
...UPDATE SATU PART DULU BIAR RAME, KALAU RAME SIANG UPDATE LAGI YA! INSYAALAH BAKAL UP 3 EPISODE KALAU KEADAAN MEMUNGKINKAN. UDAH DEMAM BEBERAPA HARI DAN GAK BISA RASA APAPUN. KALAU GAK MEMUNGKINKAN DIGANTI HARI JUMAT YA MBAK/ABANG ONLINE. SAKIT KEPALANYA SIH UDAH REDA TINGGAL LINU-LINU BADANNYA....
...DOAKAN CEPAT SEMBUH GUYSðŸ˜...
...Happy reading...
***
Siang ini Cut sangat merasa lelah dengan kuliahnya karena dirinya baru saja praktek di lab dengan bahan praktek manusia yang sudah meninggal dan baunya saja sangat menyengat. Perut Cut sangat merasa mual sejak tadi tetapi ia masih bisa menahannya. Teman-temannya banyak yang tidak tahan dengan bau busuk pada mayat manusia tersebut akhirnya mereka memutuskan keluar bahkan ada yang sampai pingsan, hanya tinggal Cut dan beberapa teman Cut lainnya yang mampu bertahan bersama dengan profesor yang mengajar mereka tadi.
Saat ini Cut sudah berada di rumah sakit untuk membantu serta mendapatkan ilmu dari dokter-dokter seniornya. Tetapi belum sempat tangannya memegang handle ruangan dokter Brian ada seseorang yang menarik tangannya dengan kuat sampai Cut meringis. Cut tersentak saat mengetahui yang menarik tangannya adalah Dio. Perasaannya menjadi gelisah kalah melihat wajah Dio yang sangat dingin.
"Abang jangan pegang Cut!" ucap Cut dengan gelisah. Pasalnya baru pertama kali ia bersentuhan dengan seseorang lelaki yang bukan dari keluarganya.
Sadar dengan kesalahan yang ia buat Dio langsung melepaskan tarikan tangannya. Tetapi saat ini yang menjadi sasaran adalah tas yang dipakai oleh Cut, ia menariknya kembali agar Cut mengikutinya.
Cut hanya bisa pasrah saat Dio semakin kuat menariknya menuju ruangan pria itu. "Abang Dio kenapa sih?" tanya Cut saat Dio mendorongnya dengan kasar hingga dirinya terduduk di kursi.
Dio memandang Cut dengan tajam. "Kamu sengaja kan mengikuti aku dan Ratu kemarin malam di mall?" tanya Dio dengan tajam.
Cut melotot. Walaupun ia mencintai Dio, Cut tidak ingin menjadi gadis bodoh karena mengikuti Dio dan Ratu makan malam romantis. Itu sama saja menyakiti hatinya dan membunuh dirinya secara perlahan.
"Abang pikir aku gadis bodoh yang mengikuti kalian pergi? Walaupun aku mencintai Abang, aku gak akan melakukan sesuatu yang membuat mata dan hati aku sakit hanya karena melihat keromantisan kalian. Sekarang aku tanya jika aku mengikuti Abang dan Ratu kenapa aku membawa orang tua dan adik-adik aku? Aku tidak segila itu!" ucap Cut dengan tegas. Sebagai gadis yang terhormat, ia tidak ingin direndahkan oleh Dio karena tuduhan yang tidak benar itu.
Dio mematung. Ia merasa kalah telak dengan ucapan Cut yang memang benar adanya, logikanya mengalahkan hatinya dan dengan tega ia menuduh Cut mengikutinya hanya karena mereka berada di dalam satu tempat yang sama.
"Ya bisa saja kamu mengatakan pada kedua orang tuamu jika kamu mencintaiku. Lalu kamu menjadikan kedua orang tua kamu alasan agar bisa mengikutiku tanpa harus ketahuan denganku!" ucap Dio tak mau kalah.
Tangan Cut terkepal dengan erat. Baru kali ini ia merasa sangat sakit dengan ucapan Dio kepadanya dengan menarik napas yang cukup dalam ia menatap Dio dengan pandangan terluka.
"Segitu hinanya aku di mata, Abang? Emangnya tidak boleh jika aku mencintai, Abang? Di sini yang mempunyai perasaan itu aku! Abang tidak boleh melarangnya. Seharusnya Abang sadar, sahabat yang Abang cintainya selama ini hanya memanfaatkan Abang saja ketika kekasihnya sedang tidak bersamanya dan Ratu hanya memanfaatkan uang Abang saja!" ucap Cut dengan tajam.
Brak...
"Kamu jangan menuduh Ratu sembarangan! Dia gadis baik-baik tidak sepertimu yang terang-terangan menyukai pria yang tidak mencintaimu!" ucap Dimas dengan murka.
Air mata Cut seakan hendak mengalir begitu saja tetapi ia tahan semampu yang ia bisa, karena tidak ingin terlihat lemah di depan Dio.
"Aku membicarakan fakta yang sebenarnya! Aku tidak seperti Abang yang menuduhku dengan sembarangan! Seharusnya Abang berkaca dengan ucapan Abang, sebenarnya siapa yang menuduh dan menjadi pihak tertuduh di sini? Hanya karena Abang mencintai Ratu, lalu mata hati Abang di butakan akan cinta yang seperti itu. Jika Ratu adalah gadis baik-baik kenapa dengan sangat tega ia hanya memanfaatkan Abang?" ucap Cut dengan dingin.
"Kamu benar-benar gadis tidak punya etika Cut!" ucap Dio dengan tajam.
Cut tertawa sumbang. Hatinya mulai kebal dengan ucapan tajam Dio yang menusuk hatinya. "Baiklah jika menurut Abang, aku adalah gadis yang tidak punya etika. Maka aku akan melakukannya," ucap Cut dengan datar.
"Gadis gila!" desis Dio tajam.
"Akan aku buktikan kegilaanku itu, Bang!" ucap Cut dengan tenang.
"Stop untuk mencintaiku, Cut!" ucap Dio dengan tajam karena baginya cintanya hanya untuk Ratu dan tidak terbagi untuk siapa pun termasuk Cut.
Dengan menguatkan hatinya, Cut mulai menatap Dio dengan serius. Ia akan membuktikan kegilaannya seperti apa kepada Dio.
"Bang Dio, dengan setulus hati yang Cut punya, Cut mencintai Bang Dio dan Cut ingin menikah dengan Bang Dio," ucap Cut dengan tulus tetapi Dio hanya meliriknya dengan sekilas baginya pusat hidupnya hanyalah seorang Ratu yang bahkan kerap kali membuat hatinya sakit, hanya memanfaatkan dirinya sebagai sahabat. Tetapi mata hatinya seakan dibutakan oleh cintanya hingga fakta yang terlihat pun tidak bisa dilihat dengan benar oleh Dio.
Jujur saja Dio sangat terkejut dengan ucapan Cut. Tetapi ia sangat pandai menyembunyikan semuanya, seakan ia mengetahui apa yang akan Cut katakan kepadanya.
"Sayangnya gue gak cinta sama lo!" balas Dio dengan Cuek bahkan ponselnya lebih terlihat menarik dari pada cewek cantik di depannya karena saat ini Ratu sedang mengirimkan pesan untuknya.
"Izinkan Cut meyakinkan Bang Dio dalam 100 hari. Kalau dalam 100 hari Bang Dio gak merasakan cinta sedikit pun ke Cut, Cut akan pergi dari kehidupan Bang Dio dan menghilangkan rasa cinta ini," ucap Cut dengan serius.
Dio lebih memilih pergi dan meninggalkan Cut yang mematung. Gadis itu tidak menangis, ia menghela napasnya untuk meyakinkan diri jika dirinya bisa, karena Cut tahu selama ini Ratu tidak tulus bersahabat dengan Dio.
Jika wanita sudah memakai logika maka tamatlah riwayat lelaki. Mungkin itulah yang akan Dio rasakan nantinya.
*****
Cut pulang ke rumahnya pukul 8 malam karena di saat di rumah sakit tadi pasien Dio dan Bryan cukup banyak membuat Cut sangat kelelahan karena sejak siang ia belum makan, Cut masih teringat dengan mayat yang menjadi bahan prakteknya tadi di kampus.
"Kenapa Ma? Belum baikan sama papa?" tanya Cut saat melihat mamanya sendiri di ruang TV.
Ika menggelengkan kepalanya. Ternyata jika lelaki sudah cemburu susah sekali bujukannya. Itulah yang di rasakan Ika sejak kemarin malam ketika membujuk Sultan.
"Papa kamu itu semakin tua semakin cemburuan," keluh Ika frustasi.
Cut terkekeh membenarkan ucapan mamanya. "Sabar, Ma. Lelaki tua banyak tingkahnya," ucap Cut dengan tertawa kecil.
"Siapa yang tua?" tanya Sultan dengan tajam.
"Papalah!" jawab kedua wanita itu dengan tegas.
Sultan mencibikkan bibirnya menatap istri dan anaknya dengan tajam. "Iya Papa sudah tua! Puas kalian!" ucap Sultan dengan ketus.
Cut terkekeh geli sedangkan Ika hanya tersenyum tipis. "Jangan diami Mama lagi, Pa!" ucap Ika dengan sendu.
"Jangan ramah tamah dengan mantan!" ucap Sultan tak suka.
Cut yang merasa menjadi orang ketiga di tengah-tengah papa dan mamanya pamit undur diri ke kamarnya.
"Aku ke kamar dulu Pa, Ma," ucap Cut dengan lembut.
Sultan dan Ika mengangguk tanpa melihat ke arah sang anak yang sudah berlalu pergi ke kamarnya.
"Aku cuma bertanya kemarin, Sayang. Gak ada bermaksud lebih," ucap Cut dengan lirih.
"Abang maafkan kalau malam ini Abang dapat jatah 5 ronde!" ucap Sultan dengan entengnya membuat Ika melongo mendengar permintaan Sultan.
Benar-benar pria tua mesum!
"Bagaimana?" tanya Sultan dengan tertawa sinis saat Ika menelan ludahnya dengan kasar. "Itu sebagai hukuman karena kamu sudah sangat ramah dengan mantan terindah," ucap Sultan.
"Gak akan jadi mantan kalau masih jadi yang terindah!" ucap Ika dengan kesal. Ia menjadi ingat masa lalu kelamnya yang membuat Ika semakin merasa disudutkan oleh Sultan.
"Ya sudah kalah Abang gak mau maafin aku! Aku bisa tidur sama Bunda malam ini!" ucap Ika dengan sinis.
Gawat! Sultan merasa salah bicara kali ini. Niatnya ia hanya ingin mendapatkan jatah malamnya saja.
"S-sayang, bukan gitu maksud Abang," ucap Sultan kelagapan.
Dengan kesal Ika meninggalkan suaminya begitu saja.
"Sayang maaf!"
Siapa yang salah sebenarnya di sini? Kenapa Ika menjadi balik marah kepadanya?
******
Jangan lupa ramein. Siapa tahu sakitnya hilang😪
Like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya