Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~10 (Bertemu Keluarga Cut)



...Alhamdulillah hari ini bisa dua part ya. Ramein yuk part ini biar aku semakin banyak. update....


...Happy reading...


***


Ihsan sesekali melihat ke arah Cut yang tampak diam. Walaupun terlihat pucat gadis itu masih terlihat sangat cantik dengan hijab simple yang dipakainya. Ihsan tersenyum tipis, andai memiliki Cut bisa dengan secepatnya, maka Ihsan akan lakukan dengan segera.


"Kamu beneran gak apa-apa?" tanya Ihsan dengan cemas.


Cut melihat ke arah dosennya, entah mengapa ia merasa hangat diperhatikan oleh Ihsan. Tanpa sadar Cut tersenyum tipis. "Saya beneran gak apa-apa, Pak. Biasanya cewek kalau lagi siklus bulanan," jawab Cut dengan malu.


"Setiap perempuan harus banyak mengalami kesakitan yang luar biasa ya? Perempuan benar-benar hebat," ucap Ihsan dengan memuji.


Cut hanya tersenyum tipis. "Belok kiri ya, Pak!" ucap Cut dengan lirih. Ihsan mengangguk dan membelokkan mobilnya ke arah kiri memasuki kawasan elit.


"Yang mana rumah nenek kamu?" tanya Ihsan dengan lembut.


"Nomor 219 yang cat putih itu," ucap Cut memberitahu.


Ihsan menatap kagum rumah mewah milik keluarga Cut. Benar-benar bukan keluarga sembarangan. Mobil Ihsan memasuki halaman rumah Saera dengan perlahan, di sana ada Ika dan Sultan yang sedang duduk santai membuat Ihsan tersenyum ramah kepada calon mertuanya tersebut.


"Assalamualaikum Pak, Bu," salam Ihsan dengan sopan saat keluar dari mobil setelah membukakan pintu untuk Cut. Gadis itu menjadi salah tingkah sendiri karena perlakuan manis Ihsan kepadanya di depan kedua orang tuanya.


"Wa'alaikumussalam, Ihsan," jawab Sultan dan Ika secara bersamaan.


"Loh, Papa dan Mama sudah mengenal Pak Ihsan?" tanya Cut dengan bingung.


Ika dan Sultan saling memandang, lalu mereka tersenyum. "Iya, Ihsan anak dari teman Papa," jawab Sultan dengan tenang.


"Kalian sudah akrab saja ya. Kok tumben kamu sudah pulang, Nak?" tanya Ika dengan heran.


"Perut aku sakit, Ma. Aku tadi mau pulang sendiri terus di parkiran ketemu Pak Ihsan, beliau memaksa buat antar aku," jawab Cut dengan pelan.


"Benar-benar jodoh itu gak terduga ya," ucap Ika dengan terkekeh membuat Ihsan jadi salah tingkah sendiri.


"Mama apaan sih? Pak Ihsan itu dosen aku!" protes Cut dengan mengerucutkan bibirnya kesal. Ihsan yang melihatnya menjadi merasa gemas, jika sudah halal Ihsan akan mengecup bibir itu dengan gemas, sayangnya Cut belum halal untuknya. Ia hanya bisa membayangkan saja.


"Dosen jadi suami juga gak apa-apa. Ya kan, Pa?" ucap Ika dengan jahil.


Cut menjadi tak enak dengan Ihsan. Padahal lelaki itu terlihat biasa saja bahkan terlihat senang dengan ucapan kedua orang tua Cut.


"Jangan dengarin ucapan mama dan papa saya ya, Pak!" ucap Cut dengan tak enak hati.


"Tidak masalah, Cut. Saya malah merasa senang!" ucap Ihsan dengan jujur.


"Maksudnya?" tanya Cut dengan bingung.


"Saya ada sesuatu yang ingin dibicarakan sama kamu dan kedua orang tua kamu. Sepertinya tidak baik untuk menunda niat saya ini," ucap Ihsan dengan tegas.


"Sebaiknya kita bicarakan di dalam saja," ucap Sultan dengan tegas. Ihsan mengangguk mengerti dan langsung mengikuti langkah Sultan tetapi tidak dengan Cut, gadis itu merasa bingung dengan Ihsan. Ada hal serius apa yang ingin dibicarakan kepadanya?


****


Ketegangan terlihat di ruang keluarga saat semuanya sudah duduk dengan tenang termasuk Cut dan Saera. Gadis berusia 20 tahun itu entah mengapa merasa jantungnya berdetak sangat cepat saat menatap Ihsan yang seperti akan menyampaikan sesuatu. Cut seperti sedang mengikuti ujian praktek yang sangat sulit sekarang hingga membuat napasnya seakan sesak.


"Mohon maaf sebelumnya. Pak, Bu, dan Nenek. Kedatangan saya ke sini awalnya hanya mengantar Cut pulang saja, tetapi saya rasa semuanya harus saya katakan dengan jujur, walau dari awal saya sudah mengatakan niat baik saya kepada Pak Sultan. Saya ingin meminang Cut menjadi istri saya," ucap Ihsan dengan tegas.


"A-apa?" tanya Cut dengan terbata. Ia benar-benar syok sekarang, seseorang yang ia harapkan tak kunjung melamarnya tetapi orang yang sama sekali tak ia duga langsung melamarnya. Apa maksud semua ini ya Allah? Cut benar-benar tidak bisa berkata-kata sekarang.


"Saya ingin melamar kamu, Cut. Apa kamu bersedia menikah dengan saya? Saya sangat tulus dengan niat saya, saya juga tahu perjalan pendidikan kamu masih sangat panjang, jika kamu bersedia menikah dengan saya, saya akan membiayai semua pendidikan kamu hingga selesai, saya tidak akan mencegah cita-cita kamu untuk menjadi seorang dokter spesialis," ucap Ihsan dengan tegas tidak ada gurat keraguan di sana.


"Bagaimana, Nak? Ihsan sudah mengatakan ini sejak awal dengan Papa. Tapi semua keputusan ada di tangan kamu," ucap Sultan dengan bijak.


"Mama akan mendukung semua keputusan kamu, Nak," ucap Ika dengan lembut.


"Nenek juga terserah kamu, Nak. Tapi jika Nenek bisa memberikan saran terima niat baik Ihsan karena lelaki baik tidak akan datang dua kali dalam hidup," ucap Saera dengan lembut.


"Beri saya waktu 90 hari, Pak. Karena saya juga sedang memperjuangkan cinta saya. Apakah bisa? Jika Bapak tidak bisa menunggu, mohon maaf saya tidak bisa menerima lamaran Bapak dalam waktu dekat karena ada banyak yang harus saya pertimbangkan termasuk perasaan saya sendiri," ucap Cut dengan lirih.


Ihsan tersenyum dengan keterbukaan Cut kepadanya. Ihsan jelas tahu lelaki yang sedang diperjuangan oleh Cut tetapi entah mengapa ia sangat yakin jika Cut adalah jodohnya kelak. "Baiklah, saya akan menunggu selama 90 hari. Saya harap semua tidak akan sia-sia. Anggap saja waktu 90 hari adalah pendekatan untuk kita saling mengenal satu sama lain," ucap Ihsan dengan tegas.


Sultan merasa lega dengan ucapan Ihsan. Ia seperti berkaca saat melihat Ihsan karena Ihsan sama persis seperti dirinya ketika melamar Ika kepada Leo. Dan semoga Ihsan adalah lelaki yang tepat untuk anaknya.


Cut menjadi bimbang sekarang. Ihsan benar-benar jelmaan Sultan dan lelaki yang seperti itu lah yang sebenarnya ia harapkan. Apa ini rencana Allah untuk membuat hatinya goyah akan Dio?