
...PERHATIAN : JADWAL UPDATE CERITA INI SELASA/JUMAT. KETIKA MENUNGGU CERITA INI UPDATE SILAHKAN BACA 'CINTA SEMPURNA SANG GADIS GANDUT' YANG PASTI GAK KALAH SERU DENGAN CERITA INI! SILAHKAN MAMPIR TEMAN-TEMAN....
...Happy reading...
***
Setelah pulang dari kampus Cut langsung ke rumah sakit untuk membantu para dokter yang bekerja di sana. Ia hanya melihat, mendata semua apa yang penting di kertas lalu membacanya dan menyimpannya dengan rapih agar menjadi pelajaran ketika dirinya sudah menjadi dokter nanti. Cut ingin menjadi dokter psikiater, Cut ingin menyembuhkan orang yang sakit mental, entah mengapa cita-citanya selalu sama dengan Dio. Dio juga dokter psikiater terbaik di rumah sakit ini.
Cut bersenandung dengan lirih saat memasuki ruangan Dio, karena saat ini ia akan membantu Dio menangani pasien yang trauma hingga membuat psikisnya begitu down. Cut mengeryit saat pintu ruangan Dio tidak tertutup, pintunya terbuka sedikit dan sayup-sayup ia mendengar suara wanita sedang berbicara dengan Dio.
"Dio, ayolah temani aku! Kamu akhir-akhir ini sibuk dengan pekerjaan kamu," ucap gadis itu merajuk.
Deg....
Cut mengenali suara itu. Suara yang selalu dikagumi oleh Dio. Siapa lagi kalau bukan Ratu, pemilik hati Dio sejak lama.
"Sebentar lagi ya. Aku tidak mungkin meninggalkan pasienku begitu saja," ucap Dio dengan lembut.
Cut tersenyum miris saat mendengar suara lembut Dio untuk Ratu. Kenapa hatinya sangat sakit padahal dirinya sendiri sudah mengetahui semuanya dan masih ingin berjuang mendapatkan hati Dio.
"janji?!" ucap Ratu dengan manja.
"Janji, Ratuku!" balas Dio dengan terkekeh dan ia mengacak rambut Ratu dengan gemas. Semua itu tak luput dari pandangan Cut. Hatinya sakit tetapi tidak berdarah.
Ratuku?
Padahal Dio dan Ratu sama sekali tidak memiliki hubungan khusus. Mereka hanya seorang sahabat sejak kecil. Namun, perasaan Dio lebih dari sahabat dan lelaki itu akan melakukan apapun agar Ratu tersenyum bersamanya padahal Dio tahu Ratu mencintai pria lain dan dirinya hanya menjadi pelampiasan sesaat jika kekasih Ratu tidak memiliki waktu untuk gadis itu.
"Ya udah aku tunggu di rumah ya! Aku pulang dulu!" ucap Ratu dengan senang.
Cut yang masih berada di depan pintu langsung bersembunyi saat melihat dan mendengar langkah kaki Ratu keluar dari ruangan Dio.
Setelah Ratu pulang, Cut menghembuskan napasnya perlahan untuk menyiapkan diri menemui Dio.
Tok...tok...
"Masuk!" ucap Dio dengan tegas.
Cut yang sudah mendapat izin masuk ke ruangan Dio melangkah dengan perlahan. "Permisi, Dok. Maaf saya telat!" ucap Cut dengan profesional.
"Hmmm. Sebaiknya kita langsung ke ruangan pasien!" ucap Dio dengan datar.
Cut mengangguk dengan patuh. Berkali-kali ia memantapkan hatinya agar tak berlarut-larut dalam kesedihan karena melihat apa yang membuat hatinya sakit.
Dio yang melihat Cut terdiam sejak tadi hanya bisa membatin dengan heran karena biasanya Cut cerewet dengan berbagai pertanyaan. Tanpa diketahui Dio, Cut tadi melihat kemesraannya dengan Ratu hingga membuat gadis cantik itu terdiam untuk mendinginkan hatinya yang sedang cemburu dengan kedekatan Dio dan Ratu.
"Jangan melamun! Saya tidak mau pasien saya merasa tidak nyaman!" ucap Dio dengan dingin.
"M-maaf, Dok. Saya hanya sedang memikirkan tugas kuliah," ucap Cut berbohong.
"Hmmm..."
Tangan Cut terkepal dengan kuat saat sikap dingin Dio kembali membuat Cut membeku. Andai saja Dio seperti papanya yang memperjuangkan mamanya dengan penuh cinta pasti Cut akan sangat bahagia sekali tetapi sayang Dio bukanlah Sultan lelaki yang menjadi cinta pertamanya.
Sesampainya di ruangan pasien yang akan ditangani oleh Dio. Cut langsung fokus untuk mencatat sesuatu yang penting bahkan ikut bertanya seperti Dio. Cut juga ingin memberikan yang terbaik untuk pasiennya walau ia belum menjadi dokter, butuh perjuangan untuk mendapatkan gelar tersebut.
*****
Sultan menatap anak gadisnya yang baru saja pulang dari rumah sakit dengan wajah lesu. Ia menghampiri Cut dengan tersenyum.
"Gimana kuliahnya dan aktivitas di rumah sakit hari ini?" tanya Sultan dengan lembut.
"Kak Cut, jalan-jalan yuk!" ucap Meira, adik bungsunya yang paling manja.
Cut menatap adiknya dengan tersenyum lalu ia bergantian menatap sang papa meminta bantuan karena ia merasa lelah hari ini untuk bepergian.
"Kakak baru pulang, Sayang. Biarkan kak Cut istirahat dulu," ucap Sultan memberikan peringatan untuk anak bungsunya.
"Yah.. Padahal pengin jalan-jalan ke mall," gumam Meira dengan lirih.
"Kakak istirahat dulu ya. Malam nanti kita pergi jalan-jalan gimana?" tanya Cut merasa bersalah kepada sang adik yang sangat berharap kepadanya.
"Beneran?" tanya Meira dengan berbinar.
"Iya, Dek. Tapi Kakak istirahat dulu ya," ucap Cut dengan lembut.
"Yes... Ya udah Kakak istirahat sekarang!" ucap Meira dengan bahagia.
Cut tersenyum lega saat adiknya kembali ceria. "Ya udah Kakak ke kamar dulu," ucap Cut dengan lembut.
"Pa, aku ke kamar dulu ya," pamit Cut kepada Sultan.
"Iya, Nak. Istirahat yang cukup," ucap Sultan perhatian membuat Cut bahagia.
Setelah kepergian Cut ke kamarnya, Sultan menghampiri Ika yang sedang berada di dapur. "Sayang!" panggil Sultan dengan lembut.
"Kenapa, Bang?" tanya Ika dengan lembut. Ia menghampiri suaminya yang duduk di kursi.
"Kamu sudah tanya Bunda tentang Cut yang suka sama Dio?" tanya Sultan dengan pelan.
Ika terdiam, lalu ia mengangguk. "Sudah, Bang. Dan Bunda bilang Cut semakin mencintai Dio makanya sering kali Bunda dan kak Ulan mendekatkan keduanya. Tapi aku gak mau Cut berjuang sendiri, aku sudah mengalaminya, Bang dan aku gak mau Cut merasakan yang sama seperti aku rasakan dulu," ucap Ika dengan Sultan.
Sultan menghela napasnya dengan kasar. Lalu ia menarik Ika kepangkuannya. "Kenapa anak kita cepat sekali sih dewasanya, Abang pusing kalau gini," gumam Sultan memijat pelipisnya.
"Ada masanya kita akan melihat Cut menikah, Bang. Dan kita harus ikhlas untuk itu, kita berdoa saja jodoh Cut seperti papanya yang tampan ini," ucap Ika dengan tersenyum.
Sultan terkekeh lalu ia mengecup bibir Ika dengan singkat. "Sebenarnya ada lelaki yang berniat serius dengan Cut tetapi Abang belum berbicara dengan Cut karena anak itu masih kuliah dan dia sangat mencintai Dio," ucap Sultan dengan jujur.
"Siapa Bang? Kok Abang baru cerita sih?" tanya Ika dengan penasaran.
"Lelaki itu adalah dosen kedokteran di Medan. Dia pernah melihat Cut saat belanja di swalayan. Adek ingatkan waktu Cut pulang ke Medan beberapa bulan lalu dan saat itu Cut menjaga swalayan karena ingin merasakan bekerja dan ada seorang pemuda yang berbelanja tepat di hari itu," ucap Sultan menjelaskan.
"Iya, Bang. Aku baru ingat," ucap Ika.
"Nah, lelaki itu ternyata anak dari salah satu kenalan Abang. Namanya Ihsan, kira-kira umurnya sekarang 29 tahun. Dia dosen kedokteran termuda di Medan, kemarin dia mengirim pesan ke Abang agar bisa lebih dekat dengan Cut," ucap Sultan yang membuat Ika terdiam.
"Semua keputusan ada di Cut, Bang. Tetapi menurut aku, biarkan Cut berjuang dulu dengan cintanya karena sebagai orang tua kita tidak bisa memaksa yang hanya bisa kita lakukan adalah mengarahkan anak kita. Abang gak perlu khawatir, anak kita sangat dewasa di dalam berpikir. Pasti ketika perjuangannya tidak dihargai oleh Dio, Cut akan memilih mundur," ucap Ika yang tahu bagaimana anak sambungnya tersebut.
"Semoga saja, Sayang. Sebagai seorang ayah, abang takut anak kita tersakiti," ucap Sultan dengan jujur.
"Abang gak perlu khawatir ya. Anak kita pasti tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri," ucap Ika menenangkan suaminya.
Sultan tersenyum lega. Lalu ia mendekatkan bibirnya ke telinga Ika dan berbisik lirih kepada sang istri. "Ke kamar yuk! Nanti malam pasti kita sudah lelah karena Meira pasti akan mengajak kita pergi ke mall juga," bisik Sultan dengan berat.
"Dasar nakal," ucap Ika dengan terkekeh. Setelah itu tubuhnya sudah melayang karena Sultan menggendongnya ke kamar. Sikap mesum dan manjanya sultan tidak pernah berubah walau sudah belasan tahun mereka menikah, bahkan anaknya saja sudah lima sekarang.
*****
Jangan lupa like, vote, dan koment yak
scroll kebawah lagi🤭🤭