Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~ 85 (Baikan?)



...Jangan lupa ramaikan part ini ya...


...Happy reading...


****


Pagi harinya Cut menatap kursi makan yang kosong. Biasanya kursi tersebut sudah terisi oleh Dio namun sekarang lelaki itu tidak ada, ingin bertanya kepada kedua orang tuanya Cut merasa sungkan karena egonya yang masih tinggi untuk mendiami suaminya.


"Shita mau makan sama apa, Na?" tanya Ika kepada cucunya yang tampak diam.


"Shita gak mau makan kalau gak di suapi ayah!" ucap Mashita dengan sendu.


Ika menghela napasnya dan mengelus punggung Mashita dengan lembut. "Kan tadi ayah Dio udah pamitan sama Mashita untuk ke rumah sakit dengan cepat karena ada rapat. Semua dokter hari ini rapat tentang pemindahan tugas," ucap Ika sedikit keras agar anaknya mendengar perkataannya.


"Pindah tugas? Apa ayah juga pindah? Jauh gak, Nek?" tanya Mashita dengan sendu.


"Nanti Shita tanya sama ayah ya. Sekarang makan dulu," ucap Sultan dengan tegas karena ia merasa tidak tega melihat perubahan ekspresi anaknya yang sangat tampak terkejut sekali.


Cut tampak gelisah. Apakah Dio akan pindah tugas ke rumah sakit lain? Jika iya berarti Dio akan meninggalkan dirinya dalam waktu yang sangat lama.


"Cut, jangan melamun!" tegur Ika yang membuat Cut sedikit terkejut dan akhirnya tersenyum tipis dan melanjutkan sarapannya tanpa selera.


Dering ponsel Cut membuat wanita itu menatap ponselnya ketika tahu siapa yang menelepon Cut menautkan kedua alisnya.


"Siapa yang nelpon? Dio?" tanya Sultan.


Cut menggelengkan kepalanya. "Dari rumah sakit, Pa!" jawab Cut dengan pelan.


"Angkat aja siapa tahu penting," ucap Sultan kepada anaknya.


Cut mengangkat telepon dari rumah sakit dengan perasaan yang sama sekali tak enak seperti ada yang mengganjal di hatinya.


"Assalamualaikum.... Hallo!"


"Wa'alaikumuasalam, Dok!"


"Kenapa Sus?" tanya Cut dengan penasaran.


"Saya mau mengabarkan berita penting, Dok. Dokter Dio mengalami kecelakaan saat hendak ke rumah sakit dan sekarang sudah di rawat di.... "


Prankk....


Cut menjatuhkan ponselnya bersamaan dengan air mata yang mengalir di pipinya. "E-enggak... G-gak mungkin!" gumam Cut dengan pelan, mendengar kata kecelakaan membuat Cut trauma.


"Ada apa?" tanya Ika dengN khawatir.


Sultan mengambil ponsel anaknya yang masih tersambung hingga kabar yang tak mengenakkan kembali ia dengar. "Astagfirullah... Dio kecelakaan. Kita harus ke rumah sakit untuk memastikan keadaannya," ucap Sultan dengan cemas. Ia tak mau kejadian kelam itu terjadi lagi dan membuat Cut kembali depresi.


"Ayah... Shita gak mau kehilangan ayah lagi hikss..." ucap Mashita dengan menangis.


"M-ma, b-bang Dio gak mungkin ninggalin Cut kan, Ma! Hiks.... Ini semua salahku! Bang Dio gak boleh pergi hiks.." ucap Cut dengan histeris.


"B-bang Dio gak mungkin ninggalin Cut!" ucap Cut dengan menggelengkan kepalanya histeris.


"Kita ke rumah sakit sekarang. Dio akan baik-baik saja!" ucap Sultan dengan tegas walau sebenarnya ia juga khawatir dengan keadaan Dio.


Ika menggendong Mashita sedangkan Sultan membantu anaknya berjalan. Sungguh suasana seperti ini membuat mereka sangat panik, pikiran buruk terus menghantui mereka.


****


Sesampainya di rumah sakit Cut kembali menangis menyalahkan dirinya sendiri. Mama mertuanya mencoba menenangkan Cut.


"B-bang D-dio hikss... Ma, Bang Dio gak pergi, kan?" ucap Cut sesugukan.


Mama Dio menggelengkan kepalanya. "Dio gak apa-apa," ucap Mama Dio dengan lembut.


"Mama jangan bohong!" ucap Cut dengan menangis bahkan rasa sakit di perutnya sudah tak ia rasakan lagi karena hatinya lebih sakit saat ini.


"Mama gak bohong! Suami kamu itu tadi nyebrang jalan untuk beli sesuatu sebelum ke rumah sakit ternyata ada motor yang lewat Dio gak lihat alhasil ke tabrak motor yang melaju kencang ya walaupun tangannya terkilir tapi sekarang Dio udah siuman," ucap mama Dio.


Cut bernapas lega. "Cut mau bang Dio!" ucap Cut dengan menghapus air matanya dengan kasar.


Cut berjalan memasuki ruangan Dio, ia melihat Dio yang masih memejamkan matanya.


Brukkk...


"Hikss...hiks...maafin aku, Bang!" ucap Cut menangis setelah memeluk suaminya.


Dio mencoba membuka matanya, ia tersenyum melihat Cut memeluknya dengan erat dan menangis.


"Abang gak apa-apa. Cuma lecet," ucap Dio dengan pelan mengelus kepala istrinya yang terbalut hijab.


"Hikss.. Aku takut Abang pergi!" ucap Cut dengan jujur.


"Gak Sayang. Abang udah janji untuk jaga kamu, mana mungkin Abang pergi dengan keadaan kamu yang masih marah sama Abang. Seharusnya Abang yang meminta maaf karena sudah berbohong sama kamu. Sebenarnya tadi Abang mau beli bunga untuk kamu dan kembali pulang sebentar karena meeting di undur siang hari tapi ternyata Abang ke tabrak sepeda motor untungnya cuma lecet sedikit," ucap Dio mencoba tersenyum walau tangannya berdenyut sakit akibat terkilir.


"Hiks... Cut udah gak marah sama Abang. Jangan pergi! Cut gak bisa tanpa Abang hiks..."


"Alhamdulillah... Ternyata kecelakaan Abang menyimpan berkah karena kamu udah gak marah lagi. Jangan marah lagi ya Abang tersiksa," gumam Dio dengan terkekeh.


"Ayah!" teriak Mashita dengan wajah yang memerah karena menangis.


"Hai, Sayang. Kenapa mukanya seperti itu hmm?" tanya Dio dengan lembut.


"Bunda jangan dekat ayah. Ayah milik Shita!" ucap Mashita yang merasa cemburu ketika ayahnya terus di peluk oleh bundanya.


"Ini suami bunda!" ujar Cut tak mau mengalah.


"Hiks... Mau ayah!"


"Ssstt... Sini peluk ayah semuanya. Tapi jangan sentuh tangan ayah yang kiri!" ucap Dio dengan bahagia. Akhirnya Cut dan Mashita saling memeluk erat Dio keduanya mencari perhatian Dio. Ahhh entahlah ibu dan anak itu seperti bersaing mendapatkan perhatian dari Dio dan siapa pun yang melihatnya akan merasa gemas karena akhirnya ketiganya bersama kembali.