
...Aku kembali lagi dengan Kisah Cut, Ihsan, dan Dio. Ramein seperti biasa ya, biar aku update pagi siang. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyaknya. antusias kalian menentukan mood author nih!...
...Happy reading...
***
Keluarga Cut dan Ihsan sudah berkumpul di rumah Sultan dan Ika. Rumah yang Sultan rancang untuk istrinya saat mereka menikah dulu sudah berdiri dengan megahnya sedangkan rumah mereka dulu sudah mereka sewakan.
Malam ini adalah malam yang penuh dengan kekeluargaan. Suasana terasa sangat hangat dan kini giliran ayah dari Ihsan yang mulai berbicara, ia dan istrinya tidak menyangka jika Ihsan mencintai anak dari temannya sendiri apalagi Cut sangat cantik dan sopan santun membuat kedua orang tua Ihsan langsung menyetujui niat baik anaknya apalagi Ihsan anak semata wayang mereka.
"Saya sebagai ayah dari Ihsan merasa sangat bahagia malam ini karena Ihsan akan melamar pujaan hatinya secara langsung di depan keluarganya. Saya mewakili anak saya ingin meminta Cut anak dari Sultan dan Ika untuk menjadi istri dari Ihsan. Apa Cut menerima lamaran Ihsan?" ucap Anton, ayah Ihsan dengan suara yang tegas dan terharu dengan suasana yang terjadi di dalam rumah Sultan.
Cut menunduk dengan malu saat Ihsan menatapnya dengan penuh cinta. Jantungnya merasa deg-degan saat ini dan tangannya juga berkeringat karena deg-degan. Tak menyangka ia akan dilamar secepat ini oleh seseorang lelaki yang mencintainya dengan sangat dalam.
"Bagaimana, Nak? Semua keputusan ada di dalam hati kamu sekarang!" ucap Sultan dengan tegas. Ada perasaan sedih karena Cut akan menikah pasalnya selama belasan tahun Cut sudah tidak tinggal bersamanya dan saat sudah dewasa Cut kembali harus tinggal bersama suaminya kelak.
Cut menatap semua orang yang berada di ruang keluarga. Semua orang menatapnya dengan senyuman. Akhirnya Cut mengangguk dengan mantap. "Bismilllah. Aku menerima lamaran Bang Ihsan, Pa!" ucap Cut dengan yakin.
Semua orang menatap Cut dengan bahagia tak terkecuali Ihsan. Pria itu ingin memeluk Cut sekarang juga karena saking bahagianya tetapi ia sadar jika Cut belum sah menjadi istrinya.
"Alhamdulillah!" ucap semua orang dengan bahagia.
"Berarti kita tinggal menentukan tanggal pernikahan Ihsan dan Cut," ucap Ambar, ibu Ihsan dengan gembira.
"Jika boleh lebih cepat lebih baik," ucap Ihsan dengan penuh harap.
"Hahaha...terlihat sekali jika anak saya yang sudah tidak sabaran, Sultan. Bagaimana? Apa kita percepat saja pernikahan mereka?" tanya Anton dengan tertawa membuat Ihsan merasa malu.
"Hahaha...memang lebih cepat lebih baik, Anton. Saya lebih tenang jika keduanya sudah halal," ucap Sultan dengan tertawa bersama dengan calon besannya.
"Betul. Lebih baik pernikahan mereka dipercepat saja," ucap Alan menimpali.
Ihsan merasa bahagia karena mendapat dukungan dari keluarga Cut. Ia menatap Cut dengan jahil hingga Cut merasa kedua pipinya memanas. Sedangkan sejak tadi Ika, Saera, dan Ulan menjadi pendengar yang baik. Ada perasaan tak rela di hati Ika saat sebentar lagi Cut akan menikah dengan Ihsan.
"Bagaimana jika sebelum Cut masuk kuliah kembali?" tanya Ihsan meminta pendapat dengan calon keluarganya dan kedua orang tuanya.
"Tidak masalah. Semua bisa dipersiapkan dengan mudah, Nak!" ucap Ika dengan tegas karena ia tak mau Cut mengalami masa pahit seperti dirinya.
"Bagaimana, Dek? Abang tidak mau menunda Niat baik Abang untuk menikahi kamu," ucap Ihsan dengan tegas.
Cut menghembuskan napasnya dengan perlahan ia memantapkan hatinya. "Aku setuju jika itu yang terbaik buat hubungan kita, Bang!" ucap Cut dengan mantap.
"Alhamdulillah."
******
"Dek!" panggil Ihsan dengan lembut saat mereka duduk berdua setelah lamaran yang terjadi tadi.
"Iya, Bang. Kenapa?" tanya Cut dengan tersenyum.
"Setelah kita menikah nanti. Adek fokus sama kuliah dan Abang saja ya, tidak usah bekerja di rumah sakit lagi. Abang gak mau kamu kelelahan bekerja, kuliah dan mengurus rumah tangga kita nanti," pinta Ihsan penuh harap.
Cut terkekeh. "Aku bekerja di rumah sakit waktu itu karena ingin menambah wawasan, Bang. Agar aku bisa menjadi dokter yang hebat juga bisa bertemu dengan Bang Dio waktu itu. Tetapi untuk sekarang sampai kita menikah aku tidak akan bekerja sesuai keinginan Abang sebagai suami Cut nantinya," jawab Cut dengan tegas dan sama sekali tidak ragu.
Ihsan merasa cemburu ketika Cut menyebut nama Dio. "Jangan sebut nama itu lagi, Dek. Abang cemburu!" rajuk Ihsan dengan manja.
"Maaf, Bang. Aku hanya tidak ingin ada yang ditutupi di antara kita," ucap Cut dengan bijak.
Ihsan tersenyum dengan pemikiran dewasa calon istrinya. "Abang boleh tanya sesuatu lagi?" tanya Ihsan dengan lembut.
"Boleh. Mau tanya apa, Bang?" Cut menatap calon suaminya dengan penuh puja dan sangat bersyukur karena Allah mendatangkan Ihsan dalam hidupnya di saat ia terluka akan cinta yang tak terbalas.
"Mau menunda momongan atau tidak?" tanya Ihsan dengan serius.
Glekk...
Pertanyaan apa ini? Mengapa Cut merasa sangat gugup sekarang? Pipinya memanas saat pertanyaan Ihsan menembus ke hatinya. Cut harus menjawab apa? Mengapa lidahnya terasa keluh?