Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~52 (Flashback 1)



...Happy reading...


****


Dengan tekad yang begitu kuat Zico menemui mantan mertuanya yang ada di kota E. Sudah lama ia tidak berkunjung ke rumah mantan mertuanya, sejak ia menjadi suami Laura hanya beberapa kali ia ke rumah mertuanya itu pun karena menghormati kedua orang tuanya yang sudah bersahabat sejak lama dengan orang tua Laura dan juga agar tidak menimbulkan kecurigaan jika rumah tangganya dengan Laura tidak bahagia.


Hendra menatap menantunya dengan heran, pasalnya Zico datang ke rumahnya seorang diri. Dengan rasa penasaran yang membumbung tingga Hendra bertanya kepada Zico yang sudah ia anggap anaknya sendiri karena yang ia tahu Zico sudah membuat anaknya bahagia dari cerita Laura yang ternyata hanya kebohongan semata dari bibir Laura. "Kamu datang sendirian ke rumah Papa? Dimana Laura dan juga Dirga? Papa sudah sangat merindukan mereka!" tanya Hendra dengan penasaran.


Zico menatap mantan mertuanya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kami sudah bercerai sejak lama, Pa!" jawab Zico dengan tegas membuat Hendra menatap tajam ke arah Zico. Hendra sangat syok dengan pengakuan Zico.


"Cerai? Sejak kapan? Kenapa kami tidak mengetahui perceraian kalian? Apa alasan kalian memutuskan untuk bercerai? Bukannya kalian saling mencintai?" tanya Hendra dengan nada tajam ia memegang dadanya yang mendadak sakit tetapi tingkat penasarannya lebih tinggi.


Ratna yang baru saja datang dari dapur membawa minuman dan camilan untuk menantunya menjadi syok karena mendengar semuanya. Ia menatap Zico dengan mata yang berkaca-kaca. "Bisa jelaskan semuanya?" tanya Ratna dengan lirih.


Zico mengangguk menyetujui. "Pernikahan kami terjadi karena perjodohan, saya pikir saya akan hidup bahagia dengan Laura, ternyata saya salah, selama ini kami tidak bahagia karena saya berpikir pernikahan kami terjadi karena perusahaan. Kami memutuskan untuk bercerai setelah Laura melahirkan. Kami tertekan akhirnya kami berpisah," ucap Zico dengan tenang tetapi tidak menceritakan alasan mereka bercerai karena dirinya sering menyiksa Laura dan mengkhianati wanita itu dengan tidur dengan wanita bayaran. Zico tidak mau mantan mertuanya membencinya dan dirinya tidak bisa rujuk dengan Laura, rencananya akan gagal jika kedua mertuanya membencinya.


"Tapi alasan saya ke sini karena saya ingin rujuk dengan Laura. Saya mengakui kesalahan saya, mohon maafkan kesalahan saya, Pa, Ma," ucap Zico dengan lirih seakan ia sangat tersakiti dengan perpisahan dirinya dan Laura.


"Kami menikahkan kalian, karena kami tahu kalian saling mencintai. Kami berharap kalian akan bahagia, masalah perusahaan memang kami membantu papamu agar perusahaannya tidak gulung tikar. Tetapi apa yang kami dapat, kamu mengecewakan kami, Zico!" ucap Hendra dengan tajam tangannya terkepal dengan saat erat pertanda ia sedang marah namun sebisa mungkin ia tahan.


"Sekarang dimana Laura dan Dirga? Dan apa kedua orang tuamu mengetahui perceraian kalian?" tanya Ratna yang sudah menangis menatap Zico penuh kecewa.


"Laura dan Dirga berada di rumah mereka. Kami memutuskan untuk merahasiakan perceraian kami karena tidak ingin membuat kalian kecewa dengan keputusan yang kami ambil," ucap Zico dengan lirih.


"Tetapi kalian sudah membuat kami kecewa Zico. Bayangkan 2 tahun lebih kami tidak mengetahui jika kalian sudah berpisah! Bagaimana nasib anak saya di luar sana? Dia masih terlalu belia untuk mengurus bayi tanpa suami di sisinya!" ucap Hendra dengan murka.


"Zico menyesal, Pa. Dan Zico ingin rujuk dengan Laura," ucap Zico dengan lirih.


"Menyesal? Sudah 2 tahun kamu baru menyesal, Zico?" tanya Ratna yang tak habis pikir dengan mantan menantunya tersebut.


"Zico mohon, Pa, Ma. Bujuk Laura agar mau rujuk dengan Zico. Kasihan Dirga, dia masih sangat kecil jika harus berpisah dengan kedua orang tuanya," ucap Zico dengan memelas.


Hendra memijit pelipisnya, ia tidak habis pikir dengan anak dan menantunya yang merahasiakan perceraian mereka. Mereka orang tua keduanya tetapi bagai orang asing yang tak mengetahui apa-apa.


"Dimana alamat rumah Laura?" tanya Hendra dengan datar.


"Masih di kota yang sama dengan Zico, Pa. Di perumahan A," ucap Zico.


"Baik kami akan ke sana menemui Laura," ucap Hendra dengan tegas, ia yakin ada yang tidak beres dengan Zico hingga Laura bercerai dengan Zico tanpa sepengetahuan dirinya.


Zico menyeringai dalam hati karena ia yakin Laura akan kembali menjadi istrinya.


***


Hendra dan Ratna sudah berada di depan rumah Laura yang terlihat sangat kecil. Keduanya saling memandang dengan sendu, anak yang sangat mereka manjakan harus menghadapi kerasnya hidup tanpa bantuan dari mereka saat Laura dan Zico bercerai.


Hendra mengetuk rumah anaknya dengan tak sabaran. Begitu juga dengan Ratna sampai mereka mendengar suara Laura dari dalam.


Laura mematung melihat kedua orang tuanya yang sudah berada di hadapannya dengan menangis.


"M-mama, P-papa," ucap Laura dengan terbata dan tanpa kata kedua orang tuanya memeluk Laura dengan erat. Laura menangis tergugu melihat kedua orang tua yang sangat ia rindukan juga menangis memeluknya, jangan lupakan Dirga yang memeluk Laura dengan ketakutan melihat dua orang yang tidak dikenalnya.


"K-kenapa bisa..." Laura tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena sang ayah yang menatapnya tajam.


"Kamu menyembunyikan ini semua dari Papa dan mama!" ucap Hendra dengan tajam membuat Laura sulit menelan ludahnya.


"Laura tidak bermaksud membuat Papa dan Mama kecewa. Laura..."


"Ikut Papa dan Mama pulang!"


"Tapi..."


"Kamu tidak bisa membantah perkataan Papa!" ucap Hendra dengan dingin.


"Ikut, Nak!" ucap Ratna dengan tegas.


"Dan apa ini...?" Hendra menarik kalung Laura begitu saja saat ia menemukan benda yang sangat ia curigai.


"CCTV? Untuk apa benda ini? Apa Zico yang memasangnya?" tanya Hendra dengan tajam.


"CCTV? Laura tidak tahu, Pa!" ucap Laura tercekat dan pikirannya tertuju pada Leon.


"Mas Leon!" gumam Laura yang masih bisa di dengar oleh kedua orang tuanya.


"Apa? Coba sebutkan sekali lagi? Kamu membiarkan lelaki lain mengintai kamu, Laura? Kamu seorang janda!" bentak Hendra tanpa sadar membuat Laura ketakutan.


"Sabar, Pa!" ucap Ratna dengan mengelus bahu suaminya.


"Ini tidak bisa dibiarkan, Ma. Anak kita sudah janda dan ada yang memasang CCTV di kalungnya. Apa itu bukan mengintai dan melecehkan anak kita? Papa yakin rumah ini juga dipasang CCTV! Biar Papa periksa dan kita harus merusaknya sebelum kita membawa Laura dan Dirga pergi," ucap Hendra dengan dingin.


Laura ketakutan saat melihat sang ayah memarahinya, tubuhnya gemetar saat dengan teliti Hendra memeriksa seluruh sudut rumahnya. "LAURA APA KAMU TIDAK SADAR JIKA RUMAH INI DIPASANG CCTV, HAH? PAPA AKAN MERUSAKNYA DAN KAMU BERSAMA DIRGA HARUS IKUT PAPA DAN MAMA PULANG! PAPA TUNGGU PENJELASAN KAMU DI RUMAH. TENTANG PERCERAIAN KALIAN! TENTANG MERAHASIAKANNYA KEPADA KAMI DAN TENTANG MAKSUD DARI CCTV INI!"


Hendra menyeret anaknya untuk pulang ke rumahnya begitu saja setelah merusak CCTV yang berada di rumah Laura dan di kalung Laura. Ia benar-benar marah dengan Laura, penjelasan Laura sangat ia nantikan setelah ini, Hendra tidak mempedulikan Laura dan Dirga yang ketakutan karena dirinya, pintu rumah Laura jika tidak dikunci karena Hendra sudah murka dengan anaknya.


***


Flashbacknya ada dua part ya.


Masih sabar menunggu om Leon hijab kabul?


Ramein lagi ya!


Ramein dengan like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya.