
...Hati-hati part akhor buat anu wkwk. Jangan lupa ramein yak....
...Happy reading...
***
Sudah seminggu ini Dirga sibuk dengan tugas kuliah maupun pekerjaannya di kantor sang ayah hingga Dirga tak punya waktu untuk bertemu dengan Vera, ia akan membuktikan kepada ayah, bunda, serta papa dan mamanya jika ia bisa melakukan pekerjaan kantor dan bisa bertanggungjawab kepada Vera.
"Gimana mau menyerah?" tanya Zico dengan mengejek anak sulungnya dari Laura.
Dirga mendengkus mendengar pertanyaan papanya, padahal lelaki paruh baya yang dulunya adalah cassanova sejati berubah menjadi suami takut istri bahkan sangat bucin kepada mama tirinya.
"Dirga gak akan menyerah, Pa!" jawab Dirga dengan dingin.
Zico terkekeh menatap lucu kepada anaknya yang seminggu ini sangat serius dalam bekerja seperti yang Leon katakan padanya.
"Lihatlah bocah dingin itu bekerja tidak tahu waktu karena ingin menikahi seorang janda," ucap Leon dengan terkekeh.
"Emang janda lebih menggoda untuk seorang brondong muda," ujar Zico dengan terkekeh yang membuat Leon tertawa kecil.
Keduanya menjalin hubungan baik demi Dirga setelah dulu mereka perang dingin karena Laura.
"Ini ajaran Ayah juga," ucap Dirga membuat Leon terbatuk dan Zico tertawa dengan kencang memegang perutnya.
"Hahaha....benar sekali Dirga. Kamu tahu tidak cara ayah kamu mendapatkan bunda kamu seperti apa?" ucap Zico dengan tertawa.
"Seperti apa Pa?" tanya Dirga dengan penasaran.
"Seperti...."
"Sebaiknya kamu pulang Zico!" usir Leon dengan datar.
"Santai men!" ejek Zico dengan meredakan tawanya.
Leon menatap tajam ke arah Zico. Seakan mengancam lelaki paruh baya itu agar Zico tidak membocorkan kelakukannya dulu kepada Dirga.
"Hehe...baiklah Papa pulang dulu ya. Mau dibikinin adek lagi gak?" tanya Zico dengan menaik turunkan alisnya.
"Pa ingat umur!" peringat Dirga.
"Nanti Dirga yang kasih papa dan ayah cucu yang lucu," lanjut Dirga yang membuat kedua lelaki paruh baya itu tercengang.
"Pekerjaan Dirga sudah selesai. Dirga pamit mau pergi dulu Yah, Pa!" ucap Dirga dengan tersenyum kecil melihat kedua orang tuanya yang masih tercengang.
"Dirga kamu tidak menyicil cucu buat kami, kan?" teriak Leon dan Zico bersamaan.
"Tergantung ayah dan papa mau cucu cepat atau tidak!" jawab Dirga sedikit berteriak.
"Yak Dirga jangan macam-macam!" teriak Leon dengan kesal.
"Hanya satu macam Yah!" jawab Dirga dengan santai.
"Astaga anak itu!"
****
Vera terlihat uring-uringan semenjak seminggu ini karena Dirga sama sekali tak menghubunginya. Ada apa dengan lelaki itu? Apa Dirga sengaja meninggalkannya sesudah mendapatkan apa yang lelaki itu mau? Vera meninju bantal sofa yang ia peluk sejak tadi.
"Semua lelaki sama saja!" teriak Vera dengan kesal. Vera menggigit bantal tersebut dengan kencang. Kenapa ia harus merasa rindu dengan Dirga?
"Arghhh...menyebalkan! Kenapa aku harus merasakan rasa ini lagi?" ucap Vera dengan kesal.
Ting..tong...
Vera menghentikan tinjuannya pada bantal sofa yang menjadi tempat pelampiasannya saat mendengar bel rumahnya berbunyi. "Sebentar!" teriak Vera dengan keras.
"Siapa sih? Ganggu banget!" gumam Vera dengan sebal.
Vera berjalan ke arah pintu. Ia membukanya dengan memasang raut wajah sebalnya. Tubuhnya mematung saat melihat seseorang yang ia rindukan berada di depannya dengan memasang senyuman tanpa dosa.
"Dirga," gumam Vera pelan.
"Halo Tante kenapa diam saja? Kami berdua mau masuk nih!" ucap Virgo yang membuat Vera tersadar akan terkejutannya.
"Ooo a-yo masuk!" ucap Vera dengan kikuk saat Dirga menatapnya dengan tajam seperti akan menerkamnya sekarang.
"Ayo Dirga anggap saja rumah sendiri," ucap Vergo dengan terkekeh membuat Vera mendengkus ke arah keponakannya yang tak tahu diri itu.
Dirga hanya diam. Matanya tetap mengawasi kekasihnya yang sudah sangat ia rindukan itu. Jika tidak ingin membuktikan kepada orang tuanya Dirga akan menemui Vera sejak kemarin-kemarin.
"Tante buatkan minum dulu," ucap Vera mencoba menghindar dari tatapan Dirga yang membuatnya merinding.
"Iya!"
Setelah kepergian Vera ke dapur. Virgo menatap Dirga yang terlihat aneh. "Lo kenapa?" tanya Virgo dengan menautkan kedua alisnya.
"Gue kebelet mau ke kamar mandi. Di dapur ada kamar mandi, kan?" alibi Dirga padahal ia ingin menemui Vera di dapur.
"Ada. Lo tinggal tanya sama tante gue!" jawab Virgo dengan santai.
"Oke!"
Dirga langsung berjalan ke arah dapur. Ia menyeringai ketika melihat Vera berada di sana.
Grep...
"Aku merindukanmu!" bisik Dirga dengan pelan dan memeluk Vera dari belakang.
"Kya....lepas!" ucap Vera dengan geram.
"Sssttt kecilkan suaramu, Sayang. Virgo bisa mendengar teriakan kamu," bisik Dirga yang masih memeluk Vera dari belakang.
"Lepas Dirga!" ucap Vera dengan kesal padahal ia merasa sangat bahagia melihat Dirga berada di rumahnya.
"Tidak akan Sayang. Aku sudah sangat merindukanmu," ucap Dirga dengan mencium tengkuk Vera yang membuat wanita itu meremang.
"D-dirga jangan macam-macam!" ucap Vera dengan menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara desahannya karena ulah Dirga.
Dirga membalikkan tubuh Vera menjadi menghadap ke arahnya. "Maafkan aku yang tidak mengabarimu seminggu ini. Itu karena aku sedang membuktikan kepada orang tuaku jika aku bisa menikahimu secepatnya dengan bekerja di perusahaan ayah," ucap Dirga menjelaskan semuanya. Ia tahu jika Vera sedang kesal dengannya.
"K-kamu kuliah sambil bekerja?" tanya Vera dengan lirih.
Dirga mengangguk. "Semua demi kamu," jawab Dirga dengan serius membuat Vera tersentuh.
Dirga menarik tangan Vera yang membuat wanita itu sedikit terkejut karena Dirga membawanya ke dalam kamar mandi.
"Mau ngapain bawa aku ke sini?" tanya Vera dengan bingung.
"Aku mau kamu!" bisik Dirga dengan sensual yang membuat Vera merinding.
Cup....
Dirga mengecup bibir Vera dengan lembut. Vera membalas ciuman Dirga, ia juga merindukan lelaki tampan ini. Ciuman Dirga semakin menuntut membuat Vera tidak bisa menahan suara desahannya kembali.
"Ahhh..."
"Jangan keras-keras Sayang nanti Virgo bisa curiga. Kita main cepat!" bisik Dirga dengan berat.
Vera mengangguk. Miliknya sudah berkedut kareba ulah Dirga, bahkan lelaki itu dengan cepat melepas benda segitiga yang menutup kue lapis legit miliknya. Setelah itu Dirga melepaskan celananya sendiri hanya turun sampai lutut, ia menghimpit tubuh Vera dan mengangkat kaki Vera agar bertumpu di pahanya.
"Ahhhh..." keduanya mendesah dengan lirih kala Dirga kembali menyatukan miliknya ke milik Vera.
Vera memeluk leher Dirga, ia berusaha menahan suara rintihannya kala Dirga terus bergerak maju mundur yang membuatnya merasa Nikmat.
"Lebih cepat Dirga!" ucap Vera dengan lirih.
"Dengan senang hati Sayang!" ujar Dirga dengan semangat.
"Ahhhh..."
Dirga membungkam bibir Vera dengan ciuman panasnya, ia tidak mau Virgo curiga dengan suara desah*n Vera. Ia terus bergerak dengan cepat memasuki Vera hingga keduanya mendapat pelepasan bersama.
Vera merasa rahimnya hangat sekarang karena cairan Dirga memenuhi rahimnya. Ia merasa lemas bahkan ia tak mempedulikan ketika Dirga membersihkan area sensitifnya dengan tisu saat cairannya mengalir dari pahanya. Bahkan Dirga yang memakaikan celananya kembali, tubuhnya sangat lemas bahkan tulangnya seperti jeli.
"Terima kasih jamuan rindunya Sayang. Sebenarnya aku masih mau lagi tetapi ada Virgo di sini," gumam Dirga dengan mencium kening Vera lembut.
"Masih bisa jalan?" tanya Dirga dengan cemas saat napas Vera tidak beraturan sedangkan kakinya tidak bisa berpijak dengan benar jika tidak Dirga masih memeluknya sekarang.
"Beri aku waktu Dirga. Kamu keluar duluan biar Virgo tidak curiga, bawa sekalian minuman yang sudah aku buat tadi. Bilang saja jika aku sedang sakit perut jika dia bertanya aku di mana," jawab Vera dengan lemas.
Dirga menggendong Vera dan menundukkan Vera di closet. "Aku keluar duluan ya. Kalau ada apa-apa panggil aku," ucap Dirga dengan cemas.
"Iya bawel. Aku begini karena kamu!" ucap Vera dengan kesal membuat Dirga terkekeh.
"Tapi kamu ketagihan, kan?" tanya Dirga dengan jahil.
"Dirga!!! Keluar sana keburu Virgo curiga!" usir Vera.
"Iya Sayangku!"