
...Happy reading...
****
Malam harinya ditemani oleh sejuknya angin malam Leon diam-diam masuk kembali ke rumah Laura. Entah mendapatkan kunci rumah Laura dari mana yang jelas ia bisa masuk dengan kunci yang berada di tangannya sekarang. Dengan sangat santai Leon masuk ke kamar Laura, dilihatnya Laura sudah tertidur sambil memberikan asi untuk Dirga membuat Leon menelan ludahnya kasar karena milik Laura yang terpampang jelas di matanya.
Leon mensejajarkan posisinya dengan Laura yang mungkin ketiduran. Ia mengusap pipi Dirga dengan sayang, entah mengapa ia bisa menyayangi Dirga seperti ini. Leon ingin menjaga keduanya, dirinya tidak ingin terjadi sesuatu dengan Laura dan Dirga terlebih mereka hanya tinggal berdua. Dirga sedikit terkejut dengan usapan di pipinya sehingga bayi itu membuka mata dan langsung melepaskan put*ng sang bunda menatap ke arah Leon dengan suara khas bayinya membuat Leon tersenyum dan langsung menggendong Dirga.
"Ayah datang, Nak!" gumam Leon dengan lirih. Dirga tampak tersenyum mulutnya bergerak lucu membuat Leon gemas.
Laura yang mendengar suara anaknya langsung terbangun dari tidurnya. Ia merasa bersalah karena ketiduran saat menyusui Dirga.
"Kamu...."
"Ssttt... Jangan berisik Dirga mau tidur lagi," ucap Leon dengan cepat sebelum Laura berteriak dan membangunkan Dirga atau lebih parahnya adalah warga sekitar rumah Laura.
"Kenapa Bapak bisa ada di rumah saya malam-malam begini? Jika dilihat tetangga bagaimana?" tanya Laura dengan cemas tetapi ditanggapi dengan santai oleh Leon.
"Saya merindukanmu dan Dirga," ucap Leon dengan santai.
"Please... Sebaiknya Bapak pulang!" ucap Laura dengan nada memohon. Laura takut Warga akan mengusirnya karena membawa masuk lelaki yang bukan suaminya.
Leon duduk di samping Laura. Ia mengelus pipi Laura dengan sayang. "Saya tidak bisa mengabaikan kamu begitu saja. Saya ingin menginap di sini," ucap Leon dengan tegas tanpa mau dibantah oleh Laura.
"Pergi Pak!" ucap Laura menaikkan nada bicaranya membuat Dirga terkejut.
"Jangan kencang-kencang. Pelankan suara kamu, Sayang," ucap Leon menimang Dirga dengan perlahan. Dirasa calon anaknya sudah tertidur dengan tenang barulah Leon menidurkan Dirga di kasur kembali.
"Pak..."
"Laura, saya tidak mau dibantah! Kamu adalah milik saya termasuk Dirga. Saya tidak ingin terjadi sesuatu dengan kalian," ucap Leon dengan tegas tersirat kecemasan di setiap nada bicaranya.
"Sekarang tidurlah!" perintah Leon dengan datar.
"Pak, saya mohon anda jangan keras kepala!Saya dan Dirga bukan milik Bapak. Jadi berhenti berharap akan sesuatu yang tak akan mungkin terwujud!" ucap Laura dengan dingin. Sampai kapan pun Laura tidak akan pernah menikah dengan siapa pun karena Laura takut mengulangi rasa sakit yang sama. Lebih baik tidak mengenal lelaki dari pada harus tersakiti kembali.
"Saya tidak mendengarnya! Yang harus kamu tahu kamu adalah milik saya sekarang dan selamanya tak peduli kamu menganggap semuanya adalah hal yang berlebihan karena saya akan tetap menjadikan kamu milik saya. Suka atau tidak suka kamu tetap milik saya!" ucap Leon dengan nada tegas.
"Saya moh..."
"Berhenti membantah Laura! Sekarang tidur atau saya tidak ingin melewatkan malam yang dingin ini begitu saja," ucap Leon dengan datar.
Leon yang tidak ingin menghilangkan kesempatan yang ada menggerakkan bibirnya selembut mungkin di bibir Laura. Laura memberontak namun tenaganya kalah dengan Leon hingga tanpa sadar Laura menikmati ciuman Leon yang sangat lembut yang tidak pernah Laura dapatkan dari Zico dulu. Nafas keduanya saling memburu, tatapan Leon sudah berbeda dengan Laura ia mengusap bibir Laura yang sedikit bengkak.
"Saya suka rasa bibir kamu! Sangat manis dan memabukkan," ucap Leon yang membuat kedua pipi Laura memanas karena baru kali ini ia di puja oleh lelaki. Namun, mengingat perlakuan Zico kepadanya membuat rasa benci itu kembali muncul. Laura kembali membelakangi Leon, ia mencoba mengatur nafasnya yang masih tidak beraturan.
Leon memeluk Laura dari belakang membuat tubuh Laura seketika mematung. "Saya akan pergi sebelum subuh. Kamu tenang saja, saya hanya ingin tidur bersama kamu dan Dirga," ucap Leon dengan tulus.
Laura tidak lagi menjawab. Ia mencoba memejamkan matanya agar tidak mendengar suara Leon yang terdengar berat di telinganya. Dengan perlahan tangan Leon masuk ke dalam baju Laura mencari sesuatu yang membuatnya gemas sedari tadi dan setelah dapat Leon memainkannya dengan perlahan membuat Laura menahan nafasnya karena sentuhan Leon yang membuat darahnya berdesir hebat.
"Anda jangan kurang ajar!" desis Laura ingin melepaskan diri dari sentuhan lembut tangan Leon pada kedua gunung kembarnya. Leon hanya terkekeh melihat Laura yang terlihat marah kepadanya tetapi juga menikmati sentuhannya.
"Saya hanya ingin merasakannya seperti Dirga yang meng*sapnya dengan kuat," ucap Leon dengan frontal membuat Laura mendelik sebal.
"Lepas!"
"Tidak akan Sayang. Biarkan saja tangan saya di sini. Ini sangat nyaman. Saya janji tidak akan bergerak lagi," ucap Leon dengan datar. Dengan kuat Laura menepis tangan Leon ia menarik selimut sampai ke lehernya guna menutupi tubuhnya agar tidak disentuh oleh Leon. Sikap Laura yang seperti itu membuat Leon tidak marah, lelaki itu hanya bisa terkekeh geli karena tingkah Laura yang begitu mengemaskan di matanya. Seandainya dirinya yang bertemu dengan Laura terlebih dahulu mungkin Leon akan sebahagia ini bahkan lebih bahagia dari pada ini.
Leon sama sekali tidak tertidur ia hanya memandang wajah Laura yang sudah tertidur dengan damai atau berpura-pura tidur agar dirinya tidak kembali mengganggunya. Leon memainkan rambut Laura dengan perlahan dan mengecup pipi Laura dengan sekilas setelah itu ia memeluk erat Laura dan ikut tertidur walau pikirannya berkelana membayangkan jika dirinya dan Laura menikah.
*****
Pagi harinya Laura terbangun dari tidurnya. Ia teringat akan Leon yang sudah kurang ajar kepadanya. Helaan nafas lega terdengar dari bibirnya kala tidak melihat Leon berada di sampingnya. Laura tidak bisa begini terus, ia harus melakukan sesuat sebelum Leon kembali nekad kepadanya. Laura tidak ingin tetikat dengan siapa pun termasuk Leon. Laura sadari sentuhan Leon membuatnya sangat mabuk, karena dirinya seorang janda yang sudah menerima sentuhan dari suaminya walau ketika berhubungan Zico dalam keadaan mabuk. Namun, sentuhan Zico di tubuhnya sebelum mereka berpisah waktu itu sangat lembut bukan Zico seperti biasanya membuat Laura menikmati sentuhan Leon karena sudah lama Laura tidak merasakan sentuhan itu tetapi ada rasa trauma yang menghimpit dadanya dan menciptakan jarak pada pria yang mendekatinya saat ini. Laura harus meminta bantuan Anne agar Leon tidak kembali mengganggunya lagi.
Dilihatnya Dirga masih tertidur Laura bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat sampai di dapur Laura di kejutkan dengan makanan yang sudah tersusun rapi di meja makan miliknya. Laura mengambil kertas kecil yang diletakkan di bawah gelas.
"Selamat pagi calon istri. Makanlah makanan ini, saya sudah siapkan khusus untuk ibu yang sedang menyusui agar Dirga mendapat asupan makanan yang cukup dan bergizi. Jika sudah dingin bisa kamu hangatkan terlebih dahulu sebelum kamu makan. Saya kerja dulu nanti saya akan kembali."
Itulah tulisan yang terdapat di kertas kecil yang Laura pegang yang Laura yakini Leon yang menulisnya.
Laura menghela nafasnya dengan lelah karena Leon yang sangat keras kepala. Sepertinya Laura harus cepat bertindak agar suasana seperti ini tidak berlangsung dengan lama, ia tidak ingin Leon terlalu berharap kepadanya, setelah ini Laura langsung menelepon Anne untuk meminta bantuan pada wanita itu.
****
Yuhuy om Leon sudah kembali!
Gimana dengan part ini?
Suka?
jangan lupa like, vote dan komentar yang banyak ya!