
...Happy reading...
****
Laura menatap Leon yang tertidur di sebelahnya. Leon bukan kekasihnya, Leon bukan suaminya tetapi mereka sudah sangat ketergantungan satu sama lain. Dan setelah itu Laura menatap ke arah Dirga. Dirga bukan anak Leon tetapi mengapa anaknya begitu sangat mirip dengan Leon? Tingkah anaknya, sifat anaknya semua mirip dengan Leon. Apa karena Leon'lah yang sekarang bersama dengan Dirga? Mengapa dua lelaki berbeda generasi ini memiliki ketampanan yang sama?
Astaga... Kenapa dengan dirinya? Akhir-akhir ini ia selalu melihat Leon dengan begitu berbeda, bahkan Laura bisa sangat manja dengan Leon.
Leon mengerjapkan matanya, ketika matanya terbuka, pandangannya bertemu dengan Laura yang sedang menatap ke arah wajahnya. "Saya tahu, saya tampan, Laura!" ucap Leon dengan tenang. Tangannya membawa kepala Laura untuk bersandar di dadanya. Laura mendapatkan ketenangan dari Leon sampai ia memejamkan mata karena elusan Leon di rambutnya.
"Saya mau berangkat kerja! Kamu juga, kan?" tanya Leon yang diangguki oleh Laura. Hampir saja wanita itu lupa jika ia harus bekerja hari ini.
"S-saya mau mandi dulu, Pak!" ucap Laura dengan gugup.
"Mandillah. Dirga belum bangun juga, biar saja Dirga nanti bersama dengan Intan," ucap Leon yang diangguki oleh Laura. Laura hendak turun dari ranjang tetapi tengkuknya ditarik oleh Leon hingga bibir mereka saling bertemu.
Cup...
"Semangat pagi buat saya!" ucap Leon dengan menyentuh bibir Laura dengan ibu jarinya yang membuat Laura bersemu merah.
"P-pak!" panggil Laura dengan lirih.
"Iya," jawab Leon dengan tersenyum.
"Bapak hari ini kerja di restoran, kan?" tanya Laura dengan tenang.
"Tidak, Laura! Saya harus ke kantor!" ucap Leon dengan tegas.
"Ke restoran saja!" ucap Laura dengan cepat.
"Restoran sudah ada Rama dan Ika yang mengurus," jawab Leon dengan tenang.
"Ke restoran saja, Pak!" ucap Laura dengan merengek.
"Kenapa saya harus ke restoran?" tanya Leon memancing Laura agar berkata jujur dengannya.
"S-saya..." Laura bingung harus menjawab apa karena entah mengapa ia ingin melihat Leon seharian ini di restoran.
"Kenapa, Laura?" tanya Leon sekali lagi.
"S-saya ada menu baru dan Bapak harus mencicipinya," ucap Laura dengan cepat.
"Baiklah... Jika itu yang kamu mau saya akan ke restoran, sekarang mandi dan bersihkan dirimu," ucap Leon dengan lembut membuat Laura bernafas dengan lega.
Dirga menggeliat dari tidurnya, ia terlihat masih sangat mengantuk sekali tetapi melihat sang ayah yang malam ini tidur bersamanya membuat Dirga bangun dan langsung memeluk Leon dengan erat. Ketika sakit, Dirga sangat manja dengan Leon yang membuat Laura mau tidak mau harus menelepon Leon.
"Yah!" panggil Dirga dengan suara yang pelan panasnya sudah menurun hanya saja balita itu masih merasakan lemas pada tubuhnya.
"Kenapa, Nak? Dirga mau apa? Mainan?" tanya Leon dengan lembut.
"Ukan!" ucap Dirga dengan lirih.
"Jadi apa?" tanya Leon dengan sabar.
"Apan Ayah dan Dilga tinggal belsama?" tanya Dirga dengan lirih.
Deg...
Leon tersenyum setelah hatinya merasa berdenyut. "Coba Dirga tanya bunda nanti, kapan bunda dan Dirga mau tinggal bersama Ayah. Kasihan Ayah tahu, gak ada yang masakin, tidur gak ada yang nemenin, semuanya serba sendiri. Jadi, Dirga harus merayu bunda biar gak ngambek terus sama ayah," ucap Leon dengan tenang.
"Nda ngambek? Dilga mau sama Ayah sama Nda, juga. Catu lumah," ucap Dirga dengan lirih.
"Dirga kan anak Ayah yang pintar. Ajak bunda biar mau tinggal sama Ayah, ya!" ucap Leon yang diangguki oleh Dirga dengan semangat.
"Dirga mau ikut ke restoran bersama dengan Ayah dan bunda?" tanya Leon yamg merasa tidak tega meninggalkan Dirga bersama dengan Intan kali ini.
"Au Yah!" ucap Dirga dengan senang.
"Oke... Setelah ini kita berangkat! Tunggu bunda mandi dulu," ucap Leon dengan mengusap kepala Dirga dengan sayang.
Dirga adalah sekutu yang tepat untuk membuat Laura tidak berkutik.
***
Zico memegang kepalanya yang berdenyut. Ia menghela nafasnya dengan kasar, setelah ini ia harus bertemu dengan Laura dan Dirga. Dengan cara apapun ia harus membuat Laura menjadi istrinya kembali, rasanya Zico sangat sulit menerima semuanya. Ahh... Ternyata menjadi dirinya sangat sulit sekali, seakan ia dipermainkan oleh kedua orang tuanya sendiri.
"Laura, tunggu aku! Aku akan menjadikan kamu istriku kembali," ucap Zico dengan tajam. Karena mulai detik ini Laura akan tetap menjadi miliknya.
****
Gimana dengan part ini?
Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya!