
...Part terakhir di hari ini. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya. sampai jumpa di hari selasa....
...Happy reading...
***
Dio yang saat ini sedang libur bisa beristirahat sebentar untuk menghilangkan rasa lelahnya karena akhir-akhir ini pasiennya bertambah banyak apalagi Cut tidak lagi membantunya. Tetapi di saat ia ingin memejamkan matanya ponselnya berdering membuat Dio berdecak dengan kesal dan meraih ponselnya dengan sedikit kasar.
"Bude," gumam Dio dengan lirih. "Bude kirim video apa ya?" tanya Dio pada dirinya sendiri. dengan penasaran, Dio membuka pesan WhatshApp yang dikirimkan Ulan untuk Dio.
Dio membelalak kaget saat dirinya memutar video yang dikirimkan Ulan untuknya. "Kenapa bude kirim video ini sih? Buat apa coba? Buat manas-manasi gue? Gue gak akan panas!" ucap Dio dengan ketus.
Dio meremas ponselnya dengan erat saat matanya enggan beralih pada video pernikahan Cut dan Ihsan. "Shitt...." Dio mengumpat dengan keras saat ia terus memutar video tersebut dari Ihsan mengucap ijab kabul hingga kata sah terdengar dengan keras bahkan sampai keduanya naik kepelaminan.
Prank...
Dio menatap ponselnya dengan sinis saat ponsel tersebut sudah ia banting hingga pecah. "Mampus lo!" ucap Dio dengan kesal.
Kenapa tiba-tiba hatinya panas tak karuan seperti ini. Bayangan Ihsan mengucapkan ijab kabul dengan lantang dan senyum manis Cut maupun Ihsan membuat Dio mengepalkan tangannya dengan kuat.
Bukkk....
Dio tak merasakan sakit saat tangannya mengeluarkan darah karena ia meninju tembok kamarnya terlalu kuat untuk menghilangkan kekesalannya.
"BUDE ULAN!" teriak Dio dengan marah membuat kedua orang tua Dio yang mendengar keributan dari dalam kamar anaknya langsung menghampiri kamar Dio.
Bukannya khawatir keduanya malah cekikikan mendengar amarah dan amukan Dio. "Kak Ulan tua-tua semakin jahil saja ya Mas," ucap mama Dio dengan terkekeh.
Papa Dio menggelengkan kepalanya. "Emang video apa yang dikirimkan kak Ulan sama anak kita, Ma?" tanya papa Dio dengan penasaran.
"Video pernikahan Cut, Mas. Mama sudah berharap dapat menantu seperti Cut. Eh anak kita itu bodoh sekali melepas berlian berkilau seperti Cut. Kan impian Mama tidak bisa terlaksana sekarang," ucap mama Dio mengerucutkan bibirnya.
"Hus...walaupun Mama mau Cut jadi menantu kita. Mama juga tidak tega berdoa jelek seperti itu. Biarlah Cut mendapatkan lelaki baik seperti Ihsan bukan seperti anak kita itu," ucap mama Dio dengan serius.
Papa Dio hanya terkekeh. "Papa bercanda, Ma."
Ceklek...
Kedua orang tua itu terlihat sangat gugup saat pintu kamar Dio terbuka. Dio menatap kedua orang tuanya dengan heran. "Kenapa Papa sama Mama di sini?" tanya Dio dengan datar.
"I-itu tadi Mama dengar suara tikus kesakitan. Sepertinya tikusnya sedang patah hati karena cewek tikusnya memilih tikus yang lebih keren. I-iya kan Pa?" ucap Mama Dio mencari alasan.
"I-iya Papa bantu Mama cari tikusnya," ucap Papa Dio dengan kikuk.
Dio menatap kedua orang tuanya dengan datar. "Sejak kapan tikus ada di depan kamar Dio? Mama dan Papa jangan mengelak! Pasti kalian menguping kan?" ucap Dio dengan datar.
"Hehehe... Mama dan Papa tidak menguping Dio. Mama dan Papa hanya mendengar teriakan kamu. Emang ada apa sama bude Ulan sampai kamu marah begitu?" tanya mama Dio dengan mengulum senyumnya saat melihat wajah kesal anaknya.
"Bukan urusan Mama!" ujar Dio dengan kesal.
"Eh ini anak gak sopan. Mau kemana kamu Dio?" teriak mama Dio.
"Cari angin segar," teriak Dio dengan datar.
Mama dan papa Dio saling memandang satu sama lain dengan terkekeh. Bisa juga ternyata anaknya merasa cemburu kejadian langka yang pernah terjadi yang pernah mereka lihat.
"JANGAN LARI KE JEMBATAN ATAU ATAP RUMAH SAKIT YA DIO. MAMA TAKUT KAMU BUNUH DIRI KARENA PATAH HATI LIHAT CUT MENIKAH DENGAN IHSAN. KAMU KAN MASIH JOMBLO," teriak mama Dio terkikik geli.
"MAMA!" teriak Dio dengan marah.