Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~97 (Memilih Pergi)



...Happy reading...


****


Saat ini Zico sedang berada di kantor bersama dengan orang tuanya. Ketiganya tampak bersitegang, suasana ruangan terasa panas dengan tatapan dari Farezki yang terlihat tajam.


"Jangan mempermainkan perasaan istri kamu, Zico! Seharusnya kamu belajar dari masa lalu. Pernikahan kamu dan Laura kandas karena sikap egois kamu itu dan sekarang pun kamu memperlakukan Intan dengan berpura-pura mencintai dia karena sebuah rasa bersalah. Itu lebih menyakitkan dari pada sikap tempramental kamu dulu dengan Laura," ucap Anggun dengan tajam. Ia tidak suka dengan sikap anaknya yang selalu mempermainkan perasaan wanita.


"Benar kata Mama kamu, Zico. Tak seharusnya kamu seperti ini kepada Intan, jika dari awal kamu tidak mencintainya tidak usah menikahinya lebih baik kamu biayai saja kehidupannya. Sekarang jika Intan mengetahui jika kamu hanya pura-pura cinta sama dia, Papa yakin dia sangat kecewa!" ucap Farezki menasihati anaknya.


Farezki sangat suka dengan Intan yang menjadi menantunya karena sikap Intan yang sangat sopan dan baik kepada dirinya serta sang istri tetapi sikap kepura-puraan Zico mencintai Intan membuat keduanya resah. Mereka takut pernikahan Zico dan Intan akan sama nasibnya seperti pernikahan Zico dan Laura. Farezki maupun Anggun tidak ingin melihat anaknya menyesal untuk kedua kalinya.


"Entahlah, Pa, Ma. Aku sangat merasa bersalah atas meninggalnya kedua orang tua Intan. Aku menikahinya karena rasa bersalah untuk rasa cinta aku masih belajar akan hal itu. Aku tahu itu sangat menyakitkan tetapi aku gak mau Intan terus-terusan bersedih karena kehilangan kedua orang tuanya. Aku tidak mencintainya, hatiku masih tersisa nama Laura dan juga Ika," ucap Zico dengan sendu.


Bruk....


Tanpa di sadari ketiganya sejak tadi Intan sudah berada di sana, pintu yang tidak terkunci membuat Intan mendengar semuanya, awalnya ia langsung ingin masuk tetapi mendengar percakapan dari ketiga orang yang terlanjur ia sayangi membuat Intan menghentikan langkahnya, kedatangan dirinya di kantor Zico karena ingin memberikan kejutan kepada suaminya dengan membawa makan siang untuk suaminya tetapi ternyata dirinya yang sangat terkejut sekarang bahkan bekal yang ia bawa terjatuh di lantai hingga berceceran keluar.


Hatinya berdenyut sakit sekali menatap suaminya yang terlihat sangat terkejut dengan kedatangannya. Padahal sejak tadi ia selalu tersenyum membayangkan reaksi Zico ketika ia datang ke kantor suaminya, entah apa yang membuat Intan sangat ingin melihat wajah suaminya padahal setiap hari mereka selalu bertemu di rumah.


"Intan!" ketiganya langsung memanggil Intan dengan wajah pucat saat melihat muka terluka Intan.


Tanpa kata Intan berlari keluar kantor Zico. Ia tidak tahu harus kemana yang jelas hatinya sangat sakit sekarang mengetahui fakta jika suaminya menikahinya karena sebuah rasa bersalah. Seharusnya Intan tak mudah percaya dengan Zico! Seharusnya ia tidak menaruh hati pada Zico! Seharusnya ia tidak menikah dengan Zico! Karena Zico tetapi Zico, lelaki yang akan selalu menyakiti istrinya! Seharusnya Intan belajar dari pengalaman Laura.


"Kejar istri kamu, Zico!" perintah Anggun yang melihat anaknya masih mematung menatap kepergian Intan.


Zico yang sudah tersadar dari keterkejutannya langsung berlari menyusul Intan. Sungguh saat ini Zico tidak ingin kehilangan Intan, entahlah perasaan apa yang mengusai hatinya saat ini yang jelas Zico tidak mau kehilangan Intan.


"Intan tunggu, Sayang!" teriak Zico dengan mengejar.


Intan menyeka air matanya dengan kasar, ia terus berlari tanpa mempedulikan teriakan Zico yang mengejarnya.


"Lepas!" teriak Intan saat Zico berhasil memeluknya dari belakang.


"Maaf! Jangan pergi!" ucap Zico dengan lirih.


Intan tetap berontak di pelukan Zico, hatinya sungguh sakit sekali mengingat ucapan Zico yang tidak mencintainya.


"Lepas! Kamu tidak usah berpura-pura lagi mencintai aku!" ucap Intan dengan datar.


Zico kembali mengejar Intan. Ia sangat cemas melihat Intan yang seperti ini, terlihat sekali raut wajah kecewa dari istrinya. "Intan berhenti!" teriak Zico yang melihat Intan terus berlari ke jalan raya tanpa arah.


Jantungnya berdetak sangat kuat saat melihat banyaknya kendaraan yang berlalu lalang di mana sang istri berlari. Dengan cepat Zico menghampiri Intan.


"Intan awas!" teriak Zico dengan napas yang memburu.


Brakk....


"INTAN!"


Kaki Zico lemas melihat tubuh istrinya terseret beberapa meter oleh mobil yang melaju dengan kencang. Ia tidak berhasil nelindungi istrinya karena terhalang mobil yang berlalu lalang. Zico mencoba berlari saat merasa tulangnya seakan lunak melihat Intan tergeletak tak berdaya dengan banyaknya darah. Banyak orang yang sudah mengerubungi Intan, dengan perasaan was-was Zico melihat keadaan Intan.


Zico memangku kepala Intan yang berlumur darah tangannya gemetar dan akhirnya tangisnya pecah. "S-sayang!" panggil Zico dengan gemetar.


Intan berusaha membuka matanya, ia terbatuk hingga mengeluarkan darah dari mulutnya membuat Zico kembali menangis. "M-mas...te..rima...ka...sih...mau...menam...pung...In..tan..di....ru...mah..mem...berikan...cin..ta...ke...pada...In..tan...wa...lau...sem...ua..itu...pal..su...In..tan...mau...nyu...sul...ibu...ba...pak..uhuk...uhuk..."


"Jangan bicara lagi! Kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Zico dengan lirih.


"Cepat panggil ambulance!" teriak Zico pada orang-orang yang berada di sana.


"Ambulance masih dalam perjalanan Pak," ucap salah satunya.


"Se...la..mat...ting...gal..." Napas Intam tersengal-sengal. Dadanya sesak, perutnya sangat sakit, dan matanya berkunang-kunang tetapi ia masih bisa melihat kedua orang tuanya melambai tangan ke arahnya dengan tersenyum. Intan juga ikut tersenyum dan setelah itu matanya tertutup dengan rapat.


"INTAN!"


"TIDAK! JANGAN PERGI! AKU MENCINTAIMU, INTAN! BUKA MATA KAMU HIKS...HIKS... BANGUN!"


*****


Double up...


Tegang gak nih?


Kasihan Intan😭


Ramein dengan like, vote, dan coment yang banyak ya.