ucap Cut dengan tersenyum tulus.
"Kalau begitu kita mulai ronde kedua!"