
...Maaf telat update lagi guys....
...Happy reading...
****
Ihsan dan Cut menikmati setiap moment menjadi orang tua baru untuk Mashita. Cut juga sibuk dengan koasnya, selama koas dan Ihsan bekerja Mashita dijaga oleh baby sitter yang memang sudah sangat profesional. Cut dan Ihsan selalu memantau Mashita lewat CCTV yang terhubung di rumahnya, setiap gerak gerik baby sitter menjadi pengawasan mereka berdua.
"Abang," panggil Cut dengan panik saat sang suami hampir terjatuh.
"Abang kenapa? Ya Allah, Abang," ucap Cut dengan khawatir memegang lengan suaminya.
Cut membantu Ihsan untuk duduk di sofa. Ia memperhatikan Ihsan yang tampak meringis memegangi kepalanya.
"Abang tidak apa-apa, Sayang! Kamu sudah siap?" tanya Ihsan mengalihkan pembicaraan.
"Benar tidak apa-apa?" tanya Cut memastikan.
Ihsan menggelengkan kepalanya dengan tersenyum manis. "Kamu sudah siapkan? Ayo Abang antar ke rumah sakit," ucap Ihsan dengan lembut.
"Hari ini Abang libur jadi biar Mashita sama Abang menunggu kamu selesai koas hari ini," ucap Ihsan.
"Beneran? Kalau gitu aku bisa melihat Mashita di rumah sakit dong?" ucap Cut dengan senang.
"Bisa, Sayang. Kamu gendong Mashita, ayo kita berangkat sekarang," ucap Ihsam dengan tegas.
"Yeee...Mashita bisa lihat bunda kerja," ucap Cut mengambil Mashita di dalam stroller dan menggendongnya dengan nyaman.
Ihsan tersenyum melihat kebahagiaan terpancar dari wajah sang istri. Sebisa mungkin Ihsan membuat Cut bahagia berada di sampingnya, ia ingin menciptakan kenangan yang indah bersama dengan sang istri
"Ayo berangkat Ayah. Shita tidak sabar ingin naik mobil," ucap Cut yang menirukan suara anak kecil.
****
Lain dengan Cut dan Ihsan. Sekarang Dirga sedang menemani Vera senam untuk memperlancar kelahiran kedua anak mereka yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.
Vera saat ini sudah berkeringat, cukup lelah ternyata mengikuti senam kehamilan. Yang ia peragakan sendiri di rumah, dengan penuh perhatian Dirga mengelap keringat Vera dengan handuk kecil yang berada di tangannya.
"Jangan dipaksakan lagi. Besok saja dilanjutkan kembali," ucap Dirga dengan lembut.
Vera mengangguk dengan lelah. Ia menyandarkan punggungnya di dada sang suami dengan nyaman sedangkan Dirga mengelus perut sang istri yang terlihat sangat bulat sekali dengan lembut.
"Aku jadi takut Mas menghadapi persalinan sebentar lagi," gumam Vera dengan lirih. Ia juga ikut menyapa kedua anaknya dengan elusan tangannya.
"Jangan dipikirkan. Semua pasti akan berjalan dengan lancar dan sebentar lagi kita akan melihat baby twins," ujar Dirga dengan lembut.
"Nanti wajah mereka mirip siapa ya?" tanya Vera mengkhayal.
"Yang pasti mirip kita berdua. Kan kita yang buat mereka sampai jadi," ucap Dirga dengan terkekeh.
"Ya ampun Mas. Dasar berondong mesum!" ucap Vera dengan terkekeh.
"Tapi aku bahagia bisa dihamili sama kamu, Mas! Aku pikir aku tidak bisa merasakan menjadi ibu, ternyata berkat kamu aku bisa merasakannya bahkan dia tumbuh dua sekaligus di perut aku," ucap Vera dengan terharu.
"Jangan pernah meremehkan kekuatan seorang berondong, Sayang. Lihatkan sekali nyerang langsung gol," ucap Dirga dengan bangga yang membuat Vera mengangguk dengan terkekeh lucu dengan takdirnya yang menikah dengan seorang berondong.
Ia belajar dari pengalamannya sendiri yaitu yang tua belum tentu membuat kita bahagia justru yang lebih muda lah yang mampu memahami kita. Bahkan sikapnya lebih dewasa dan sangat bertanggungjawab yaitu suaminya sekarang.
"Kita lanjutkan senamnya di dalam kamar mandi!" ucap Dirga dengan bergairah.