
...Happy reading...
***
Bagaimanapun semua keluarga melarang Ika untuk pergi ke Medan karena merasa kesehatan Ika belum sepenuhnya membaik ternyata tidak bisa meruntuhkan keiinginan Ika tersebut. Ika merasa satu minggu di rumah sakit dan satu minggu di rumah sudah membuat dirinya membaik. Akhirnya pagi ini semua keluarga mengantar Ika ke bandara dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan dengan gampang terlebih Leo dan Saera, mereka memang sering ditinggal anak mereka untuk meraih pendidikan ataupun bekerja tetapi kali ini keduanya yang berperan sebagai orang tua itu merasa berat melepas anak perempuan mereka terbang ke pulau Sumatra.
"Kamu hati-hati. Jika sudah sampai segera hubungi Bunda dan ayah," ucap Saera dengan lirih.
"Iya, Bunda Sayang," ucap Ika dengan tersenyum memeluk wanita yang sudah melahirkan dirinya.
"Jaga diri baik-baik di sana!" ucap Leo dengan tegas menyembunyikan rasa sedihnya di depan anaknya tersebut.
Ika memeluk Leo dengan sangat erat. Leo adalah cinta pertamanya yang sudah membuat dirinya sekuat ini untuk menjalani kehidupan yang menurutnya sama sekali tidak adil.
"Kak, lo yakin mau ninggalin gue?" ucap Ica yang sudah berderai air mata.
"Cengeng lo! Biasanya juga gue tinggal sampai bertahun-tahun gak apa-apa," sindir Ika membuat Ica semakin terisak. Memang benar yang dikatakan sang kembaran tetapi untuk kali ini Ica tidak bisa memendung tangisannya yang membuat sang suami harus menenangkannya dengan ekstra.
"Mas!" ucap Ika dengan lirih. Ia masuk kepelukan Leon dengan erat saat lelaki itu merentangkan tangannya.
"Nanti kalau udah sampai Bandara Kualanamu ada karyawan Mas yang jemput kamu. Namanya Ranti, Ibu Ranti yang akan mengantar kamu ke rumah yang sudah Mas beli di sana untuk tempat tinggal kamu. Rumahnya emang gak sebesar rumah ayah atau rumah Mas tapi sangat nyaman. Jaga diri baik-baik, Mas percaya sama kamu!" ucap Leon dengan tegas.
"Terima kasih, Mas," ucap Ika dengan terharu.
Setelah itu ia memeluk kakak tertuanya yaitu Ulan yang usianya tidak jauh dari sang bunda mereka hanya beda setahun tetapi Ulan masih sangat cantik seperti bundanya. "Kalau sudah sampai kabari Kakak. Sering-sering hubungi papa dan bunda agar mereka gak khawatir karena kamu sendiri di sana. Jika libur cepatlah pulang," ucap Ulan yang diangguki oleh Ika.
"Tuh pesawat kamu sudah mau terbang," ucap Laura. Akhirnya Ika memeluk anggota keluarga dengan erat sebagai salam perpisahan sementara yang mereka lakukan.
"IKA!"
"IKA!"
Ika sangat terkejut dengan panggilan dua orang yang secara bersamaan. Rama dan Zico mendekat ke arahnya, Leon imgin sekali mencegah mereka tetapi tidak ingin membuat keributan di bandara.
Kedua napas lelaki itu terlihat terengah-engah karena mereka terburu-buru pergi ke bandara karena baru saja megetahui tentang kepergian Ika.
"Gue pergi ya. Jangan susul gue!" ucap Ika dengan tegas.
"Tega banget lo!" sentak Zico dengan sinis tetapi Ika hanya terkekeh.
"I-ika, aku bisa peluk kamu?" tanya Rama dengan lirih. Ika mengangguk dan dengan cepat Rama memeluk Ika dengan erat.
"Aku akan nunggu kamu sampai kapanpun," bisik Rama dengan mata yang memerah.
"Jangan! Berbahagialah bersama Kirana. Gadis itu tak sepenuhnya bersalah, aku ikhlas melepas Mas Rama," ucap Ika dengan tegas. Ika sudah melepaskan Kirana dari penjara seminggu yang lalu setelah bernegosiasi dengan Leon.
"Kamu bisa! buktinya kamu mencintai Kirana sangat lama. Tak mungkin rasa cinta itu hilang begitu saja," ucap Ika yang membuat hati Rama begitu sakit.
"Ika, sebentar lagi pesawat akan berangkat!" tegur Leon saat Ika terus berbicara kepada Rama maupun Zico. Kedua lelaki yamg sangat mencintai Ika itu terpaksa harus melepaskan Ika.
"Aku pergi!"
Tatapan keduanya kosong saat Ika berjalan masuk ke dalam pesawat. Mereka terus melihat ke arah Ika sampai pesawat tersebut sudah mengudara di atas, terbang membawa separuh jiwa mereka.
Apa bisa Rama kembali kepada Kirana karena hatinya sudah dipenuhi oleh nama Ika?
Dan...
Apa bisa Zico mencintai orang baru karena dua kali ia gagal menjalin cinta?
Ada rasa sesak yang menghimpit dua dada pria tampan itu. Entah sampai kapan hati mereka akan kosong dibawa oleh Ika tanpa permisi.
****
Rama sampai ke apartemennya dengan lelah. Apartemen ini sudah ia jual kemarin dengan harga fantastis, semua barang-barangnya juga sudah ia masukkan ke dalam koper, mobilnya juga sudah ia jual, hanya rumah yang tersisa. Rumah itu akan ia sewakan untuk menyambung hidupnya nanti. Walau uang yang ia dapatkan tidak sebanding dengan gajinya di restoran, Rama masih bisa bersyukur karena Leon masih berbaik hati kepadanya untuk tidak mengambil barang-barang mewah yang sebagian Leon berikan karena kerja keras Rama sendiri.
Uang yang ia punya untuk saat ini bisa untuk membuka usaha baru Rama di kampung nanti. Ya, Rama memutuskan untuk pulang kampung karena desakan keluarga Kirana, entah apa jadinya jika ia pulang nanti. Apakah dirinya akan terus dinikahkan oleh Kirana? Sebab kejahatannya pasti menuai luka untuk calon mertuanya, tetapi Rama tidak tahu kedua orang tua Kirana tetap ngebet ingin Rama menikahi anaknya. Rama seperti merasa ada yang ganjal dengan kedua orang tua Kirana. Tapi apa?
"Arghh.... Saya tidak bisa seperti ini Ika! Saya ingin menyusul kamu!" teriak Rama dengan keras.
Tetapi lagi dan lagi desakan dari kedua orang tua Kirana membuat Rama mau tak mau harus pulang. Masih ingat di otak Rama saat bapak Kirana menelepon dirinya sehari sesudah Kirana dibebaskan.
"Bapak tidak habis pikir dengan kamu, Rama! Sejak kecil kamu sudah Bapak besarkan dengan kasih sayang. Ini balasan kamu? Membuat keluarga Bapak malu hingga kamu memghamili wanita lain sampai Kirana di penjara? Kedua orang tua kamu sudah menititipkan kamu kepada kami sejak kecil, lalu ini balasan kamu? Bapak kecewa sama kamu. Kamu harus tetap menikahi Kirana karena Bapak tidak ingin mendengar gunjingan tetangga jika kalian batal menikah. Anggap saja ini sebagai balas budi kamu kepada kami!"
****
Gimana dengan part ini?
Greget?
Aduh bang Rama galau🤭🤭🤭
Jangan lupa ramaikan lagi ya.
Gak rame gak semangat.
Sedekahnya jangan lupa. Like, vote, coment di tunggu ya.