Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~61 (Morning Sickness)



...Happy reading...


****


Berbeda dengan hari biasanya Laura yang mengalami morning sickness maka pagi ini setelah mereka dua hari menjadi sepasang suami istri bergantian Leon yang mengalami morning sickness hingga lelaki itu lemas terlebih maag yang dideritanya membuat Leon semakin tak berdaya.


"Uwekkk..."


"Uwekkk..."


"Kita ke dokter aja ya, Mas!" ucap Laura dengan khawatir saat ia memijit tengkuk suaminya yang berusaha mengeluarkan cairan yang selalu membuat perutnya bergejolak.


"Aku gak apa-apa, Sayang! Jangan khawatir ya. Twins mau kita bergantian merasakan ini," jawab Leon dengan lembut mengelus pipi istrinya yang terlihat sangat mengkhawatirkannya.


"Tapi maag Mas nanti kambuh lagi. Perut Mas kosong," ucap Laura dengan mata yang berkaca-kaca.


"Obat maag dari dokter masih ada. Jangan khawatir, Sayang! Sekarang bantu Mas berjalan ke kasur," ucap Leon dengan lembut.


Laura mengangguk dan membantu Leon berjalan yang terlihat lemas sekali. Leon membaringkan tubuhnya dengan dibantu oleh Laura, wanita itu memakaikan selimut ke suaminya dengan perlahan.


"Aku buatin teh hangat ya, Mas," ucap Laura dengan mengelus rambut suaminya dengan sayang.


"Teh pahit saja, Sayang. Dirga mana?" ujar Leon dengan memejamkan matanya.


"Main sama ayah Leo dan bunda Saera. Ya udah aku buatin dulu ya," ucap Laura dengan lembut yang diangguki oleh Leon.


"Jangan lama-lama!" ucap Leon dengan manja yang membuat Laura tersenyum dan berlalu keluar kamar untuk membuatkan teh suaminya.


Laura dan Leon masih tinggal bersama dengan kedua orang tua Leon karena permintaan orang tua Leon yang ingin Leon pindah ke rumah sendiri setelah Ica menikah dengan Ryan beberapa minggu lagi. Laura menuruni tangga dengan sangat hati-hati, ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan kandungannya.


"Mbak Ika sedang apa?" tanya Laura saat melihat Ika sedang berada di dapur seorang diri.


Ika tampak terkejut dan mengelus dadanya. "Lagi buat susu aja, Kak. Jangan panggil aku Mbak dong sekarang kan aku adik ipar kak Laura," ucap Ika dengan tersenyum.


"Tapi usia Mbak Ika lebih tua. Gak sopan," ucap Laura dengan tersenyum.


"walaupun aku lebih tua tetap saja kak Laura, kakak ipar aku, istri dari mas Leon," jawab Ika dengan santai.


Laura mengangguk mengerti. Ia langsung mengambil gelas dan teh celup yang ada di lemari. "Susu kamu kok baunya sama ya seperti susu hamil aku?" ucap Laura mengeryit bingung menatap Ika yang sedang meneguk susunya dengan susah payah.


"Hah? Masa, Kak? Ini susu yang biasa aku minum kok," ucap Ika menyembunyikan kegugupannya.


"Ah iya.. Mungkin aku yang salah cium bau susu ya karena sering minum susu hamil," ucap Laura dengan terkekeh.


"Mas Leon kemana?" tanya Ika yang mengalihkan pembicaraan agar Laura tidak terus berkata kehamilan yang membuat dadanya sesak.


"Ada di kamar. Ini aku mau buatkan teh hangat untuk mas Leon. Dua hari ini mas Leon terkena morning sickness bergantian dengan aku," ucap Laura dengan lirih.


"Wah tuh hot ayah bucin sih makanya mual tiap pagi," ucap Ika dengan terkekeh membuat Laura tertawa.


"Ya sudah aku ke kamar dulu ya. Mau kasih teh ini untuk mas Leon," ucap Laura dengan ramah.


Ika mengangguk. "Kak Laura, katakan sama mas Leon jika nanti aku ingin berbicara serius dengannya," ucap Ika dengan tegas.


"Baiklah, nanti aku sampaikan," ucap Laura dengan mengangguk. Pikirannya masih memikirkan Ika yang terlihat sangat pucat pagi ini. Ada apa dengan adik iparnya tersebut? Sangat terasa mengganjal di pikiran Laura karena ia mencium bau susu hamil pada susu yang Ika minum.


Sesampainya di kamar Laura melihat suaminya yang menutup mata dan dengan perlahan Laura membangunkan suaminya. "Mas bangun. Ini tehnya, gak baik tidur pagi-pagi," ucap Laura dengan lembut menegur suaminya.


Leon membuka matanya, ia bangun dan bersandar di kepala ranjang, menerima teh buatan istrinya dengan tersenyum. "Terima kasih, Sayang!" ucap Leon dengan lembut. Ia mulai menyesap teh buatan istrinya dengan perlahan.


"Sama-sama, Mas. Aku pijitin ya," ucap Laura dengan tersenyum dan mulai memijat kaki suaminya dengan perlahan. Leon merasa perhatian Laura membuat hatinya menghangat.


"Pundak juga ya, Sayang. Pegel banget semalam habis olahraga sama kamu," ucap Leon dengan jahil membuat kedua pipi Laura bersemu merah.


"Dasar Tuan mesum!" ucap Laura dengan tajam.


"Tapi suka kan suami yang mesum?!" ucap Leon dengan terkekeh dan diangguki oleh Laura yang semakin membuat Leon tertawa gemas dengan tingkah istrinya.


"Ooo iya Mas. Tadi aku ketemu Ika di dapur katanya dia mau bicara serius dengan Mas," ucap Laura membuat Leon mengeryit penasaran.


"Bicara apa?" tanya Leon.


"Aku gak tahu Mas. Nanti tanyakan saja pada Ika. Tapi aku lihat tadi wajahnya pucat," ucap Laura dengan lirih tetapi tidak mengatakan jika susu yang diminum oleh Ika seperti susu hamil miliknya.


"Ika sakit? Astaga anak itu! Mas belum pernah melihat dia sakit sejak sudah dewasa ketika kecil Ika baru beberapa kali sakit," ucap Leon dengan khawatir.


"Aku lihat wajahnya sangat pucat dan terlihat sedikit sembab. Aku gak berani bertanya takut dia gak nyaman, sebaiknya Mas saja yang bertanya kepada Ika," ucap Laura yang diangguki oleh Leon.


"Sebentar lagi Mas akan ke kamarnya. Kamu jangan sendirian di kamar ya, Sayang. Main sama Dirga sebentar," ucap Leon yang diangguki oleh Laura


***


Ica berjalan mondar- mandir di delan pintu kamar mandi. Ia sangat khawatir yang melihat Ika muntah-muntah sejak tadi setelah kembali dari dapur. Ia ingin mengatakan kepada kedua orang tuanya tetapi Ika selalu mencegahnya alhasil Ica hanya mondar-mandir dengan wajah paniknya.


"Kak, lo sakit? Masa iya lo sakit, Kak?" tanya Ica dengan panik.


"Ya kan lo jarang sakit. Jadi gue heran Kak," ucap Ica membela diri.


"Lo bakal rasain nanti kalau lo sudah nikah!" ucap Ika dengan sinis.


"Lah emang gue kenapa kalau nikah? Jangan takut-takuti gue, Kak. Sebentar lagi gue nikah," ucap Ica dengan polosnya.


"Ya sakitlah di masukin sama burung Ryan yang kata lo itu gede. Bayangin aja tuh burung masuk ke lubang lo yang sempit," ucap Ika menakuti adik kembarnya.


Ica langsung memeluk Ika dengan erat. "Emang beneran sakit ya, Kak? Kok gue jadi takut. Gimana nanti kalau mas Ryan minta itu?" tanya Ica dengan cemas.


"Ya lo kasih lah. Masa iya lo anggurin burung suami lo yang udah beberapa tahun karatan karena lo belum diizinin nikah kalau mas Leon belum nikah," ucap Ika dengan sinis.


"Tapi gue takut," ucap Ica dengan cemas. "Gimana kalau itu burung mas Ryan ganas? Matuk gue?"


Ika menepuk jidatnya. "Lo bayangin aja sendiri deh," ucap Ika dengan kesal. Wajah Ica pucat pasih membayangkan burung Ryan menembus miliknya yang sempit dan Ica merasa ngilu sendiri.


Tok..


Tok..


Ika menatap pintu kamarnya yang diketuk. Ia berjalan dengan perlahan untuk membukakan pintu.


"M-mas Leon," ucap Ika dengan gugup karena Leon begitu menatapnya tajam.


"Silahkan masuk Mas," ucap Ika yang diangguki oleh Leon. Leon melihat adiknya yang satu lagi dan dengan cepat Ica menubruk tubuh Leon hingga lelaki itu terhuyung karena dirinya masih merasa lemas.


"Mas, Ica kangen banget sama Mas Leon. Sekarang Ica gak bisa tidur lagi sama Mas Leon karena sudah ada kak Laura," ucap Ica dengan manja membuat Leon terkekeh dan mengecup kening adiknya yang super manja.


"Sebentar lagi lo nikah, Ca! Gak ingat umur loh ya? Umur udah 27 tahun tapi masih kayak bocah. Kok kak Ryan bisa tahan sih pacaran bertahun-tahun sama lo?" ucap Ika dengan datar.


"Karena gue gemesin. Ya kan Masku Sayang?" ucap Ica dengan manja.


"Sudah kalian kalau berdua selalu saja berantem. Kamu emang gemesin, Ca. Kalian sama-sama gemesin," ucap Leon dengan lembut.


"Tuh dengar, Kak!" ucap Ica memeletkan lidahnya ke arah Ika yang membuat Ika mendengkus.


"Sekarang Ica bisa keluar sebentar? Temani kak Laura di bawah sama bunda, ayah, dan juga Dirga. Mas mau ngomong sama Ika sebentar," ucap Leon dengan tegas.


"Emang mau ngomong apa? Ica gak boleh tahu ya?" tanya Ica dengan sendu.


"Urusan orang dewasa, bocil gak boleh tahu!" ucap Ika dengan meledek.


"Ish.. Nyebelin. Ya udah Ica keluar," ucap Ica dengan kesal.


Setelah kepergian Ica. Leon menatap adiknya dengan cemas. "Tadi kata Laura kamu mau ngomong apa? Kenapa kamu pucat sekali, Ka? Kita ke dokter ya," ucap Leon dengan cemas.


"Aku gak apa-apa, Mas. Cuma rada pusing aja. Iya aku tadi bilang sama kak Laura kalau aku mau ngomong sesuatu dengan Mas," ucap Ika dengan serius.


"Mau ngomong apa?" tanya Leon dengan penasaran.


"Apa perkataan Mas dua bulan lalu masih berlaku?" tanya Ika dengan serius


"Tentang mengurus restoran cabang yang ada di Medan?" ucap Leon menatap ke arah Ika.


Ika mengangguk. "Aku mau mengurus restoran yang ada di sana. Setelah aku pikir-pikir aku juga mau mandiri," ucap Ika dengan mantap.


"Apa yang membuat kamu berubah pikiran? Dua bulan lalu kamu sangat menentangnya?' tanya Leon dengan curiga.


"Seperti yang aku katakan tadi, Mas. Aku mau mandiri. Sepertinya tinggal di pulau Sumatra terlihat menyenangkan," ucap Ika dengan tegas menyembunyikan kegugupannya di depan Leon yang seperti menaruh curiga kepadanya.


"Kamu yakin? Gak ada yang kamu sembunyikan dari Mas?" tanya Leon dengan tajam.


"G-gak ada Mas," ucap Ika dengan gugup.


"Baiklah. Mas akan mengirim kamu ke sana. Kamu kelola restoran itu dengan baik. Sengaja Mas membuka cabang di sana karena tempatnya yang begitu strategis. Jika kamu berhasil mengembangkan restoran tersebut maka restoran itu akan menjadi milik kamu," ucap Leon dengan tegas.


"Yang benar, Mas? Kalau gitu kapan Ika bisa berangkat?" tanya Ika dengan semangat.


"Mas rasa setelah pernikahan Ica saja. Persiapkan semua baik-baik dan pelajari bagaimana teknik pemasaran yang baik di sana. Ingat jangan main-main!" ucap Leon dengan tegas.


"Iya, Mas. Terima kasih," ucap Ika memeluk Leon.


Ika bisa sedikit bernapas lega karena sebentar lagi dirinya akan pergi dari kehidupan Rama. Dan mungkin ini adalah jalan terbaik untuk kehidupannya. "Selamat tinggal mas Rama. Semoga kamu bahagia dengan dirinya," ucap Ika di dalam hati.


****


Pasti ada yang bimbang Ika sama siapa?


Hayo tebak aja ya😆😆😆


Ramein lagi gak nih?


Ramein dengan like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya.