Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~95 (Baby Twins)



...Happy reading...


***


Sejak pagi saat pernikahan Ika dan Sultan memang Laura sudah merasakan sakit pada perutnya. Namun, ia masih bisa menahannya ia tidak mau merusak suasana bahagia yang sedang tercipta.


Laura mendesis sakit saat merasakan kontraksi pada perutnya kembali datang sampai wanita hamil itu berkeringat dingin. Saera yang sejak tadi memperhatikan menantunya mencoba mendekat. "Kenapa, Nak? Kontraksi?" tanya Saera dengan pelan.


Saat ini Laura sedang berkumpul bersama keluarga di meja yang memang sudah disiapkan untuk keluarga pengantin dan Leon tidak ada di sana karena ia sedang berbicara serius dengan rekan bisnisnya dan membawa Dirga dalam gendongannya. Laura menatap ibu mertuanya dengan pandangan yang teramat sayu.


"Iya, Bun. Tapi sakitnya masih hilang-hilang aku masih bisa tahan kok," ucap Laura berusaha tersenyum.


"Bunda panggilkan Leon ya. Sebaiknya kalian pulang saja atau langsung ke rumah sakit," ucap Saera berusaha tenang.


"Aku mau pulang aja dulu, Bun. Tapi apa gak apa-apa kalau aku dan mas Leon pulang duluan? Acara belum selesai," ucap Laura dengan mengelus perutnya saat sakit itu mulai mereda.


"Gak apa-apa, Nak. Ika dan Sultan pasti paham kok, kayaknya mereka masih sangat sibuk sekali. Besok pagi saja biar Ica yang mengabari mereka," ucap Saera yang melihat anak dan menantunya masih menyambut para tamu yang datang.


"Kamu di sini dulu sama kak Ulan ya. Bunda akan panggil Leon," ucap Saera dengan lembut. Laura mengangguk dengan tersenyum hangat kepada mertuanya. Ulan dan Ica yang menyimak pembicaraan Saera dan Laura mendekat. Ulan mengelus perut Laura yang memang sudah terlihat ke bawah.


"Sejak kapan kontraksi, Dek? Kenapa dipaksa datang ke sini?" tanya Ulan dengan pelan


"Sejak kemarin sebenarnya Kak. Tapi pagi ini yang sangat intens dan sakit kontraksinya. Aku gak mungkin gak hadir di hari bahagia Ika dan Sultan, Kak. Aku masih bisa menahannya," ucap Laura dengan mencoba tersenyum.


Leon yang diberitahu sang bunda langsung berlari dengan cepat menghampiri sang istri yang sedang bersama kakak, adik, dan keponakannya. "Kenapa, Sayang? Kamu mau melahirkan sekarang?" tanya Leon dengan panik.


"Masih kontraksi Mas. Aku masih bisa menahannya. Kita pulang aja dulu ya," ucap Laura dengan pelan.


"Kita langsung ke rumah sakit saja!" ucap Leon dengan panik.


"Gak, Mas. Aku mau pulang dulu aja. Sakitnya masih bisa aku tahan kok," ucap Laura dengan lirih.


Leon mengusap wajahnya dengan kasar. "Baiklah tapi kalau semakin sakit kita ke rumah sakit ya," ucap Leon mengalah karena ia tahu Laura akan tetap keras kepala kalau dirinya tidak mengalah.


"Dirga mana?" tanya Laura yang tidak melihat anaknya bersama dengan Leon.


"Sama Zico dan Intan. Gak apa-apa kan kalau Dirga sama mereka dulu?" tanya Leon meminta persetujuan istrinya.


"Gak apa-apa, Mas. Mereka juga orang tua Dirga. Aku gak mau egois lagi," ucap Laura dengan tersenyum.


Leon mengangguk. Ia merangkul Laura dengan pelan. "Bun, Kak, Ca, semuanya kami pulang dulu ya. Tolong beritahu Ika dan Sultan kalau kami pulang duluan," ucap Leon kepada para keluarganya.


"Pulanglah pasti Ika dan Sultan memakluminya. Kabari kami kalau Laura sudah di bawa ke rumah sakit ya," ucap Ulan dengan tegas.


"Sebaiknya Bunda ikut saja ke rumah kalian. Telepon juga Ratna dan Hendra untuk ke rumah kalian," ucap Saera dengan tegas. Besannya itu sudah sejak tadi pulang karena ada urusan.


"Iya, Bun. Sebaiknya memang Bunda ikut kami saja," ucap Leon dengan pelan.


Saera mengangguk ia langsung mengajak suaminya untuk menginap di rumah Leon dan Laura. Untuk pesta Ika dan Sultan sudah ada Ulan yang akan menangani semuanya.


***


Semalaman Laura tidak bisa tidur dengan di temani Leon. Bahkan lingkaran hitam terlihat di bawah matanya hingga pagi harinya ia merasakan kontraksi yang amat dasyat hingga merasakan sesuatu yang basah mengalir di sela-sela pahanya. Leon yang panik langsung membawa sang istri ke rumah sakit dengan membangunkan semua orang tuanya yang menginap di rumahnya. Mereka yang lelah tak sengaja kesiangan bangun hingga teriakan Leon membuat semuanya langsung terjaga dan bersiap-siap ke rumah sakit.


"Mas sakit hiks..hiks," ucap Laura dengan menangis membuat Leon semakin panik.


"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi kita sampai," ucap Leon dengan lirih. Ia juga menangis melihat Laura kesakitan seperti ini.


Laura mengangguk dengan pelan. Ia mengatur napasnya seperti yang diajarkan dokter kandungannya yang membuat Laura sedikit rileks walau tak menghilangkan rasa sakit yang ia rasakan.


"Arghhh... Sa..kit," ucap Laura dengan keringat yang terus bercucuran.


"Kita sudah sampai, Sayang," ucap Leon dengan pelan.


"DOKTER TOLONG ISTRI SAYA!" teriak Leon dengan panik.


Tenaga medis langsung membantu Laura. Mereka langsung membawa Laura ke ruang persalinan dengan Leon yang terus mengikuti istrinya. Sedangkan kedua orang tua mereka menunggu di luar sampai semua keluarga mereka datang termasuk pengantin baru yang terlihat kelelahan tersebut.


Leon menangis dan terus menangis karena tak tega melihat istrinya kesakitan di saat akan melahirkan anaknya. Darah yang keluar dari milik istrinya membuat Leon dilanda pening seketika, ia takut dan sangat takut kehilangan Laura. Tubuh Leon lemas saat mendengar suara teriakan istrinya saat dokter membantu persalinan istrinya.


Oekkk... Oekkk..


Leon semakin gemetar saat melihat anaknya keluar sari milik istrinya dengan masih berlumuran darah. Ia semakin menangis memeluk Laura yang terlihat lemas saat melahirkan kedua anaknya.


"Sayang, maafkan aku! Aku janji gak akan buat kamu hamil lagi. Sudah cukup kali ini saja aku mendengar dan menyaksikan kesakitan kamu," ucap Leon dengan terisak. Leon trauma melihat sang istri kesakitan seperti ini.


Dokter tersenyum menatap Laura yang mencoba menenangkan suaminya yang masih terisak. Ia juga merasakan lemas setelah melahirkan kedua anaknya.


"Katanya mau punya dua anak lagi?" ucap Laura dengan pelan.


"Gak mau! Tiga sudah cukup Sayang. Aku gak mau lagi menghamili kamu. Mereka keluar dengan merobek milik kamu Sayang hiks hiks," ucap Leon dengan menangis.


Ingin sekali Laura tertawa tetapi tenaganya tidak cukup dengan melakukan itu. Saat ini ia dilanda rasa lelah yang sangat luar biasa hingga matanya terpejam. Leon semakin histeris melihat istrinya memejamkan mata. "Istri saya kenapa, Dok? Cepat periksa!" teriak Leon dengan panik.


"Tenang, Pak. Istri anda hanya tertidur karena kelelahan. Anda jangan khawatir karena hal ini sering terjadi pada ibu yang melahirkan," ucap sang dokter yang membuat Leon lega.


"Tidak mau melihat kedua anak Bapak?" tanya Dokter membuat Leon terdiam. "Mereka sudah kami bersihkan tinggal bapak adzani saja," ucap dokter.


"Apa tidak apa-apa saya gendong. Tubuh mereka mungil sekali saya takut tulang mereka patah," ucap Leon dengan menelan ludahnya kasar.


"Tidak apa-apa, Pak!"


Dengan tangan gemetar Leon menggendong salah satu anaknya lalu mengadzani mereka secara bergantian. Leon dibuat menangis ketika menatap kedua anaknya secara bergantian.


"Hiks.. Selamat datang baby twins ayah dan bunda. Selamat datang prince and princess ayah, bunda!"


******


Aduh Leon😭😭🤭😆


Selamat datang baby twins, adiknya kak Dirga yang tampan.


Siapkan kado buat twins ya onty🤭🤭🤭


Cukup kasih like, vote, coment, dan favoritkan cerita ini.