Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~108 (Awan Mendung)



...Happy reading...


****


"Ayah!"


"Mas Leo!"


"Ayah!"


"AYAH!"


"BANGUN!"


Saera berteriak dengan kencang saat tak ada respon dari suaminya. Suaminya tetap dalam keadaan tenang dan mata tertutup bahkan tubuhnya juga sangat dingin. Otak Saera seakan kosong, ia mengguncang lengan suaminya dengan keras.


"AYAH! GAK LUCU BERCANDANYA!" teriak Saera hingga satu persatu air matanya jatuh, hatinya sangat takut dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada akan terjadi di pikirannya sekarang.


"Bunda hiduplah dengan baik ya. Ayah selalu menyayangi dan mencintai Bunda!"


Ucapan Leo kembali lagi tergiang di pikirannya saat semalam Leo terus mengucapkan kata itu berulang kali hingga mereka terlelap dengan saling memeluk satu sama lain.


"Gak! Ayah bohong! Ayah gak mungkin ninggalin Bunda sendirian!" ucap Saera dengan lirih.


"Ayah!"


"Mas Leo!"


Saera frustasi karena Leo tak kunjung merespon panggilannya. Hatinya sudah teramat takut sekarang, dengan perasaan yang tidak tenang dan berjalan dengan gontai Saera keluar dari kamarnya, ia mencoba meminta bantuan pada semua anaknya. Siapa tahu saja Leo mau bangun jika anak-anak mereka yang memanggil.


"Sultan!" panggil Saera dengan lirih saat melihat menantunya berjalan ke arah kamarnya dengan Ika dengan balutan baju koko dan sarung yang ia pakai, sepertinya Sultan baru pulang dari masjid seorang diri.


Sultan melihat ke arah ibu mertuanya dengan pandangan bingung karena air mata Saera tak kunjung berhenti saat menatapnya.


"Ada apa Bunda? Kenapa Bunda menangis?" tanya Sultan dengan tak enak. Pikirannya langsung tertuju pada Leo dan ingatannya kembali pada obrolannya dengan Leo kemarin bahwa ia harus menjaga Ika dengan sangat baik, entahlah Sultan merasa akan ada firasat buruk terhadap ayah mertuanya tersebut.


"Ayah gak bangun-bangun. Coba kamu bujuk ayah supaya bangun! Bunda, bunda udah coba buat bangunin ayah tapi ayah gak respon padahal Bunda mau ajak sholat subuh berjamaah. Tolong bangunkan ayah, Sultan. Hiks..." ucap Saera dengan sesugukan mengundang semua anaknya untuk keluar kamar. Mereka semua menatap Saera dan Sultan dengan bingung.


Dengan perasaan was-was Sultan berjalan cepat memasuki kamar mertuanya setelah meminta izin terlebih dahulu. Dengan perasaan yang tenang walau dalam hatinya tak karuan Sultan mengecek keadaan ayah mertuanya yang terlihat tidur dengan damai. Semua yang berada di sana tercekad melihat sang ayah.


"Ayah kenapa?"


"Papa kenapa?"


Leo dan Ulan bertanya secara serentak napas mereka seakan berhenti begitu saja saat melihat Sultan yang terlihat sedih.


Sultan menatap semua anggota keluarganya dengan perasaan hampa. Ia menggelengkan kepalanya membuat semua orang berpikir buruk. "Ayah sudah gak ada," gumam Sultan dengan lirih.


"Maksud Bang Sultan apa?" ucap Ika dengan bibir gemetar.


"A-ayah, ayah Leo sudah meninggal!" gumam Sultan dengan lirih.


Jederrr....


"Ayah!"


"Kakek!"


Semua berteriak histeris memanggil Leo dengan keras. Saera pingsan setelah mengetahui suaminya telah meninggalkannya, bahkan Saera tidak tahu kepergiaan suaminya sama sekali. Leo seperti orang yang tertidur dengan lelap. Leon membantu ibunya yang pingsan dan dibaringkan di samping ayahnya, ia tak tahu harus berbuat apa yang jelas hatinya kehilangan dengan perasaan yang terluka. Semua anak Leo menangis termasuk cucu-cucunya. Ika yang biasanya paling terlihat tenang bahkan saat ini lenih histeris dibandingkan saudaranya yang lain.


Sultan memeluk Ika yang terlihat histeris, Ika terlihat sangat tergoncang dengan kepergiaan Leo terlihat dari sorot matanya yang kosong.


"Tolong kalian jangan menangis seperti ini kasihan ayah. Ayah sudah tenang di sana!" ucap Sultan dengan lembut kepada semua anggota keluarganya.


"A-ayah gak mungkin pergi!"


"AYAH GAK MUNGKIN MENINGGALKAN IKA!"


"AYAH.. hiks... hiks..."


Sultan menenangkan sang istri yang terlihat memberontak di pelukannya. "Dek, jangan seperti ini kasihan ayah," gumam Sultan dengan lirih. Tak terasa air matanya menetes saat melihat Ika yang terluka.


"Bang. Ayah, ayah pergi ninggalin Ika!" ucap Ika dengan sesugukan.


"Kamu boleh cium ayah untuk terakhir kalinya tapi jangan sampai air mata kamu mengenai wajah ayah apalagi mata ayah. Hapus dulu air mata kamu," gumam Sultan dengan lembut.


Ika masih sesugukan dengan air mata yang mengalir dengan deras, semua orang sama seperti dirinya. Dengan dibantu oleh Sultan, ika mendekat ke arah ayahnya.


Ika mengelus wajah ayahnya dengan tangan gemetar bibirnya terkatup dengan rapat saat melihat wajah Leo yang sangat damai walau wajahnya sangat pucat.


Cup....


"I-ika sayang ayah!" gumam Ika berbisik di telinga Leo dan setelah itu ia merasa tubuhnya sangat lemas dan...


Brukkk...


"IKA!"


****


Papan ucapan duka cita memenuhi pemakaman saat tubuh kaku Leo yang sudah terbungkus kain kafan di turunkan. Semua orang merasa kehilangan sosok Leo yang dulu terkenal dengan dingin dan tegas seperti Leon.


Rintik-rintik hujan sudah mulai menyapa dan awan terlihat sangat mendung sekali hari seperti keluarga Brawijaya yang telah kehilangan panutan mereka untuk selama-lamanya, berulang kali Ika dan Saera pingsan saat mengetahui kenyataan bahwa Leo benar-benar pergi dari kehidupan mereka.


"Jangan ditimbun tanah ayahku! Nanti dia kesakitan. Tolong jangan!" ucap Ica dengan menangis, perutnya yang sudah membesar tidak membuat pergerakannya mudah.


"Sayang," panggil Ryan dengan lirih.


"Mas katakan sama mereka! Katakan sama mas Leon dan bang Sultan jangan timbun ayah. Kasihan ayah, Mas. Ica mohon! Jangan lakukan itu hiks...."


"Ica gak mau bunda sedih kalau pisah dari ayah, Mas! Tolong Ica, bawa ayah pulang!" ucap Ica dengan menangis.


"Sayang, sabar ya. Jangan seperti ini," gumam Ryan dengan lembut.


Ica kembali ke alam sadarnya jika sang ayah benar-benar sudah tiada. Ica memeluk Ryan dengan sangat erat. "Ayah beneran tinggalin Ica!" gumam Ica dengan lirih membuat hati Ryan sakit. Yang hanya bisa ia lakukan adalah menguatkan istrinya agar tak tergunjang yang bisa membahayakan kandungannya.


"Selamat jalan ayah. Semoga ayah bahagia di sana, Ica akan selalu merindukan ayah!"


"Ayah, Ika berharap ini adalah sebuah mimpi tetapi ini kenyataan yang harus Ika terima. Berbahagialah ayah. Walaupun Ika sangat kehilangan ayah tetapi Ika yakin ayah lebih bahagia di sana karena bertemu dengan mama."


"Ayah, Leon belum bisa menjadi lelaki yang bertanggungjawab seperti ayah. Kenapa ayah cepat sekali pergi? Bahagialah di sana ayah. Pasti kita akan berjumpa kembali jika waktunya sudah tiba."


"Pa, Ulan merasa baru mendapatkan kasih sayang papa. Ulan merasa baru sebentar kita baikan. Kenapa papa dan mama secepat ini meninggalkan Ulan. Apa kalian ingin cepat-cepat meninggalkanku? Ulan sayang papa dan mama! Pasti papa senangnya sudah berjumpa dengan mama. Sampaikan salam rindu dari Ulan untuk mama ya, pa!"


"Mas Leo terima kasih 30 tahunnya. Selama itu aku sudah merasa bahagia dengan kehadiranmu di sisiku. Sampaikan terima kasihku juga pada mbak Adinda, jika sudah waktunya tiba kita pasti akan bersama-sama kembali. Aku mencintaimu Mas dan aku sudah memaafkan semua kesalahanmu. Bahagialah di sana sayang karena kamu telah bertemu dengan bidadarimu selain aku. Tunggu aku ya, Sayang!"


****


Part tersedih di cerita ini!


Gimana dengan part ini?


Jangan lupa like, vote, dan coment ya!


Yok Ramein yok!