
...Ada satu part lagi ya. Kalau rame bakal up malam. pantengin terus novel ini. Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya....
...Happy reading...
****
Hari ini adalah hari Ihsan dan Cut mengadakan pesta untuk teman-teman mereka atas kebahagiaan yang keduanya dapatkan setelah menikah.
Dio menatap bimbang pada undangan mewah tersebut, ia memegangnya dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan. Lalu Dio teringat akan Ratu, ia akan mengajak gadis itu saja untuk menghadiri pesta pengantin baru tersebut, ingin tidak datang namun Dio tidak mau di cap sebagai teman yang tidak baik apalagi Dio dan Cut adalah rekan kerja.
Dio keluar dari kamarnya untuk ke rumah Ratu yang tidak jauh dari rumahnya, biasanya gadis itu berada di rumah. Dio keluar dari rumahnya dan mengambil motornya, lalu menaiki dan mengendarainya dengan cepat, tak lama kemudian Dio sudah berada di depan rumah Ratu karena memang rumah mereka tidak terlalu jauh. Dengan tidak sabaran Dio memencet bel rumah Ratu.
"Sebentar!" teriak Ratu berdecak kesal pasalnya pembantu di rumah kedua orang tuanya sedang berbelanja kebutuhan dapur karena malam ini di rumahnya akan ada acara makan malam.
"Ck...gue kira lo siapa," ucap Ratu dengan kesal.
Dio menggaruk kepalanya yang tidak gatal menatap Ratu yang terlihat sangat cantik hari ini.
"Kenapa lo?' tanya Ratu saat melihat raut wajah Dio yang terkesan aneh.
"E-enggak. Gue mau ajak lo ke pesta nanti malam bisa?" tanya Dio dengan gugup.
"Nanti malam ya? Gue gak bisa," ucap Ratu dengan santai dan memainkan kuku cantiknya di depan Dio
"Ayolah temani gue!" ucap Dio merengek.
Ratu berdecak kesal. "Gak bisa Dio. Malam ini gue ada makan malam di rumah bersama keluarga Danu," ucap Ratu dengan tersenyum.
"APA? Ada acara apa lo sampai keluarga Danu makan malam di rumah lo?" tanya Dio dengan curiga.
Ratu menatap Dio dengan nyengir kuda, gadis itu sama sekali merasa tidak berdosa karena tidak mengatakan hal sepenting ini pada sahabat yang selalu ia bisa manfaatkan itu. "Malam ini gue sama Danu tunangan dan menentukan tanggal pernikahan kami," ucap Ratu membuat Dio membelalakkan matanya sungguh ia sangat terkejut dengan pengakuan Ratu saat ini.
"Lo benar-benar ya Ratu. Hal sepenting ini lo gak cerita sama gue. Lo anggap gue apa selama ini?" ucap Dio dengan kecewa.
"Lo sahabat gue lah. Menurut gue gak penting amat gue ngomong sama lo," ucap Ratu dengan santai.
Dio menatap Ratu dengan tajam, ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Gue cinta sama lo Ratu! Dan lo sama sekali gak menghargai perasaan gue sedikit pun. Lo datang ke gue hanya di saat lo butuh saja," ucap Dio dengan tajam.
Ratu terkekeh. "Baru sadar lo? Kemana saja selama ini? Iya gue datang ke lo saat gue butuh lo aja," jawab Ratu dengan santai.
"Gue kecewa sama lo! Lo bukan sahabat gue lagi!" ucap Dio penuh kekecewaan.
"Emang selama ini gue anggap lo sahabat? Ya enggak kali," ucap Ratu dengan sinis. "Lebih baik lo pulang deh, gue sama sekali gak cinta sama lo! Gue akan menikah dengan lelaki yang gue cintai," ucap Ratu dengan angkuh.
Bukk...
Dio meninju tembok yang berada di dekat Ratu hingga gadis itu terkejut dan takut melihat kemarahan di wajah Dio tetapi Ratu harus bisa bersikap biasa saja, toh emang selama ini ia tidak tulus bersahabat dengan Dio dan Ratu sudah muak dengan kedekatan mereka karena ia akan menikah dengan Danu, lelaki yang selama ini ia cintai dan tentu saja mencintainya.
"Gue benci lo!" ucap Dio dengan tajam dan langsung meninggalkan Ratu begitu saja. Ratu hanya mengedikkan bahunya tak acuh, lalu ia langsung menutup pintu rumahnya begitu saja tak peduli dengan kemarahan dan kebencian Dio kepadanya.
Sedangkan Dio, lelaki itu begitu marah dengan Ratu karena selama ini ia hanya dimanfaatkan oleh gadis itu, ia pikir Ratu tulus bersahabat dengannya tetapi ternyata tidak gadis cantik itu adalah ular berbisa yang sudah mematuknya tetapi Dio sama sekali tidak sadar. Namun, yang anehnya Dio tidak merasa sakit hati ketika mendengar Ratu akan bertunangan dengan Danu. Bahkan rasa cintanya langsung menguap begitu saja yang tertinggal hanya rasa benci dan kecewanya kepada Ratu.
"Dasar bodoh!" umpat Dio dengan kesal. Ketika sedang seperti ini kenapa dirinya malah teringat akan Cut yang dulu mengejarnya dengan sangat tulus.
Malam nanti Dio akan pergi ke pesta mereka dan entah mengapa Dio merasa sama sekali tidak siap untuk pergi.
****
Malam ini di gedung hotel milik Leon. Ihsan dan Cut bagaikan seorang pangeran dan putri kerajaan membuat para tamu undangan terpukau dengan ketampanan dan kecantikan dua pengantin baru tersebut.
Kue pernikahan yang seperti istana tersebut sudah diletakkan dengan megah di sana. Keduanya tersenyum bahagia walau kedua orang tua Cut tidak bisa datang menyaksikan kebahagiaan untuk kesekian kalinya dari Cut dan juga Ihsan.
Ketika semuanya sudah berkumpul. Ihsan menggandeng istrinya setelah mc menyuruhnya untuk memberikan kata sambutan.
"Selamat malam semuanya. Terima kasih sudah datang ke acara bahagia kami malam ini, malam ini saya ingin membagikan kebahagiaan yang saya rasakan karena bisa menikahi gadis cantik yang berada di samping saya. Saya sangat bersyukur ketika gadis cantik ini mau menerima lamaran saya walau saat itu dia memberikan waktu yang lumayan lama untuk menetapkan hatinya pada satu lelaki yaitu saya. Untuk menambah kebahagiaan hari ini kita akan berdansa bersama dengan pasangan masing-masing," ucap Ihsan dengan tersenyum.
Sorak bahagia terdengar dari tamu undangan tetapi tidak dengan Dio dan juga Bryan. Dua lelaki itu menatap kedua pengantin dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.
"Rasa masih sangat sakit bahkan sangat menyesakkan," gumam Bryan menekan dadanya.
Dio mendengkus mendengar ucapan temannya. Ia meminum minuman yang berada di gelas miliknya dengan cepat. Suasana gedung ini terasa panas saat melihat Ihsan dan Cut berdansa dengan mesra seperti pangeran dan putri di negeri dongeng.
"Panas banget!" gumam Dio mengibaskan tangannya.
"Cantik banget Cut malam ini. Tapi sayang istri orang," gumam Bryan dengan sendu.
Ucapan Bryan menambah panas di hati Dio. Semua orang sedang berdansa tetapi kedua lelaki ini sama sekali tidak membawa pasangan membuat keduanya terlihat menyedihkan.
Sedangkan Ihsan dan Cut terlihat sangat bahagia. Mereka berdansa dengan indah hingga Ihsan memberanikan mencium kenimg istrinya di depan baru tamu. sebagian perempuan yang berada di sana berteriak histeris karena merasa baper.
"Aaa pengin dicium juga."
"Masih ada gak ya lelaki seperti suami Cut?"
"Sisakan satu seperti bang Ihsan, Ya Allah."
"Ganteng banget suami orang."
"Cut cantik banget cocok sama bang Ihsan."
Suara-suara itu membuat Dio semakin kesal. Ia merasa tidak tahan berada di tempat yang seperti neraka untuk hatinya saat ini. Tetapi Dio tidak bisa pergi begitu saja karena pesta malam ini belum usai.
"Dansa sudah selesai. Kita dibuat baper oleh pasangan pengantin baru ya, dunia terasa milik berdua kita di sini seperti manusia yang tak kasat mata. Duh saya sebagai mc ingin segera menikah juga nih. Oke... Setelah dansa yang membuat kita berbaper ria sekarang kita saksikan kedua pengantin memotong gue pernikahan mereka," ucap mc dengan heboh.
Suara teriakan terdengar sangat riuh saat Ihsan dan Cut memegang pisau panjang seperti pedang untuk mrmotong kue yang ringgi tersebut dan di desain seperti istana.
"I love you istriku. Semoga kita selalu bersama sampai maut memisahkan kita," ucap Ihsan dengan tulus membuat Cut dan para tamu undangan meleleh mendengarnya.
"I love you suamiku. Terima kasih sudah mencintaiku dengan sangat tulus," balas Cut tak kalah mesranya.
Kemesraan keduanya tak luput dari pandangan Dio. lelaki itu sama sekali enggan mendekat ke arah Cut dan Ihsan. Dio memejamkan matanya dengan erat dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Kenapa menyesakkan sekali?" gumam Dio dengan lirih.