Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~8 (90 Hari Mengejar Cinta)



...Happy reading...


****


Matahari sudah menembus jendela milik gadis cantik berdarah Aceh tersebut. Cut menggeliat dalam tidurnya, semalam ia merasa nyeri pada perutnya karena datang bulan di hari pertamanya. Selalu saja begini terkadang membuat gadis cantik itu tidak bisa bangun dari tidurnya karena perutnya amat terasa nyeri seperti sekarang. Untung saja hari ini dirinya tidak masuk kuliah, Cut bisa sedikit bersantai untuk sekedar menghilangkan rasa nyeri pada perutnya.


"Jam berapa ini?" tanyanya pada diri sendiri. Cut membelalakkan matanya saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Ia mendesah pelan karena tamu bulanannya ia menjadi kesiangan untuk ke rumah sakit. Padahal ia sudah berencana untuk memberikan bekal sarapan untuk Dio.


Dengan perlahan dan menahan nyeri pada perutnya Cut bangun dari tidurnya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Wajahnya terlihat sedikit pucat tetapi kecantikannya tetap saja membuat siapa saja yang akan melihatnya pasti merasa iri.


Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian, Cut keluar dari kamarnya menuju lantai bawah, ia melihat neneknya sedang duduk bersama dengan adik-adiknya.


"Pagi kesayangan aku!" sapa Cut dengan ceria.


"Pagi, Sayang!"


"Pagi, Kakak cantik!"


Jawab Saera dan ke-empat adik Cut dengan tersenyum. Cut memeluk neneknya dengan manja, jika sedang sakit seperti ini Cut akan selalu bermanja-manja dengan Saera.


"Papa dan mama mana, Nek?" tanya Cut yang tak melihat keberadaan kedua orang tuanya.


"Lagi pacaran berdua," jawab Saera dengan terkekeh.


"Kebiasaan deh! Gak ingat sudah punya anak lima," gerutu Cut membuat ke-empat adiknya cekikikan geli. Memang benar kedua orang tuanya selalu terlihat mesra walau terkadang mereka sering marahan tetapi tidak berlangsung lama mereka akan kembali mesra yang terkadang membuat anak-anaknya merasa iri.


"Kamu sarapan dulu sana!" ucap Saera.


"Nanti aja, Nek! Aku mau buat puding buat bang Dio," ucap Cut dengan tersenyum manis.


Saera menggelengkan kepalanya. Ini sudah 10 hari Cut mengejar cinta Dio dan tinggal 90 hari lagi waktu yang tersisa dan Saera berharap Dio bisa mencintai cucunya ini karena Cut sangat baik bahkan juga sangat cantik. Saera yakin lelaki di luar sana pasti banyak yang ingin menjadikan Cut istri mereka.


"Kalau perutnya sakit sebaiknya gak usah buat puding! Masih ada waktu besok," tegur Saera dengan lembut.


"Gak apa-apa, Nek. Perut aku sudah mendingan," ucap Cut dengan lembut.


Saera tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia membiarkan sang cucu membuat puding untuk Dio. Semuanya masih dalam tahap wajar maka Saera akan membiarkan Cut melakukannya kecuali Dio tidak benar-benar menghargai Cut maka Saera akan melarang Cut untuk mengejar cinta Dio kembali.


*****


Dio baru saja menangani pasien untuk melakukan terapi bersamanya. Ia berjalan ke arah ruangannya seorang diri, di dalam pikirannya tumben sekali Cut belum datang ke rumah sakit. Eh, kenapa dengan dirinya? Mengapa ia tiba-tiba memikirkan Cut? Pikirannya sudah tidak beres sekarang!


Tapi tunggu! Mengapa hari ini Cut terlihat berbeda? Gadis itu terlihat pucat! Apa Cut sedang sakit makanya gadis itu terlambat ke rumah sakit? Banyak pertanyaan muncul di benak Dio sekarang.


"Sudah jam berapa ini? Kenapa baru datang ke rumah sakit? Lupa dengan janji kamu pada pasien?" tanya Dio dengan sengit membuat senyum Cut langsung memudar.


"Maaf, Bang. Perut aku sedikit sakit tadi. Makanya aku telat ke rumah sakit tetapi aku janji akan bertugas dengan baik hari ini," ucap Cut tersenyum manis. "Ooo iya.. Ini ada puding coklat buatan aku, dimakan ya, Bang!" ucap Cut dengan lembut.


"Saya gak suka coklat!" ucap Dio dengan dingin.


"Coba saja dulu ya!" ucap Cut dengan memelas. "Aku yakin Abang suka!" lanjut Cut dengan yakin.


"Dasar pemaksa!" ucap Dio dengan datar. Cut tersenyum hangat, ia memaksakan senyumannya pada Dio ketika nyeri pada perutnya kembali datang.


Dio mengamati Cut yang tampak meringis bahkan dahi gadis itu sudah bercucuran keringat. "A-aku ke toilet dulu, Bang!" ucap Cut dengan terbata.


Dio hanya diam dengan memegang bekal puding yang Cut berikan. Ia memandang kepergian Cut dengan perasaan khawatir tanpa sadar kakinya melangkah mengikuti kemana Cut pergi.


Setelah Cut masuk ke dalam toilet, Dio berhenti melangkah tak jauh dari toilet wanita. Ia memandang kotak bekal yang berisi puding buatan Cut, di atasnya sudah ada kartu ucapan seperti biasa. Sudah 10 hari Cut melakukan itu kepadanya dan Dio mulai terbiasa akan semua hal yang Cut lakukan kepadanya.


'Puding manis untuk hari dokter tampan yang manis. Tinggal 90 hari lagi aku mengejar cinta bang Dio. Apakah di hati bang Dio sudah tumbuh rasa cinta untukku walau hanya sedikit? Kuharap sudah! Selamat menikmati puding buatanku dokter tampan!'


Dio membacanya dengan pelan. Tak terduga ia tersenyum tipis tetapi senyuman itu digantikan keterkejutan kala mendengar suara kesakitan dari Cut di dalam kamar mandi.


"Cut!" teriak Dio dengan khawatir saat ia melihat Cut berusaha keluar dari dalam kamar mandi dengan tertatih.


"A-abang sakit!"


Brukkk....


***


Gimana dengan part ini?


Aku masih benar-benar lemes banget. Bahkan buat jalan aja gemetar sampai keringat dingin muncul. Aku mau tanya dong kalian pernah gak batuk berdahak di sertai darah? Aku begitu kadang terasa sakit dada ini kalau ambil napas. Ini kenapa ya?😭😭😭😭


Jadi curhat😔


Jangan lupa ramein ya. InsyaAllah dua part ya tapi satu part lagi malam hari🤗🤗🤗


Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak! Aku selalu menunggu komenan kalian!