
...Happy reading...
****
Leon dan Laura sudah sampai di rumah kedua orang tua Laura sore tadi karena besok Leon akan pergi ke Jepang meninggalkan anak dan istrinya di rumah Hendra maupun Ratna, mertuanya.
"Kamu yakin mau pergi meninggalkan Laura yang sedang hamil?" tanya Hendra saat keduanya sedang bersantai membahas pekerjaan.
"Jika aku bisa maka aku akan tetap di sini, Pa. Tapi pertemuan itu tidak bisa diwakilkan, sebulan terasa setahun bagiku," jawab Leon dengan sendu.
Hendra menghela napasnya dengan perlahan. "Bagaimana dengan perasaan Laura? Karena yang Papa tahu sejak hamil Laura sangat sensitif sekali!" tanya Hendra dengan pelan sambil melirik ke arah anak, cucu, dan istrinya yang berada di ruang televisi.
"Itu masalahnya. Saat aku memberitahunya dia terus menangis sepanjang malam hingga tertidur bahkan dua hari ini aku tidak diperbolehkan ke kantor, Pa. Akhirnya aku mengerjakan semua pekerjaan kantor di rumah bahkan meeting pun aku lakukan secara online," ucap Leon dengan lirih.
"Papa paham, Laura itu sangat mencintaimu. Kamu tahu kan kalau pernikahan Laura yang sebelumnya menimbulkan trauma di hatinya dan setelah Laura bisa membuka hatinya untukmu, dia benar-benar tidak ingin kehilanganmu," ucap Hendra dengan tegas.
"Aku juga sangat mencintai Laura, Pa. Maka dari itu tolong jaga istriku di saat aku pergi, Pa. Temani dia tidur karena Laura sering sekali ke kamar mandi untuk buang air kecil, bahkan ia sering mengeluh pinggangnya seakan patah, berjalan saja harus memakai bantuan karena kesusahan bergerak, dia sering mengeluh panas. Tolong perhatikan setiap gerakannya, Pa! Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan anak dan istriku. Ada tiga nyawa yang harus aku jaga bahkan empat karena jagoan kecil itu selalu merengek meminta ikut denganku," ucap Leon dengan serius diakhiri dengan kekehan karena mengingat Dirga yang tak mau ia tinggalkan tetapi atas bujukannya kedua orang yang ia sayang akhirnya menurut juga.
"Tanpa kamu minta pun Papa akan menjaga anak dan cucu Papa sampai kamu kembali," ucap Hendra dengan menepuk punggung Leon dengan pelan. "Oo ya jam berapa besok kamu berangkat? Sebaiknya kamu ajak Laura beristirahat, biarkan Dirga tidur sama Papa dan mama. Kami juga merindukannya," ujar Hendra kepada Leon yang tersenyum tipis.
"Besok aku akan pergi jam 10 pagi, Pa. Ryan akan menjemputku bersama supir besok," ucap Leon dengan tegas.
"Ya sudah ajak istrimu beristirahat," ucap Hendra yang diangguki oleh Leon. Leon langsung berpamitan kepada mertuanya untuk mengajak Laura ke kamar.
"Sayang, ayo tidur ini sudah malam," ucap Leon dengan tegas. Laura menoleh ke arah Leon dengan tersenyum tipis, ia mengangguk dan dengan berpegangan tangan suaminya ia bangun dari duduknya. Laura meringis saat merasakan pinggangnya sangat sakit seakan mau patah.
"Dilga mau tidul cama ayah uga!" ucap Dirga dengan cepat.
"Dirga tidur sama Nenek ya. Nenek sama kakek kangen sama Dirga," ucap Ratna dengan lembut.
"Tapi...."
"Nanti Kakek kasih mainan buat Dirga," ucap Hendra cepat yang diangguki oleh Dirga dengan sorak gembira.
"Oteh, Dilga tidul cama nenek dan kakek," ucap Dirga dengan senang dan membuat Leon juga Laura tersenyum. Akhirnya nanti ia bisa berbagi kehangatan sebelum besok dirinya akan pergi. Anggap saja sebagai vitamin sebulan ke depan.
"Jangan nakal sama nenek dan kakek ya," ucap Leon kepada Dirga.
"Ciap Ayah!" ucap Dirga dengan semangat.
"Ya udah ayo kita tidur," ucap Ratna dengan semangat yang dibalas semangat juga oleh Dirga.
***
Di dalam kamar Laura...
Leon memeluk istrinya dari belakang karena posisi miring seperti ini adalah posisi ternyaman sang istri. Mata Laura berkaca-kaca saat merasakan elusan tangan Leon yang tidak akan ia rasakan sebulan nanti. Leon yang tahu istrinya akan menangis langsung berbicara dengan lembut.
"Kamu gak mau kasih suamimu ini vitamin untuk bekerja sebulan ke depan?" tanya Leon dengan pelan.
"Vitamin apa? Semua vitamin Mas Leon sudah aku masukin ke dalam koper," ucap Laura dengan polos.
"Bukan itu, Sayang! Tapi vitamin ini! Kamu rasain gak dia udah mengeras?" ucap Leon dengan serak.
"Dasar mesum!" ucap Laura dengan terkekeh.
"Mau ya! Please..." ucap Leon merengek membuat Laura terkekeh dan mengangguk.
Mendapatkan lampu hujau dari sang istri, Leon langsung melancarkan aksinya melucuti semua pakaiannya dan sang istri, Leon benar-benar menjadikan Laura ratu malam ini hingga wanita itu terus berteriak memanggil namanya saat mendapatkan pelepasan berulang kali, vitamin yang Laura berikan kepadanya nyatanya membuat rasa rindu Leon nantinya semakin besar.
Pagi harinya...
Laura memeluk suaminya dengan erat saat Ryan sudah sampai menjemput suaminya. Leon tak mengizinkan Laura ikut ke bandara karena semakin menghambat hatinya untuk pergi, ia merasa tidak ingin meninggalkan Laura hanya untuk bekerja tetapi semua ini demi keluarganya. "Jaga diri baik-baik ya. Selalu hubungi Mas setiap jamnya," ucap Leon dengan lirih.
"Mas berusaha untuk pulang lebih awal dari jadwal Sayang. Jangan nangis ya, nanti Mas tidak akan fokus bekerja kalau kamu menangis!" bujuk Leon.
"Dirga, jaga Bunda ya. Ayah akan pulang beli mainan buat Dirga kalau Dirga menjadi anak yang baik," ucap Leon dengan tegas.
"Janji angan lama-lama keljanya Ayah?!" ucap Dirga dengan tegas.
"Janji, Sayang. Jagain Bunda sama adik kembar ya," ucap Leon dengan lembut.
"Oteh bos!"
"Ayah pergi dulu!" ucap Leon dengan mengecup seluruh wajah Laura dan Dirga bergantian dengan sayang.
"Mas!" gumam Laura dengan sendu saat Leon melepaskan pelukannya.
"Bos, sudah waktunya kita pergi," ucap Ryan dengan tegas.
"Pa, Ma, jagain anak dan istriku ya!" ucap Leon dengan lirih.
"Kami pasti akan menjaganya. Jangan khawatir, pergilah!" ucap Ratna dengan tersenyum.
Akhirnya Leon pergi dengan hati yang berat karena melihat wajah Laura yang berderai air mata. "Aku akan kembali secepatnya, Sayang!"
****
Zico memeluk istrinya dari belakang saat melihat Intan berada di dapur.
"Astaga Mas... Ngagetin aku aja!" ucap Intan mengelus dadanya saat melihat Zico sudah memeluknya.
"Kaget ya? Maaf ya Sayang," ucap Zico dengan lembut tetapi bibirnya mengulum telinga Intan dengan lembut membuat wanita itu menahan desahannya.
"Mas ini dapur!" ucap Intan dengan lirih.
"Aku tahu, Sayang. Tapi setiap melihatmu tubuhku selalu bereaksi berlebihan!" ucap Zico dengan serak.
Intan mencegah tangan suaminya saat masuk ke dalam bajunya. "Nanti di lihat bibi," gumam Intan dengan takut.
"Bibi sudah aku suruh pergi membeli daging dan sayur. Jadi kamu tidak perlu takut ketahuan Sayang! Wajar saja kita sudah menikah," ucap Zico menyeringai.
Intan menahan desahannya saat tangan Zico merem*as kedua dadanya dengan gemas. Lalu turun ke bawah untuk melepas sesuatu yang menghalangi juniornya untuk masuk ke goa milik Intan yang membuatnya candu.
"Ahh..." Intan tidak bisa menahan suaranya lagi ketika junior Zico masuk begitu saja dari belakang.
"Aku ingin mencoba beberapa gaya di dapur!" ucap Zico dengan serak.
"Lakukan sesukamu Mas? Asal kamu tidak menyakitiku!" ucap Intan dengan lirih.
"Aku tidak mungkin menyakitimu, Sayang! Terima saja serangan dariku yang akan membuat tubuhmu lemas!" ucap Zico dengan lirih. Keduanya melakukannya di dapur dengan saling memuaskan. Zico mengajari Intan agar memuaskan juniornya dan itu berhasil membuat Zico semakin candu kepada Intan.
"Maafkan aku Intan. Aku belum bisa memberikan hatiku sepenuhnya tetapi aku tidak bisa melakukannya dengan orang lain karena aku sudah memiliki kamu. Aku akan terus belajar untuk mencintaimu karena milikku sekarang hanya bereaksi jika di dekatmu. Sihir apa yang kamu beri padaku, Intan? Aku tidak tahu bentuk kepedulian ini adalah bentuk rasa cinta atau rasa bersalahku yang telah membuat kedua orang tuamu meninggal."
****
Gimana dengan part ini?
Masih semangat untuk bertemu babang sultan?
Kalau gitu ramein dulu part ini
Like, vote, dan coment yang sebanyak-banyaknya ya!