
...Kurang rame ih! Jadi kurang semangat!😣 Ramein part ini supaya semangat lsgi buat update hari selasa. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya! Aku tunggu komentar ramenya wkwk....
...Happy reading...
****
"Mau menunda momongan atau tidak?" tanya Ihsan dengan serius.
Glekk...
Pertanyaan apa ini? Mengapa Cut merasa sangat gugup sekarang? Pipinya memanas saat pertanyaan Ihsan menembus ke hatinya. Cut harus menjawab apa? Mengapa lidahnya terasa keluh?
Dan pikiran Cut berkelana entah kemana yang semakin membuat Cut merinding.
"Mikirin apa?" tanya Ihsan dengan jahil.
"Aaa itu...mikirin mau punya anak berapa. I-itu, Bang," ucap Cut dengan gugup.
"Jadi gak mau menunda momongan nih? Abang gak masalah loh kalau kita menunda momongan dulu karena kamu juga masih kuliah. Pasti berat kuliah terus hamil. Kita bisa pacaran dulu," ucap Ihsan pengertian.
"Anak itu adalah rezeki, Bang. Aku gak mau menundanya, kalau di kasih cepat ya alhamdulillah, kalau belum ya kita tetap berdoa. Lagian juga aku hamil sama suami aku jadi gak masalah, misal nanti aku hamil dan masih kuliah, kalau mau mengerjakan tugas kuliah kan ada pak dosen yang siap bantu aku kapan saja. Iya kan, Bang?" ucap Cut dengan tersenyum manis.
"Pintar banget ya calon istri Abang ini hmmm. Apapun pasti akan Abang bantu, Dek. Asal kamu tidak kelelahan nantinya. Abang gak mau egois, Abang harap kita saling bahu membahu satu sama lain," ucap Ihsan dengan tegas.
Keduanya tertawa bersama. Menikmati angin malam dengan menatap bintang yang berkerlap kelip dengan indah malam ini seakan mereka ribuan bintang juga menyaksikan kebahagiaan calon suami istri tersebut di kota Medan.
****
Malam semakin larut akhirnya Ihsan dan kedua orang tuanya sudah pulang. Kini, Cut sudah berada di dalam kamarnya. Ia masih tak menyangka jika akan menikah di usia yang masih sangat muda bahkan usianya belum genap 21 tahun. Perbedaan usia dirinya dan Ihsan yang lumayan jauh membuat Cut merasa dilindungi oleh Ihsan. Seakan sikap dewasanya hilang entah kemana saat Ihsan memberikan perhatian kepadanya dan menyiksakan Cut yang manja kepada Ihsan. Mungkin benar kata orang kalau jatuh cinta kepada orang yang tepat kita akan selalu bahagia bersamanya dan itulah yang Cut rasakan ketika bersama dengan Ihsan dan entah mengapa ia tidak pernah terpikir akan Dio, seakan Cut sudah melupakan lelaki itu sejak lama, padahal baru beberapa hari Cut melepaskan dan mencoba berhenti mencintai Dio.
Cut berguling ke kanan dan ke kiri, entah mengapa ia tidak bisa tidur sama sekali. Matanya tidak merasa ngantuk sampai sekarang, ia masih membayangkan lamarannya dengan Ihsan yang sangat membuat hatinya membuncah karena rasa bahagia. Rasanya hati Cut akan meledak sekarang karena banyaknya ribuan kupu-kupu yang menari hatinya.
Dulu ia mempunyai impian untuk menikah dengan Dio dan impian itu sudah terkubur digantikan dengan impian akan memiliki keluarga yang bahagia bersama dengan Ihsan. Allah Maha Adil dan Cut mendapatkan kebahagiaan yang berlipat ganda dan semoga kebahagiaan ini masih berlangsung sangat lama hingga dirinya dan Ihsan tidak bernyawa lagi.
Drrtt...drrt...
Cut mengambil ponselnya dan ia tersenyum saat siapa yang menelpon video ke nomornya. "Assalamualaikum, Bang," salam Cut dengan tersenyum.
"Wa'alaikumussalam calon istriku," jawab Ihsan yang membuat kedua pipi Cut memerah. "Benarkan firasat Abang kalau kamu belum tidur. Ini sudah malam, Dek!" ucap Ihsan dengan lembut.
"I-ini mau tidur kok Bang," ucap Cut dengan terbata.
"Beneran? Ya udah sekarang pejamkan mata kamu, tidur yang nyenyak ya! Besok Abang mau mengajak kamu jalan-jalan," ucap Ihsan dengan perhatian.
"Jalan-jalan ke mana, Bang? Iya ini aku tidur tapi matikan dulu panggilan videonya," ucap Cut dengan pelan. Entah mengapa dirinya menjadi mengantuk sekarang hanya karena Ihsan menyuruhnya untuk tidur.
"Ke mana pun kamu mau. Gak usah dimatikan panggilan videonya, Abang mau memastikan kamu benar-benar tidur, Dek!" ucap Ihsan dengan lembut.
"Mau ke Aceh. Ke masjid Raya Baiturrahman, museum tsunami, dan masih banyak lagi. Aku sudah lama tidak pulang ke sana semenjak kakek dan nenek meninggal," ucap Cut dengan berbinar, ia sudah sangat merindukan tempat kelahiran mama dan papanya.
"Boleh. Tapi ajak semua keluarga kamu kalau kita ke Aceh. Abang gak mau kena razia satpol pp," ucap Ihsan dengan tertawa.
"Ih...emang kita ngapain bisa kena razia satpol pp," ucap Cut dengan cemberut.
Ihsan semakin terbahak, ia merasa gemas dengan pipi Cut yang mengembung. "Dua hari lagi kita akan pergi ke Aceh kalau itu yang adek mau. Tapi Abang serius bawa semua keluarga kamu, kita belum nikah gak mungkin kita liburan berdua. Kalau sudah menikah liburan berdua tidak masalah, malah itu yang Abang inginkan. Sekarang tidur ya, besok Abang ajak kamu ke suatu tempat," ucap Ihsan dengan lembut.
Cut mengangguk semangat, ia meletakaan ponselnya di bantal agar Ihsan masih bisa melihat wajahnya. Cut memejamkan matanya dengan perlahan, panggilan video masih berlangsung.
Ihsan tersenyum saat merasa Cut sudah benar-benar tertidur tanpa mengucapkan kata perpisahan terlebih dahulu.
"Manis banget sih," gumam Ihsan mengusap layar ponselnya yang memperlihatkan wajah Cut seakan ia mengusap pipi Cut dengan lembut.
"Selamat tidur, Sayang. Tunggulah sebentar lagi Abang akan tidur di sampingmu, memeluk tubuh rampingmu sampai pagi dan mengecup seluruh wajahmu dengan gemas. Kamu hanya milik Abang sampai maut memisahkan kita," gumam Ihsan dengan lirih. Ia juga ikut memejamkan mata tanpa mematikan panggilan video mereka.