Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~4 (Pertemuan Tak Terduga)



...PERHATIAN : JADWAL UPDATE CERITA INI SELASA/JUMAT. KETIKA MENUNGGU CERITA INI UPDATE SILAHKAN BACA 'CINTA SEMPURNA SANG GADIS GANDUT' YANG PASTI GAK KALAH SERU DENGAN CERITA INI! SILAHKAN MAMPIR TEMAN-TEMAN....


...Happy reading...


****


Malam harinya Cut menepati janjinya untuk mengajak ke empat adiknya untuk jalan-jalan ke mall bahkan membawa serta kedua orang tuanya sedangkan Saera berada di rumah Leon sejak sore karena merindukan anak lelakinya itu. Walau sebenarnya ia banyak tugas kuliah tetapi Cut tidak ingin mengecewakan adik-adiknya yang jarang ia temui karena mereka tinggal terpisah dan berbeda pulau. Butuh waktu yang lumayan lama untuk mereka bisa berkumpul seperti ini dan sekarang adalah waktu yang tepat karena ke empat adiknya sedang libur semester.


Rifki dan Rizki semakin terlihat sangat tampan sekali. Usia mereka yang masih remaja tetapi ketampanan mereka sudah berhasil menghipnotis banyak pengunjung mall malam ini. Apalagi kedua lelaki remaja itu selalu menebar senyum yang membuat kaum hawa seakan meleleh dan terkena diabetes akut. Sultan yang melihat kedua anak lelakinya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dulu ia tidak seramah kedua anak lelakinya, menurun dari siapa sikap tebar pesona kedua anaknya itu? Memikirkan semua anaknya yang akan beranjak dewasa selalu saja membuat Sultan pusing, rasanya cepat sekali waktu berlalu. Padahal baru seperti kemarin ia melihat semua anaknya lahir ke dunia.


"Kita mau kemana dulu?" tanya Cut kepada semua adiknya.


"Timezone!" teriak mereka serentak.


Cut terkekeh dan langsung mengajak mereka semua ke Timezone. Cut merangkul Reisya dan Meisya, ia tidak menyangka jika kehidupan keluarganya akan sangat membahagiakan seperti ini. Cut pernah berpikir dulu jika kehidupannya tidak akan seindah teman-temannya yang mempunyai keluarga yang sangat lengkap tetapi kehadiran Ika menggantikan rasa kesepiannya menjadi sebuah kebahagiaan.


"Kalian bermainlah, Papa dan mama menunggu di sini," ucap Sultan kepada ke lima anaknya.


"Iya, Pa. Papa dan mama jangan pacaran terus," ejek Rifki membuat Ika mendelik.


"Kamu ini ya! Emang ngerti apa itu pacaran?" tanya Ika dengan kesal.


"Tahulah Ma teman Rifki udah ada yang pacaran," jawab Rifki dengan enteng.


"Astaghfirullah. Kamu juga pacaran? Kalau gitu gak usah sekolah nikah aja sekalian," ucap Sultan dengan kesal.


"Ya Allah, Pa. Sumpah deh Rifki gak pacaran! Seriusan! Kalau Papa gak percaya tanya deh sama Rizki dan Reisya," ucap Rifki dengan panik.


"Awas saja kalau ketahuan kamu pacaran. Masih kecil juga sudah pacaran-pacaran, kalau itu sampai terjadi Papa akan nikahkan kamu tepat saat itu juga gak usah sekolah-sekolah lagi," ucap Sultan dengan tegas membuat Rifki pucat ketakutan.


"Ma, bantuin Rifki. Seriusan Rifki gak pacaran. Rifki mau langsung menikah saja nanti, tetapi tunggu Rifki dewasa dan sukses dulu, Rifki masih mau minta uang jajan sama papa," ucap Rifki memelas.


"Rasain. Makanya jangan bahas pacaran," ejek Reisya.


"Betul itu!" timpal Rizki tidak membela kembarannya.


"Pacaran itu apa?" tanya Meira dengan polosnya.


Sultan memijat pelipisnya yang mulai terasa pening. "Cut, ajak adik-adik kamu main. Papa lama-lama pusing kalau begini," ucap Sultan dengan lirih.


Cut terkekeh karena merasa terhibur dengan ekspresi papanya yang terlihat tersiksa karena ulah adiknya. Ia membawa ke empat adiknya untuk bermain di Timezone meninggalkan kedua orang tuanya yang mengawasi mereka di tempat duduk yang memang sudah disediakan.


****


Lelah bermain mereka memutuskan untuk mencari makanan. Cut mengajak semua keluarganya ke cafe yang berada di mall tersebut. Tak sengaja Rifki menabrak seorang anak kecil membuat semuanya tersentak kaget.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Rifki merasa bersalah.


"Gak apa-apa, Kak. Es krimnya kena baju Kakak, maafin aku ya," ucap anak perempuan tersebut merasa bersalah.


"Iya gak apa-apa. Ini nanti bisa dicuci kok," ucap Rifki dengan lembut.


"Zoya!"


"Papa!"


Deg...


Wajah Sultan menjadi masam melihat Rama yang menatap istrinya dengan tidak berkedip. Walaupun sang istri sudah berpakaian tertutup tetapi tetap saja Ika sangat mempesona jika lelaki manapun menatap iatrinya, Sultan menarik sang istri kepelukannya karena merasa tak suka dengan tatapan Rama.


"T-tidak menyangka kita bisa bertemu di sini," ucap Rama dengan canggung.


"Iya sudah lama kita tidak bertemu," jawab Sultan dengan masam. Sedangkan Ika berharap dalam hatinya setelah ini Sultan tidak marah kepadanya sebab dulu pernah ada pelanggan restorannya yang menatap kagum ke arah Ika dan berujung Sultan yang mendiaminya karena merasa cemburu. Apalagi ini Rama adalah mantan kekasihnya, masa lalu kelamnya. Walaupun begitu rasanya untuk Rama sudah menghilang sejak lama.


"Ini anak kamu?" tanya Ika dengan penasaran.


"Iya, namanya Zoya. Zoya salam dengan tante Ika dan om Sultan mereka adalah teman papa dulu," ucap Rama kepada anaknya.


"Halo Om, Tante. Nama aku Zoya Dwi Kinanti, umur aku 7 tahun," ucap Zoya dengan ceria.


"Halo Zoya," ucap Ika dengan tersenyum.


"Senang kamu ketemu mantan dan anak mantan," bisik Sultan dengan kesal. Ika melihat ke arah Sultan, ia tersenyum di dalam hati melihat suaminya cemburu.


"Mas, Zoya. Kok lama banget sih? Zidane sudah menangis sejak tadi," ucap Ivana yang mencoba menenangkan anak bungsunya yang masih berusia 7 bulan.


"Maaf, Sayang. Ini ada teman lama aku," ucap Rama dengan tersenyum dan mengambil ahli Zidane yang berada di dalam gendongan Ivana.


"Bukannya istri kamu Kirana?" tanya Ika dengan syok.


"Kami sudah bercerai sejak lama. Kalau begitu kami permisi. Sampai jumpa kembali," ucap Rama yang merasa jika Sultan tidak suka dengan kehadirannya.


Rifki menatap kepergiaan Zoya dengan pandangan kagum. "Cantiknya," gumam Rifki tanpa sadar.


"Kalian saja yang makan. Papa sudah tidak lapar," ucap Sultan dengan datar. Ika menghela napasnya karena kecemburuan Sultan yang ternyata belum hilang.


"Kak, papa kenapa mukanya kesal begitu setelah bertemu dengan om Rama?" tanya Reisya dengan penasaran. "Mama juga kok mukanya jadi gak enak gitu sih?" lanjut Reisya berbisik kepada Cut.


"Itu mantan mama. Kayaknya papa cemburu," balas Cut dengan berbisik.


"Papa sudah tua bisa cemburu juga ya," balas Reisya dengan terkekeh. Cut juga ikut terkekeh karena celetukan adiknya yang terdengar sangat lucu. Jelas saja cemburu karena mantan mamanya itu lumayan tampan menurut Cut, walau masih tampan papanya.


Akhirnya Cut, Rifki, Rizki, Reisya, Meisya makan dengan tenang. Sesekali mereka melirik ke arah kedua orang tuanya yang terlihat mamanya sedang membujuk papanya yang masih kesal karena cemburu.


Sayup-sayup Cut mendengar suara Dio dengan Ratu. Cut menjatuhkan sendoknya dengan pelan mood makannya menghilang begitu saja saat melihat jika mereka sedang makan berdua dengan tawa yang sangat bahagia.


Ternyata benar jika cemburu bisa menghilangkan ***** makannya seperti Sultan saat ini.


"Kak Dio!" teriak Meisya dengan senang saat melihat Dio juga berada di sini.


Dio langsung melihat ke arah seseorang yang memanggilnya. Ia tersenyun masam saat melihat Cut juga ada di sana, menganggu dinner romantisnya dengan Ratu, itulah yang Dio pikirkan saat ini.


"Ayo pulang!" ucap Cut dengan cepat karena ia tidak mau disalahkan oleh Dio. Sungguh ego lelaki sangat membuat perempuan merasa kesal. Pertemuan tak terduga malam ini membuat mood Cut dan Sultan benar-benar hancur.


***


Tadinya mau up tiga episode cuma lihat gak rame ya gak jadi wkwk. Kalau rame hari selasa bakal up tiga episode nih