
...Happy reading...
*****
Sultan memeluk Ika dengan erat, suasana di rumah ini masih dalam keadaan berduka. Semua terlihat tidak semangat dan sedih termasuk sang istri yang sekarang baru bisa memejamkan matanya sejak kemarin tidak tidur karena mengingat Leo, setiap kali mereka mengenang Leo maka hanya ada air mata yang keluar di kedua pipi mereka. Sultan merasa semua orang di rumah ini seperti mayat hidup dengan memaksakan senyuman tetapi jiwa mereka masih melayang. Sebuah rasa sedih karena kehilangan untuk selama-lamanya adalah suatu yang sangat menyakitkan. Hanya bisa membayangkan senyumnya tanpa bisa menyentuh, itulah yang keluarga pihak istrinya rasakan, Sultan hanya bisa memberikan ketenangan untuk istrinya agar tidak depresi karena kehilangan.
Baru kemarin mereka ditinggalkan Leo dan rasanya sudah sangat merindukan lelaki tua itu. Sultan mengecup kening Ika dengan lembut, ia menatap wajah Ika yang lumayan pucat karena terus menangis sejak kemarin bahkan lingkaran hitam terlihat jelas di bawah mata istrinya. Sultan mendesah dengan berat, mengingat betapa Ika sangat kacau, sebenarnya Sultan sangat takut kesedihan Ika akan memengaruhi kesehatan janin yang di kandung Ika. Tetapi ia harus tetap berpikir positif, energi positif yang ia tranfer kepada istrinya harus tersampaikan dengan baik oleh Ika agar wanita yang di dalam pelukannya baik-baik saja.
Sultan meletakkan kepala Ika di bantal dengan perlahan, ia mengelus wajah Ika yang terlihat damai. "Abang harap setelah bangun kamu merasa lebih baik dari sebelumnya," gumam Sultan dengan lembut. Sultan menyelimuti tubuh istrinya dan beranjak dari kasur dengan pelan, ia ingin ke bawah menemui keluarganya yang lain. Juga menemui Cut yang sejak kemarin kurang ia perhatikan karena menenangkan Ika yang terlihat lemah saat ini.
"Papa!" panggil Cut dengan pelan.
"Iya, Nak. Cut sudah makan?" tanya Sultan dengan lembut.
"Sudah sama kak Jihan dan kak Mentari. Mama mana?" tanya Cut dengan pelan, masih ada rasa sedih di hatinya karena kehilangan sosok kakek dari pihak mamanya lagi.
"Mama tidur, Sayang. Jangan diganggu dulu ya," ucap Sultan dengan lembut.
Cut mengangguk dengan patuh. "Pa, Cut boleh gak tinggal sama nenek aja di sini?" tanya Cut dengan hati-hati, entah mengapa Cut yang masih kelas 1 SD bisa berpikiran seperti itu.
Sultan membelalakkan matanya. "Cut mau tinggal sama nenek? Papa dan mama di Medan. Yakin gak akan nangis dan kangen sama Papa dan mama?" tanya Sultan dengan lembut.
"Kangen. Tapi Cut kasihan sama nenek sendiri di sini. Cut mau sekolah di sini aja, nanti kalau Papa dan mama kangen Cut, Papa dan mama bisa ke sini," ucap Cut dengan memohon.
Sultan menghela napasnya. "Nanti kita bicarakan sama mama ya! Sekarang Cut tidur siang dulu, Papa mau menemui om Leon dan om Ryan dulu," ucap Sultan dengan pelan. Cut mengangguk, ia kemudian berjalan ke arah kamarnya setelah mencium pipi papanya.
****
"Semua akan mengalami yang namanya mati dan perpisahan. Dan sekarang kita yang sedang mengalaminya, yang bisa kita lakukan hanya berdoa bukan berlarut-larut dalam kesedihan seperti ini terus, kasihan ayah di sana. Yang aku lihat ayah terlihat bahagia waktu itu saat mengatakan ia merindukan mama Adinda. Sekarang kita harus membuat bunda, kak Ulan, Ika, dan Ica tidak bersedih lagi. Melihat semua wanita di rumah ini bersedih bukankah kita sebagai lelaki harus bisa menguatkan?" ucap Sultan panjang lebar.
"Benar yang dikatakan Sultan. Kita harus bisa menguatkan mereka terlebih Bunda, pasti sekarang ia merasa sendiri karena kehilangan ayah dan anak-anaknya semuanya sudah menikah. Mas yakin kalian akan berlomba-lomba untuk mengerus bunda tetapi pikiran bunda sekarang tidak ingin merepotkan kalian, kita sebagai anak harus bisa membuat bunda merasa tidak sendiran," ucap Alan dengan tegas, lelaki itu baru saja datang dari kamarnya untuk menenangkan Ulan yang masih terguncang dengan kepergiaan Leon.
Leon menghela napasnya dengan berat. "Kalian benar. Kita sebagai lelaki harus bisa menjadi penguat untuk wanita yang ada di rumah ini," gumam Leon membuat Ryan bernapas lega karena sejak tadi Leon tak merespon ucapannya.
"Mas Leon, Mas Alan, Ryan, bang Sultan. Makan siangnya sudah siap sejak tadi. Makan dulu ya," ucap Laura yang datang dari dapur.
Leon tersentak, karena kesedihannya ia hampir saja mengabaikan anak dan istrinya. "Kamu yang masak, Sayang?" tanya Leon cemas karena pasalnya kembar dan Dirga akhir-akhir rewel dan pasti Laura sangat kerepotan mengurus anak mereka. Leon menjadi merasa bersalah kepada istrinya.
"Aku cuma bantu bibi, Mas. Kalian makan dulu ya," ucap Laura dengan lembut. Semua lelaki yang ada di sana mengangguk karena jujur saja setelah berbicara serius tadi perut mereka terasa lapar karena sejak kemarin tidak enak makan.
Laura tersenyum lega saat melihat suaminya dan saudara iparnya makan dengan lahab, pasti mereka merasakan sedih karena istri-istri mereka yang masih dalam keadaan berduka. Laura pun merasakan yang sama tetapi ia tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan karena pasti ayah mertuanya sudah bahagia di sana.
*****
Ramaikan part ini yok.
Jangan lupa like, vote, dan coment ya!