Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~53 (Tak Bisa Tanpamu)



...Happy reading...


****


Sudah dua hari Vera berada di Yogyakarta dan ia menginap di rumah kakak sulungnya. Ia mencoba fokus dengan pekerjaannya di sini. Namun, bayangan Dirga selalu menghancurkan perasaannya. Seperti sekarang fokus Vera sudah terpecah belah karena ia memikirkan Dirga yang sama sekali tak memberikannya kabar setelah ia mengirimkan pesan dua hari yang lalu jika ia sudah sampai dengan selamat di Yogyakarta dan jawaban singkat Dirga sungguh membuat Vera sangat kecewa. Ia pikir Dirga akan merasa rindu dengannya dan akan terus menerornya dengan pesan atau panggilan tetapi ternyata tidak, Dirga malah sama sekali tidak mengabarinya.


"Kamu kenapa? Kakak lihat kamu sama sekali tidak fokus dengan pekerjaanmu?" tanya Fadly, kakak sulung Vera yang menetap di Yogyakarta bersama dengan istri dan kedua anak mereka.


Vera menatap kakaknnya. "Hanya sedikit merasa rindu dengan papa dan mama," ucap Vera tak sepenuhnya berbohong. Walau kenyataannya di otak dan hatinya lebih bnyak merindukan Dirga.


Sial!


Vera berhasil dijungkir balikkan perasaannya oleh lelaki muda yang berbeda usia 6 tahun itu dengannya.


Fadly menatap wajah adiknya dengan memicingkan matanya, wajah adiknya tampak pucat tak seperti biasanya.


Sedangkan Vera menutup hidungnya dengan cepat kala bau parfum yang dipakai Fadly sangat menyengat di hidungnya sampai-sampai Vera merasa mual sekarang. "Jangan mendekat, Kak! Tubuh Kakak bau busuk!" teriak Vera dengan cepat kala kakaknya mendekat ke arahnya.


"Bau busuk?" tanya Fadly dengan wajah yang sangat aneh. Ia mencium ketiaknya sendiri tetapi ia hanya menciun parfum yang selama ini memang ia pakai karena parfum tersebut adalah parfum kesukaannya dan sang istri.


"Ini wangi parfum mahal kamu bilang bau busuk Vera? Astaga yang benar saja, Dek? Hidung kamu sepertinya bermasalah!" ucap Fadly yang merasa tak terima jika dirinya dikatakan bau busuk oleh adiknya sendiri, jelas-jelas wangi parfum mahal dan juga Fadly sudah mandi sebelum berangkat le kantor.


"Parfum apa yang baunya seperti ini? Busuk sekali! Jauh-jauh dariku, Kak!" ucap Vera yang sangat merasa mual.


"Cium wanginya yang benar! Nih coba kamu cium!" ucap Fadly yang mengarahkan tubuhnya ke arah hidung sang adik.


"Stop!" ucap Vera yang sudah tidak kuat mencium wangi parfum Fadly. Perutnya sudah bergejolak yang membuat Vera langsung berlari ke dalam kamar mandi.


Hoeekkkk......


Fadly berlari menyusul adiknya. Ia mengurut tengkuk Vera agar adiknya tidak merasa mual tetapi apa yang terjadi, tubuhnya didorong dengan sangat kuat oleh Vera hingga Fadly terjungkal kebelakang.


Hoekkkk...


"Sudah aku katakan Kak Fadly jangan dekat-dekat aku sebelum bau busuk itu hilang. Hiks....kenapa Kak Fadly tidak paham sih? Perutku sudah berputar-putar ketika aku mencium bau busuk itu," ucap Vera dengan menangis.


"Dek, kok malah menangis sih? Kamu kenapa? Kakak tidak paham apa yang terjadi denganmu? sekarang kita ke rumah sakit ya wajah kamu sangat pucat," ucap Fadly dengan cemas.


"Huhuhu... Aku bilang jangan dekat-dekat aku, Kak! Aku tidak tahan dengan bau busuknya!" ucap Vera dengan kesal bahkan ia menangis seperti anak kecil sekarang.


Fadly mengusap wajahnya dengan kasar. Kenapa kejadian seperti ini seakan pernah Fadly alami, kejadian ini seperti de javu untuknya. Dan Fadly ingat saat sang istri hamil anak pertama mereka istrinya juga tidak suka wangi parfumnya hingga Fadly berulang kali mandi dan tak memakai parfum sama sekali.


"Kamu ha..."


"Vera!"


Belum sempat Fadly bertanya kepada adiknya, Vera sudah pingsan di depan matanya yang membuat Fadly dengan sigap menopang tubuh adiknya agar tidak jatuh ke lantai kamar mandi. Otak Fadly sudah blank sekarang, ia segera membawa adiknya ke rumah sakit. Cemas? Tentu saja Fadly sangat merasa cemas dengan keadaan adik bungsunya yang tiba-tiba tak sadarkan diri seperti ini.


*****


Dirga yang sedang menahan dirinya untuk tidak menelepon Vera tetapi tiba-tiba perasaanya dihinggapi rasa khawatir kepada Vera yang membuat Dirga sekarang tidak fokus dengan perkuliahannya.


Virgo menyenggol lengannya yang membuat Dirga menatap tajam ke arah sahabatnya. Namun, wajah cemas Virgo membuat Dirga mengeryitkan kedua alisnya. Kenapa dengan sahabatnya ini? Tak pernah Dirga melihat wajah Virgo yang seperti ini.


"Ga!" bisik Virgo agar sang dosen yang sedang menjelaskan di depan tidak mendengar pembicaraan mereka.


"Hmmm...."


"Tante Vera masuk rumah sakit. Barusan om gue kirim pesan ke gue dan semua keluarga gue harus susul tante Vera ke Yogya. Kira-kira tante Vera sak...."


"DIRGA, LO MAU KEMANA?" teriak Virgo yang mengundang dosen dan semua teman kelasnya melihat ke arahnya.


"Virgo ada apa? Kenapa Dirga keluar begitu saja di jam kelas saya? Dan kamu juga membuat keributan di kelas saya. Mau nilai kalian saya kasih C?" tanya Dosen tersebut dengan tajam.


"Aduh maaf Pak. Ada sesuatu yang sangat genting, Pak. Ini menyangkut masa depan Dirga. Saya mohon beri Izin untuk kami berdua ya Pak, saya harus memastikan sahabat saya baik-baik saja. Dirga sangat nekad, Pak. Bisa-bisa nyawa saya melayang hari ini juga sebelum saya melihat Dirga menikah dengan tante saya. Saya permisi, Pak!" ucap Virgo dengan cepat menyusul Dirga yang seperti orang kesetanan sekarang.


Virgo tak lagi mempedulikan kemarahan dosennya. Menurutnya kemarahan Dirga lebih menyeramkan dari pada dosen memberikan nilai C untuknya.


"Dirga tunggu gue!" teriak Virgo dengan keras.


"Cepat! Atau nyawa lo gue tarik paksa dari tubuh lo sekarang!" ucap Dirga dengan dingin.


Glukk...


Tuh kan benar. Sahabat sekaligus calon omnya ini sangat menyeramkan sekali bukan?


"Tante gue cuma pingsan, Ga. Bukan sekarat!" ucap Virgo berusaha untuk tenang.


Dirga kembali menatap tajam ke arah Virgo. "Pilih diam atau mati sekarang?" tanya Dirga dengan tajam yang membuat Virgo langsung diam.


Virgo ikut masuk ke dalam mobil baru Dirga. Anak sultan dari ayah dan papa yang sangat kaya, kebutuhannya selalu terpenuhi membuat Virgo merasa beruntung menjadi sahabat dari Dirga bahkan akan menjadi om-nya. Aneh memang tapi itulah yang terjadi.


"DIRGA, LO MAU KITA MATI YA?!" teriak Virgo dengan kencang saat Dirga melajukan kecepatan mobilnya yang membuat jantung Virgo seperti berhenti berdetak sekarang. Dirga sama sekali tidak bergeming, ia harus sampai ke bandara dengan cepat dan menyusul Vera, ia harus memastikan keadaan kekasihnya baik-baik saja karena Dirga tak bisa tanpa Vera.